Bab XXXVI

945 28 0
                                        

Di ruang kerja amera, kini nolan duduk berhadapan dengan wanita tersebut. Bahkan ia masih diam tak mengucapkan sepenggal kata pun, ia hanya ingin mendengar perkataan amera saja. Karena pagi ini amera menyuruh nya datang ke ruangan nya secara pribadi.

"Sebenarnya aku meminta mu datang karena ada yang ingin ku katakan padamu," ucap amera bersedekap di atas meja. Pandangan nya bahkan tidak teralihkan dari pria yang berada di hadapannya.

"Ada apa?" Nolan begitu penasaran ingin tahu dengan apa yang amera ingin katakan.

"Kerja sama kita kini telah berakhir, maka dengan begitu aku ingin kita tak pernah lagi bertemu. Anggap lah aku orang yang tak pernah kau kenal, nolan."

Seperti kata amera, kerja sama antara kedua nya kini telah berakhir. Kini ia bisa bernapas lega, setidaknya ia tidak akan lagi bertemu dengan nolan di kantor nya. Itu lah yang ia inginkan.

"Jadi kau begitu ingin aku pergi?"

"Maaf nolan, tapi bagaimana pun hubungan kita itu sudah lama berakhir. Aku juga tidak bisa kembali pada mu. Jadi ku mohon, biarkan aku memilih kebahagiaan ku sendiri."

Nolan terdiam sesaat, ia masih belum terima dengan perkataan amera barusan. Rasa nya begitu sakit kala mendengar nya. Mungkin memang benar yang di katakan amera tadi, mungkin hubungan mereka sudah benar-benar berakhir disaat kepergian nya dulu. Penyesalan memang selalu datang di akhir.

"Kau bahagia dengan nya?" Tanya nolan dengan penasaran, jika memang amera berbahagia dengan cesar maka ia sudah siap untuk melepaskan wanita itu dari sekarang. Sudah tidak ada lagi harapan pada hubungan kedua nya.

Amera mendengus kasar. "Aku hanya tidak ingin hidup di masalalu, dan ku harap kau juga begitu, nolan. Jangan terjebak di masalalu, kau mungkin bisa menemukan kebahagiaan lain nya di luar sana. Ada banyak wanita di luar sana yang bahkan melebihi diri ku."

Mungkin jika di tanya bahagia atau tidak, amera tidak begitu bahagia. Tapi jujur saja, setelah cesar berkata bahwa ia ingin berubah rasa nya ia pun ingin membuka lembaran baru bersama cesar. Tentu semua orang punya kesempatan kedua untuk memperbaiki kesalahan, bahkan tuhan saja memberikan hamba nya kesempatan, lalu kenapa amera malah tidak melakukan nya, dia tidak berhak melakukan nya. Biar lah tuhan yang menghakimi hambanya sendiri.

Senyuman nolan seketika timbul di raut wajah nya, walaupun amera yakin bahwa nolan belum bisa menerima nya. Tapi mau bagaimana lagi, keputusan nya ini sudah benar-benar bulat. Ia sudah tidak ingin bersama kembali dengan nolan, kehidupan nya dan kehidupan nolan kini sudah berbeda.

"Kalau menurut mu itu yang terbaik, ya sudah tidak apa-apa. Aku hanya berharap bahwa kau bahagia, memang saat itu aku yang salah. Aku meninggalkan mu tanpa memberi kabar terlebih dulu, aku sungguh minta maaf untuk segala nya. Dan aku pun juga tidak akan muncul kembali di hadapan mu, aku putuskan bahwa aku akan pulang ke belanda," ucap nolan dengan tersenyum kepada amera, manik matanya seolah bergetar hebat namun berusaha untuk bersikap setenang mungkin.

Amera sama sekali tidak benar-benar bermaksud untuk mengusir nolan ataupun menyuruh pergi. Ia hanya mencoba mengancam saja, tapi justru ia terkejut mendengar perkataan nolan secara tiba-tiba.

"Ka-kau ingin pulang ke belanda?" Tanya amera terbata-bata.

"Benar, adik ku seperti nya kesulitan untuk mengurus bisnis ayah ku sendirian disana. Jadi aku akan pulang ke belanda untuk membantu nya." Nolan bangkit dari duduk nya.

Amera menghela napas, wanita jadi merasa bersalah atas ucapan nya tadi. Tidak seharusnya ia mengatakan itu pada nolan. Mungkin saja ucapan nya tadi bisa melukai nolan.

"Jangan memasang wajah seperti itu," timpal nolan terkekeh, lalu ia merogoh saku nya mengambil sebuah kalung berliontin permata biru yang kemudian ia berikan pada amera. Wanita itu terbelalak kaget melihat nya, baru kali ini ia melihat kalung seperti itu, begitu cantik.

his farewell attempt (End)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang