Aku membuka mataku perlahan dan rasa sakit di kepalaku mulai terasa seakan berdengung. Rasanya sangat sakit, padahal hanya sekedar membuka mata.
"Ah, Sst" Lirihku pelan.
Aku kembali menutup mataku pelan, pintu ruangan terbuka membuatku menoleh. Dan terlihat disana berdiri seorang pemuda tampan yang terlihat kaku, dengan mata berkaca-kaca.
Tapi sakit di kepalaku malah semakin menyakitkan, aku kembali memegang kepalaku dan meringis kesakitan. Rasanya sakit, air mataku sampai menetes.
Pemuda tadi langsung berjalan mendekat, menekan tombol yang berada di samping tempat aku berbaring. Lalu memegang tanganku dengan matanya yang memerah.
"Dek, tahan sebentar ya." Ucapnya sambil terus memegang tanganku yang terus memegang kepalaku.
"Sakit, hiks! Sakit sekali" Ucapku dengan lirih. Membuat pemuda itu tak kuasa meneteskan air matanya.
Pintu terbuka, memunculkan sosok dokter dan suster. Lalu ada 3 orang lainnya yang juga masuk kedalam ruangan.
Dokter mendekat, memeriksa keadaanku dengan seksama. Memeriksa beberapa alat, lalu suster yang menyuntikkan obat dengan perlahan membuatku merasakan sesuatu mengalir kedalam tubuhku melalui tanganku.
Rasa sakit dikepalaku mulai mereda perlahan-lahan, nafasku mulai tenang. Dokter mengusap kepalaku perlahan dengan senyuman hangatnya, dan suster yang melihat kearahku pun tersenyum hangat.
"Akhirnya kamu bangun juga, kalo ada yang dirasa sakit katakan sekarang. Apa yang kamu rasakan saat ini?" Tanya dokter dengan lembut.
"Sakit, kepalaku sakit" Lirihku dengan air mata yang entah kenapa menetes.
Dokter tersenyum.
"Wajar, karena kamu habis melakukan operasi besar pada kepala kamu. Siapa nama kamu?" Tanya dokter penuh ketelitian sambil terus melihat kearahku tanpa berpaling ke mana pun.
"Namaku..." Aku seakan melupakan semua hal. Aku seperti bayi yang baru terlahir tanpa ingatan apapun.
Kepalaku menggeleng pelan.
"Kamu ingat sesuatu?" Tanya dokter, berharap aku menjawab dengan antusias semua yang aku ingat tetapi aku kembali menggeleng.
Dokter mengusap kepalaku lembut membuatku memejamkan mataku lagi dengan nyaman.
"Coba gerakkan tanganmu, dan kakimu?"
Aku mencoba menggerakkannya tapi terasa sangat sangat lemah, seperti tidak ada tenaga yang mengalir disana.
"Setelah keadaan kamu membaik, kita akan melakukan terapi perlahan-lahan ya. Nah, Ayo perkenalan, nama kamu Sky Adeeva Cyd Rafardan. Di ingat ya Sky." Ucap dokter dengan senyuman hangat, yang membuatku nyaman.
"Sky..." Lirihku. Tetapi hanya dengan menyebutkan namaku saja kepalaku langsung berdenyut sakit.
"Jangan terlalu dipaksa untuk mengingat Sky, biarkan semuanya mengalir. Jika kamu tidak mengingatnya dalam waktu lama biarkan saja ingatan yang hilang tidak perlu dikembalikan. Kamu hanya harus mengingat saat kamu membuka mata hari ini, ingat nama kamu dan kamu harus berkenalan dengan keluarga kamu juga kan." ucap dokter. Membuatku menoleh kearah orang-orang yang tersenyum hangat kearahku.
"Kalo gitu saya permisi dulu, kalo ada apa-apa tekan saja tombolnya. Kalo begitu saya pamit. Permisi" Dokter langsung keluar dari ruangan bersama suster. Yang ada di ruangan ingin hanya 4 orang yang masih setia berdiri dan aku yang terus menatap kearah mereka.
"Sayang.. Ini Mommy Ana" Ucap perempuan cantik dengan wajah dewasa dan elegannya, dia menuju laki-laki tampan, tegas, dan berwibawa lalu berucap "disana Daddy Adnan" Lalu dia menunjuk pemuda yang masih terlihat seperti anak-anak dengan wajah tegas dan hangatnya "dia adik kamu, namanya Rafka lalu" Perempuan itu menunjuk kearah pemuda di sampingku "dia abang kamu, namanya Fasya."

KAMU SEDANG MEMBACA
Oneshoot
ParanormalOneshoot. Member Enhypen Banyak cerita dalam satu books.. Selamat Membaca