Chapter 11: Kutukan Hutan dan Kuil Pandora

4 1 0
                                    

"Kau tahu, mereka tidak akan pergi begitu saja," suara Nox tiba-tiba terdengar, dingin dan tajam. "Semua yang mati... akan kembali."

Sang anak menoleh ke arah Nox, sang Raja Predator, yang kini berdiri tegak di bawah pohon raksasa dengan batang yang penuh ukiran jam-jam aneh.

"Apa maksudnya?" Pertanyaan yang terdengar dari hati Icarus.

Nox menatap balik dengan tajam, mata merahnya menyala seperti bara api. "Kau ingin tahu apa yang terjadi di tempat ini, manusia kecil?"

Icarus menelan ludah, meski mulutnya terasa kering. "Apa itu 'siklus tanpa akhir'?" tanyanya, suaranya bergetar.

Nox menyeringai dingin, taringnya yang tajam tampak menonjol saat ia mendekat.

"Tempat ini, dahulu bernama Pandora. Sebuah kota yang indah, sebelum menjadi hutan seram seperti sekarang."

"Apa yang terjadi pada Pandora?"

"Semua karena kalian, Athruna!!" Nox berteriak marah, teringat. Mengamuk dan menghancurkan pohon di dekatnya.

Grooooar!!

"Kalian, Athruna... membuka sesuatu yang harusnya tetap tertutup di Pandora!!"

"Aku tidak tahu mengenai itu..." anak itu menjadi ketakutan.

"Pandora yang sekarang, bukan dunia nyata, manusia kecil. Hutan ini, dan semua yang ada di dalamnya, terjebak dalam dimensi lain, selama-lamanya dalam keabadian."

Ia berhenti, menunjuk ke arah salah satu pohon besar yang akarnya melilit tanah. Pada batangnya, terlihat ukiran jam dengan jarum-jarum yang terus bergerak perlahan.

Tik-tok... tik-tok...

Suaranya menggema di udara yang berat. Jarum panjangnya bergerak dengan ritme lambat, mendekati pukul 6.

"Setiap tengah malam... semuanya akan hancur," lanjutnya. "Hutan ini akan terbakar, pohon-pohon akan roboh, dan makhluk-makhluk yang hidup di sini akan mati dengan cara yang paling menyakitkan."

Mata Icarus melebar, ia terkejut, sekaligus meragukan cerita itu. "Bagaimana mungkin? Semuanya? Lalu... apa yang terjadi setelahnya?"

Raja Predator mendekat, napasnya seperti angin dingin yang menusuk kulit. "Setelah kehancuran, segalanya akan terlahir kembali. Pohon-pohon akan tumbuh, makhluk-makhluk akan bangkit... tapi dengan rasa sakit yang sama, ingatan yang sama. Berulang-ulang. Siklus ini adalah keabadian yang menyiksa."

"Kenapa?" bisik Icarus, tubuhnya gemetar.

"Kenapa siklus ini terjadi?"

Raja Predator tertawa pendek, tawa yang tidak mengandung humor. "Karena kekuatan yang berasal dari dalam kuil. Menciptakan kehidupan... dan kehancuran. Juga kutukan dan penderitaan yang abadi."

Icarus merasakan dadanya semakin berat, seolah napasnya tertahan oleh sesuatu yang tak terlihat.

"Kau... kau juga terjebak dalam siklus ini?"

Sang Raja menunduk, mata merahnya menyipit.

"Kami semua terjebak. Entah sudah berapa lama? Dahulu aku adalah seorang raja, dan mereka adalah rakyatku. Ribuan tahun penderitaan merubah kami menjadi monster seperti sekarang, kami menjadi kaum terkutuk." Taringnya menyeringai. Nox menatap kelangit, melihat indahnya cahaya bulan.

Nox melangkah semakin dekat, hingga berada tepat di wajah Icarus. "Setiap kali siklus berulang, aku dan prajuritku merasakan semuanya. Tersimpan dalam ingatan. Rasa lapar, rasa sakit, haus, kebencian yang semakin membesar, terus berulang. Kau tahu seperti apa rasanya mati berkali-kali, manusia kecil?"

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Nov 24, 2024 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Athruna Story #1. FirstlightTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang