Bab XXXVIII

903 27 0
                                        

Kini mobil hitam legam cesar terpakir rapi di halaman depan restaurant mewah nan elegan yang juga terkenal di kota tersebut. Amera serta cesar juga turun dari mobil nya memasuki tempat tersebut dengan gontai nan seksi membuat pasang mata melihat ke arah mereka. Tentu saja, siapa yang tidak tahu dengan cesar. Pria tersohor di kota tersebut sekaligus pebisnis hebat dari keluarga yang bukan kaleng-kaleng. Keluarga harland memang bukan keluarga biasa, mereka adalah keluarga berpengaruh besar di kota baik dari sektor bisnis, industri, yayasan dan telekomunikasi. Dan satu hal dari keluarga harland yang membuat orang tertarik ialah mereka tak pernah gagal dalam usaha nya.

Alunan musik orkestra seperti telah menyambut pasangan tersebut, amera mengandeng lengan cesar dengan mesra dan membawa langkah mereka ke salah satu bangku kosong yang seperti nya akan menjadi tempat keduanya.

Cesar melepaskan lengan amera dengan lembut dan menarik satu kursi mempersilahkan amera untuk duduk.

"Terimakasih," ucap amera kemudian duduk di bangku yang telah cesar persilahkan. Dan kemudian pria itu juga duduk di hadapan amera.

"Kau bawa aku kesini, kenapa?" Tanya amera heran, tiba-tiba saja cesar membawa nya ke restaurant itu bahkan tidak memberitahukan pada amera terlebih dulu. Dan tempat itu bukanlah restaurant biasa, amera yakin tempat itu adalah tempat disaat cesar dulu pergi bersama cassie setelah membatalkan janji nya pada amera.

"Aku tahu kau belum makan, makanya aku sengaja membawa mu kesini."

"Kau pernah kesini?" Tanya amera hingga tangan cesar terjeda saat akan mengambil buku menu. Ia tilik amera lekat lekat kemudian kembali mengambil buku menu yang berada di depan nya.

"Uhm....pernah, dengan seorang klien," ucap cesar dengan datar.

Hampir saja amera lupa bahwasanya cesar masih tidak ingat apapun. Namun tetap saja tempat itu membuat amera merasa tidak nyaman.

"Kenapa kau diam saja? Mari pesan sesuatu, aku jamin disini makanan nya enak."

Tersadar amera akan lamunan nya, setelah itu baru lah ia fokus menatap buku menu dan mencari makanan yang ingin wanita itu makan. Selagi menunggu pesanan mereka datang, sesekali amera melihat sekeliling. Tempat itu sangat luar biasa, pantas saja jika tempat tersebut sangat ramai pengunjung dari kalangan atas. Ya, hanya kalangan atas saja yang dapat menginjakan kaki ditempat tersebut. Bukan mengapa, namun melihat nominal nol nya saja di buku menu sudah membuat orang bergidik.

Disaat mata amera mengedar keseluru tempat tersebut, ia malah menangkap wanita yang tak asing bagi dirinya. Tak jauh dari tempat duduk nya hanya sekitar dua meja berjarak. Amera memicingkan matanya untuk memastikan bahwa mata nya tak salah melihat. Dan ya, mata nya memang tak salah, disana cassie duduk berhadapan dengan seorang pria yang tak amera kenal. Mereka saling menggenggam tangan dan tertawa riang seperti pasangan romantis.

Dan setelah itu amera beralih kepada cesar yang kini di hadapan nya sedang bersedekap tangan dan bersandar di bahu kursi.

"Ada apa?" Tanya cesar dengan satu alis terangkat. Ia sadar ada yang tak beres dari tatapan amera dan juga mulai tidak merasa nyaman.

"Ada cassie disana?" Kata amera menunjuk ke arah cassie dengan mata nya. Tak ingin ia menunjuk dengan jari nya karena akan di anggap tidak sopan dan akan menjadi perhatian semua orang.

Kepala cesar menoleh ke arah dimana amera maksudkan, dan benar saja ia melihat cassie duduk tak jauh dari tempat mereka dan juga bersama pria yang seperti nya tak asing bagi pria itu. Datar tak ada ekspresi, menganggap bahwa hal itu tidak penting baginya.

"Lalu kenapa?" Tanya cesar heran dan kembali menatap amera di depan nya yang kini juga menatapnya dengan perasaan heran.

"Kau tak pergi kesana? Maksud ku dia seperti sedang bermesraan dengan pria itu. Apa kau tak marah?"

"Buat apa aku marah pada amera dan juga tristan?" Tanya cesar heran, untuk apa ia memarahi kedua nya yang kini tampak sedang berkencan. Lagipula hubungan antara cassie dan dirinya juga sudah berakhir.

"Kau kenal dengan pria itu?" Amera kembali mencuri pandang kearah pria yang kini duduk bersama cassie. Pria itu tinggi dan juga tampan, tak kalah jauh dari cesar.

"Berhenti menatap nya seperti itu," cetus cesar dengan tidak suka sambil menarik kepala amera hingga kontan keduanya beradu pandang di udara. Mata amera membulat tak berkedip menatap manik mata brown eyes siren cesar. Jakun cesar seketika naik turun, mungkin jika tidak berada di tempat umum amera sudah ia cium sekarang juga. Namun sayang nya mereka tidak bisa melakukan nya di tempat seperti itu.

"Aku hanya bertanya saja," ucap amera memegang kedua tangan cesar yang kini tengah memegangi kedua pipinya. Kemudian lamunan cesar tersadar dan melepaskan kedua tangan nya memalingkan wajahnya ke arah kaca.

"Dia hanya teman akademis ku dulu."

"Apa kalian dekat? Apa cassie dan dia memiliki hubungan? Aku sedikit penasaran."

Cesar menghela napas dan memalingkan wajahnya menatap amera, ia mengulum bibir seksi nya yang terasa kering. "Aku tak begitu dekat dengan nya, dan tentang hubungan mereka. Ya, mereka memang sudah berpacaran. Kebetulan saja aku bertemu mereka siang ini di toko bunga saat aku akan membeli kan mu buket bunga," Jeda cesar sesaat. "Aku menyapa tristan dan juga cassie. Mereka bilang bahwa mereka akan bertunangan dua minggu lagi dan aku pun memberikan selamat untuk mereka."

"Dan seperti nya kau salah paham dengan hubungan ku dan cassie yang sudah berlalu. Aku tak pernah mencintai nya amera, dia memang gadis cantik dan periang tapi aku cuma sekedar menganggap nya sebagai adik ku sendiri."

Amera masih tak paham dengan apa yang kini cesar katakan,dahinya mengerut dan terus menatap cesar disana. "A-apa maksud mu ini? Ak-aku tidak paham."

"Begini amera," ucap cesar bersedekap di atas meja. "Aku punya seorang teman bernama elio, dia adalah kakak cassie. Aku memang sudah berteman lama dengan nya bahkan aku pun sudah menganggap nya seperti saudara ku sendiri. Namun malang, saat aku akan mengalami kecelakaan elio ternyata membantu ku dan mengorbankan dirinya sendiri demi diriku. Dan ketika dia pergi meninggalkan kami selamanya dia meminta ku untuk menjaga cassie. "

"Aku tak kuat amera, aku tak kuat. Setiap kali aku melihat cassie ada rasa bersalah pada gadis itu di dalam diriku. Dia memang mencintai ku tapi aku tidak bisa memberikan nya cinta yang ia mau, kepastian yang ia inginkan dan juga pernikahan yang ia cita kan. Aku tidak bisa."

Teduh mata cesar menatap amera, bahkan tangan nya sampai gemetar mengatakan nya. Ia begitu merasa bersalah pada cassie, gadis kecil itu tak memiliki siapa pun semenjak elio meninggal dan hal itu semakin membuat cesar merasa bersalah. Memang, cassie adalah gadis periang tapi cesar juga tahu bahwa gadis itu benar-benar kesepian dan juga tak punya tempat sandaran.

"Aku tahu ini akan terdengar jahat, tapi ketahui lah bahwa aku tidak bisa mencintai nya. Aku juga tidak tahu kenapa, tapi aku benar-benar tidak bisa amera."

"Hanya kepada mu, aku bisa merasakan sesuatu hal yang baru aku rasakan saat ini. Aku senang melihat mu senang, aku bahagia jika hanya melihat senyuman mu saja walaupun senyuman itu bukan untuk ku, hati ku berdetak kali aku bersama dengan mu. Aku ingin selalu bersama mu, selalu amera." Begitu pelan cesar mengatakan nya bahkan sampai emosional. Mata nya memanas dan memburam, ia ingat ketika dirinya dan amera berdiri di altar di depan tuhan dan semua orang. Ia berjanji hidup semati bersama wanita di depan yang kini sudah menjadi istrinya, di depan tuhan ia katakan dengan lugas. Memakai kan cincin pernikahan yang sampai kini masih tersemat di jari keduanya. Ia ingat semua nya. Dan bagaimana dirinya memperlakukan amera dengan buruk, ia juga ingat. Jujur saja setelah amnesia itu, ia benar-benar tak ingat tentang amera. Tapi kini tak akan ada lagi yang bisa membuat nya lupa pada amera, wanita itu akan selalu ia ingat sebagai istri nya.

"Maafkan aku amera, maafkan aku." Air mata cesar seketika luruh begitu saja, ia sudah tak kuat untuk menahan nya. Ia sembunyikan wajah nya di balik telapak tangan nya yang besar, rasa penyesalan begitu menyesakan hatinya di dalam sana.

Melihat cesar menangis sendu di depan nya, seketika membuat amera melunak. Ia berikan sebuah sapu tangan kepada cesar. "Jangan menangis seperti itu," ucap amera menenangkan nya. Sapu tangan tersebut diambil oleh cesar dan menyeka air mata nya sendiri.

"Maafkan aku, aku banyak salah nya padamu," lirih cesar menggenggam tangan amera dengan gemetar. Matanya sembab memerah.

Amera tersenyum tipis dan kemudian menggenggam tangan cesar dengan kedua tangan. "Aku sudah memaafkan mu."

his farewell attempt (End)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang