Bab XXXXIV

1.2K 25 0
                                        

"Ini dirumah," jawab Amera pelan dan juga lembut.

"Kenapa aku disini? Siapa yang membawa ku kemari?" Tatapan tajam dan alis mengerut pria itu tercipta ketika menatap manik Amera. Ia merasa jengkel karena telah di pulangkan ke rumah nya padahal dia sama sekali tak mau bertemu dengan Amera.

"Kak Bryan yang mengantarmu kemari, kau mabuk dan tak sadarkan diri."

Cesar menghela napas panjang dan melepaskan genggaman tangan nya dari tangan istrinya dan memegangi kepalanya dengan kedua tangan. "Aish..kenapa dia pulangkan aku kemari," gerutu Cesar dengan kesal sembari ia pijat pelan kepala nya yang terasa berdenyut.

Alis Amera saling bertaut. "Kenapa kau tak mau pulang ke rumah,huh?" Amera bertanya dengan kesal. Sedangkan Cesar menoleh ke arah nya dengan tajam.

"Aku hanya tak ingin bertemu dengan mu."

Bukan tak mau bertemu dengan Amera, hanya saja ia ingin menenangkan dirinya sendiri agar tak menimbulkan masalah lebih banyak. Maka dari itu dia pergi meninggalkan Amera ke mansion kakaknya. Dia sebetulnya pun sulit untuk tidak bertemu dengan Amera, sangat sulit baginya. Tapi mau bagaimana lagi, itu lah pilihan yang tepat bagi keduanya memilih menenangkan diri akan lebih baik.

"Kenapa kau tidak katakan dari awal, aku akan pergi dari sini dengan sendirinya jika kau mengatakannya dari awal. Ini rumah mu, Kenapa pula harus kau yang pergi."

Cesar tertegun mendengar nya, ia tak bermaksud untuk mengusir Amera dari kediaman nya.

"Besok pagi aku akan pergi dan mengemas Barang-barang ku lalu pergi dari-"

"Tidak perlu," potong Cesar dengan cepat lantas menarik tangan Amera saat wanita itu hendak beranjak dari tempatnya.

"Aku tak menyuruh mu pergi dari sini, ini rumah mu maka tetap lah disini." Dengan suara tegas Cesar katakan kepada Amera.

"Tapi tadi kau bilang-"

"Diamlah! Dan tetap disini," Teriak Cesar dengan geram dan lebih erat ia pegang tangan Amera.

Amera terkekeh lantas menarik tangan nya dengan kasar sembari ia tatap tajam manik mata Cesar yang kian membulat karena kaget dengan tindakan wanita itu. "Lagipula untuk apa aku tetap disini, kau menganggap ku penipu ada baik nya penipu ini pergi dari sini. Mungkin itu akan meringankan beban mu."

"Kau ini bicara apa amera," ucap Cesar dengan lantang dan dengan nada yang meninggi.

"Kau lah yang menganggap ku penipu." Tak kalah tinggi nya nada wanita itu berucap. "Kau Cesar, walau aku jelaskan sedemikian rupa kau tetap tidak percaya padaku dan masih menyebut ku penipu. Maka lebih baik penipu ini pergi dari sini, tidak kah kau jijik melihat ku terus berada di rumah mu, huh?"

Cesar terkekeh rendah dan ia tatap tajam manik mata Amera yang kuat tajam nya seperti tatapan nya kini. "Ya kau benar, aku jijik melihat mu menyimpan Barang-barang bekas mantan mu, apa tak sekalian saja kau bawa dia kemari untuk kau jadikan bahan pajangan. Setidaknya kau akan merasa puas disodok oleh batang busuk nya."

Amera melotot tak terima dengan hinaan yang pria itu lontarkan. "Brengsek kau Cesar!" Saat Amera hendak melayangkan tangan nya ke pipi Cesar pria itu sudah lebih dulu menangkis nya.

"Kenapa kau marah, apa itu membuktikan bahwa kau memang suka di sodok oleh nya, huh?"

Cesar berdiri dan mendekat ke arah Amera dengan tangan yang erat menggenggam tangan Amera. "Kau ini bicara apa, aku tidak pernah melakukan nya bersama nolan dan kau pun tahu itu."

Kekehan Cesar tercipta dengan aura yang mengerikan seakan-akan siap menerkam mangsa nya. Ia merengkuh pinggang Amera dan mendekatkan tubuh mereka hingga berhimpitan. "Ya aku tahu, tapi pria itu pasti sudah mencicipi bibir mu. Mustahil jika kalian tak melakukan nya walaupun hanya sekedar berciuman," ucap Cesar dengan jari nya yang mengusap bibir cerah Amera.

his farewell attempt (End)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang