Semilir angin malam di pantai menerpa kulit coklat kedua pria yang kini duduk di atas pasir putih pantai. Ombak terdengar di depan menerpa batu karang dan batuan pinggir. Di langit agak mendung tak terlihat bulan atau pun bintang bercahaya, disana gelap seperti tak berpenghuni.
Sudah dua botol alkohol Cesar habiskan hingga botol nya tergeletak sembarangan di tanah. Bahkan satu botol alkohol ia pegang dengan erat yang isi nya tinggal setengah.
"Kenapa kau bawa aku kesini?" Tanya Bryan heran sekali ia teguk sedikit alkohol dari botol nya langsung. Matanya memperhatikan Cesar yang kini duduk menatap kosong ke arah laut lepas di depan nya. "Bukankah kau tak suka datang ke tempat seperti ini? Apa kau tak ingat kejadian silam?" Kini pandangan Bryan teralihkan oleh ombak di depan nya.
"Tentu saja aku ingat, karena aku hanya tak ingat dengan tiga tahun silam saja bukan kenangan masa kecil ku. Aku ingat saat aku hampir tenggelam di pantai saat kita berlibur, aku hampir sekarat saat itu. Semenjak kejadian 18 tahun silam aku jadi tak pernah lagi datang ke tempat seperti ini."
Bryan mengangguk pelan seraya ia teguk kembali botol alkohol nya. "Ya...itu hampir membuat kami cemas, tapi beruntung nya kau bisa selamat."
Ia tatap kembali ke depan melihat ombak kecil yang menerjang dan menyapu pasir putih di pinggiran nya. "Tapi kurasa aku mulai suka tempat ini," ucap Cesar hingga tak sadar membuat Bryan menoleh kearah nya.
Bryan tersenyum dan mengelap bibir nya yang nyaris membuat sisa alkohol nya mengalir ke lekuk leher nya. "Sejak kapan? Bukan kah kau bilang kau tak suka dengan pantai?"
"Ya kau benar, tapi saat aku tahu bahwa dia menyukai pantai aku pun tanpa sadar menyukai nya juga. Bahkan aku hampir ingin memberikan nya sebuah pulau, ha... itu gila."
"Maksud mu Amera?"
Cesar mengangguk pelan seraya ia tatap langit mendung seperti hati nya yang kini terselimuti kegelapan. "Pagi ini dia datang menemui ku," ucap Cesar yang kini menatap botol alkohol yang sedang ia pegang erat.
Bryan tak memberi respon terkejut, dia tampak biasa saja karena ia pun juga tahu bahwa pagi ini Amera datang ke kantor Cesar untuk menemui adik nya itu.
"Dia mengatakan sesuatu?"
Sekali lagi Bryan teguk botol alkohol nya, dan matanya tak teralihkan dari Cesar. Dia tahu bahwa Cesar masih sangat mencintai Amera walaupun ia tahu bahwa mungkin saja wanita itu tak mencintai nya.
"Dia mencoba menjelaskan segala nya dan meminta maaf pada ku. Tapi kau tahu kak, bukan itu yang sebenarnya membuat aku marah."
Alis Bryan seketika mengerut dan heran dengan perkataan Cesar barusan.
"Lalu kenapa?"
Cesar menghela napas sesaat sebelum kembali berucap.
"Aku hanya merasa iri kepada Nolan, ini pertama kali nya aku merasa seperti ini. Kau tahu kak, Nolan mendapatkan cinta yang besar dari Amera. Aku merasa bahwa aku tak kan pernah mendapat kan hal yang serupa seperti Nolan dari Amera."
Cesar tertawa miris dan ada hal yang membuat sesak di dalam lenguh hatinya. Kembali ia teguk botol alkohol dengan kasar.
"Ini konyol bukan? Disini aku lah yang menjadi suami nya tapi aku tak pernah mendapatkan cinta sebesar itu. Saat aku melihat album dan cincin pertunangan mereka aku sadari satu hal, bahwa mereka bisa saja menikah jika Nolan tak melakukan kesalahan. Dan hal tersebut membuat aku semakin marah."
Cesar teringat kembali saat ia melihat foto album milik istri nya, disana Nolan merangkul Amera dengan mesra dan mereka tertawa lepas di foto tersebut. Dan satu hal lagi yang membuat darah Cesar mendidih adalah kala ia membuka kotak cincin pertunangan yang kedua nya terukir nama, satu nya terukir nama Nolan dan satunya Amera.
KAMU SEDANG MEMBACA
his farewell attempt (End)
RomansaDeskripsion: Dua tahun menikah amera tak pernah merasakan kehangatan dalam pernikahan tersebut. Kedua pasangan tersebut tidak pernah saling mencintai, mereka menikah karena di jodohkan oleh pihak keluarga bukan keinginan mereka sendiri. Dan pada akh...
