Bab XXXXII

914 22 1
                                        

Pukul 08.17

Tepat Amera turun dari mobil marsedes benz putih nya yang telah terpakir di depan kantor Cesar. Ia melangkah gontai masuk ke dalam dengan satu tangan memegangi tas branded nya yang berharga ratusan juta dan satu tangan nya memegang ponsel. Hari ini ia akan mencoba berbicara lagi dengan Cesar, mungkin kali ini Cesar akan mendengar kan nya walau hanya kecil kemungkinan.

"Excuse me, is Mr Harland here? Saya ingin bertemu sama beliau. " Tanya Amera kepada resepsionis.

"Ada keperluan apa ya nona, apa sudah buat janji dengan tuan Cesar?"

Amera menggeleng. "Tidak."

"Kalau begitu tunggu sebentar ya, saya hubungi tuan Cesar dulu. Nona bisa duduk disana," ucap resepsionis wanita itu dengan satu tangan terbuka mengarah ke salah satu sofa tunggu di dekat sana.

Amera melangkah ke arah sana dan duduk di sofa dan menunggu Cesar. Sembari menunggu ia berkutik dengan ponsel nya, melihat beberapa email yang masuk dari ponsel miliknya dan membuka aplikasi sosmed agar tidak bosan. Sudah hampir tiga puluh menit lamanya Amera menunggu,  ia menguap dengan satu tangan yang menutup mulutnya. Wanita itu merasa ngantuk sekali  akibat semalam ia tak tidur sama sekali karena memikirkan pertengkaran nya dengan Cesar.

Pada akhirnya kantuk mengalahkan dirinya, Amera bersandar di bahu sofa kemudian menutup kedua matanya. Tak memedulikan sekeliling nya karena ia sangat benar-benar merasa ngantuk.

Tegap gontai Bryan melangkah jenjang, matanya menangkap sekeliling dengan sekali tangkap termasuk Amera yang sedang duduk di sofa tunggu. Bryan berhenti di meja resepsionis sejenak.

"Sudah lama dia disana?" Tanya Bryan menunjuk ke arah Amera yang kini tengah duduk bersandar dengan kedua mata tertutup seperti sedang tertidur.

"Sudah hampir setengah jam tuan," ucap wanita yang bertugas sebagai resepsionis tersebut.

"Apa kau tidak tahu siapa dia?"

Wanita itu menggeleng karena ia benar-benar tidak tahu dengan Amera. Ia adalah karyawan baru yang telah bekerja seminggu yang lalu.

"Tidak tuan."

"Dia istri tuan Cesar, dan kenapa kau tak membiarkan nya bertemu dengan tuan kalian?"

Kedua mata wanita itu terbelalak terkejut, lantaran ia benar-benar tidak mengetahui nya bahkan Cesar juga tidak mengatakan nya. Ia hanya bilang bahwa ia tak ingin bertemu siapapun hari ini, begitu penjelasan dari Cesar.

"Ma-maaf tuan Bryan,saya tidak tahu. Tapi tuan Cesar tidak mengizinkan siapapun untuk bertemu dengan nya."

Bryan menghela napas sesaat. "Suruh dia masuk saja," ucap Bryan.

"Tapi tuan, tuan Cesar..."

"Tidak apa, nanti biar saya yang bicara sama dia."

"Baik tuan," jawab wanita itu menunduk kala Bryan melenggang pergi dari tempatnya.

***

"Nyonya," Panggil wanita resepsionis itu memegangi bahu Amera dengan pelan. Amera awal nya tidak sadar namun beberapa kali wanita itu mengoyangkan bahunya hingga mengharuskan dirinya sadar dari mimpi. Ia mengerjapkan kedua matanya dan memperbaiki posisi duduk nya.

"Ada apa?" Tanya Amera yang masih belum sepenuhnya sadar.

"Anda sekarang bisa bertemu dengan tuan Cesar, mari saya antarkan."

Seketika raut wajah Amera berbinar senang mendengar nya, sudah lama ia menunggu untuk bertemu dengan suaminya dan kini sudah waktunya. Hatinya berdebar kencang dan berdiri dari tempatnya. Ia rapikan bajunya serta rambut yang tadinya sedikit kusut, ia tak ingin menjadi perhatian banyak mata jika ia tampil sembarangan sebagai istri dari CEO company xunzi.

his farewell attempt (End)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang