Di lantai atas kini Amera berdiri, dia ingin menuju kamar nya dan Cesar yang terletak di lantai atas dan juga bersebelahan dengan ruang kerja pribadi nya. Ketika ia meraih kenop pintu kamar, mata nya seketika menoleh ke arah ruang kerja nya di sebelah yang pintu nya sedikit terbuka. Alis nya seketika mengerut dan melangkah maju ke arah ruang kerja pribadi nya. Seingat nya, dia sudah mengunci ruang kerja nya pagi tadi dan juga sudah memberitahukan kepada semua pelayan di rumah untuk tidak masuk ke dalam ruangan tersebut tanpa seizin nya.
Perlahan ia buka pintu tersebut, gelap tak ada satu pun pencahayaan. Satu langkah maju dan Amera hidup kan lampu ruangan tersebut yang tombol nya terletak di samping pintu. Dan ketika ruangan tersebut terang, mata Amera seketika terbelalak kaget. Ia dapati kalung yang diberikan nolan, foto album nya, cincin pertunangan nya dengan nolan dulu dan juga beberapa surat nya tergeletak berantakan di atas meja besar. Laci laci meja terbuka nganga entah siapa pelaku nya Amera tidak tahu.
"Nia!" Teriak Amera nyaring membuat seorang pelayan menghampiri nya, yang tadi nya ia ingin membersihkan lantai seketika ia tunda dan menghampiri majikan nya di atas dengan tergesa-gesa.
"Ada apa nyonya?" Tanya pelayan tersebut menunduk hormat.
"Siapa yang tadi masuk ke dalam ruangan saya?"
Amera tampak sedikit marah, ia tak suka jika seseorang mengacaukan Barang-barang milik nya. Bahkan sudah ia peringatkan kepada semua pelayan untuk tidak masuk ke dalam ruangan tersebut tanpa seizin dari nya.
"A-anu nyonya, tadi tuan yang masuk ke dalam."
Terkejut Amera mendengar nya, baru ia ingat bahwasanya Cesar memiliki kunci cadangan setiap ruangan di rumah itu. Tapi buat apa dia melakukannya, padahal sebelum itu sudah ia katakan juga pada Cesar untuk tidak masuk ke dalam ruangan nya dengan sembarangan.
Amera menghela napas. "Baiklah, kembali lah bekerja." Satu tangan Amera memegang kepalanya, dan tampak nya ia mulai merasa tak enak pada Cesar.
Langkah nya melenggang masuk ke dalam dan matanya memperhatikan segala barang-barang tersebut yang berada di atas meja, Kemudian ia mendengus kesal. Ia rebahkan tubuh nya di atas sofa tunggal berwarna abu dan merogoh ponsel nya di dalam tas, lalu ia tekan benda pipih tersebut hingga menciptakan suara dering.
"Kau dimana?" Tanya Amera khawatir seraya menggigit ujung kuku jempol nya. Ia taruh ponsel nya di telinga.
"Aku sudah bilang kan, aku sedang ada urusan, " jawab Cesar dari seberang telepon.
"Kenapa kau masuk ke dalam ruangan ku?"
Sebenarnya Amera tak ingin Cesar salah paham mengenai apa yang telah pria itu lihat di ruang kerja nya. Barang-barang itu, Amera tak bermaksud untuk menyimpan nya. Hanya saja ia lupa untuk membuang semua barang itu, foto album nya bersama nolan, kalung yang diberikan nolan beberapa bulan yang lalu dan surat yang nolan tulis beberapa tahun yang lalu juga serta cincin pertunangan nya dengan nolan dulu.
"Kenapa? Apa kau takut jika aku mengetahui bahwa kau masih mencintai nya, bahkan masih kau simpan rapi barang pemberian nya. Apa kau takut, huh?"
"Astaga Cesar, tolong dengarkan aku dulu. Aku sudah bilang pada mu bahwa aku tak lagi mencintai nya."
"Omong kosong!" Teriak cesar dengan nada tinggi, rahang nya mengetat dan gigi nya mengatup rapat. "Kalau kau tak lagi cinta padanya buat apa kau simpan barang-barang itu di ruangan kerja mu."
Amera berdiri dan menelan saliva nya kuat-kuat, otak nya seketika blank dan bingung bagaimana menjelaskan nya pada Cesar. Sedangkan pria itu sudah jelas tersulut emosi.
"Aku lupa untuk menyingkirkan nya, aku minta maaf."
Tak bisa Amera pungkiri bahwasanya ia lah yang salah dalam hal ini, tak seharusnya ia simpan barang-barang itu sejak lama. Memang di awal pernikahan Amera lah yang membawa barang-barang itu untuk mengenang kenangan nya bersama nolan karena saat itu ia masih mencintai pria itu. Namun perasaan nya kini telah berubah, dia sudah tak lagi mencintai nolan.
KAMU SEDANG MEMBACA
his farewell attempt (End)
RomanceDeskripsion: Dua tahun menikah amera tak pernah merasakan kehangatan dalam pernikahan tersebut. Kedua pasangan tersebut tidak pernah saling mencintai, mereka menikah karena di jodohkan oleh pihak keluarga bukan keinginan mereka sendiri. Dan pada akh...
