Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ruangan yang semula berisik mendadak hening. Anak-anak berhenti berlari, seolah terdistraksi oleh pekikan seseorang dari salah satu sudut sofa. Beberapa keluarga yang bertugas menata jamuan juga turut menghentikan kegiatan. Memilih melipir ke pembatas ruangan guna menghindari perselisihan.
"Ken," panggil Elzio berusaha menarik sang adik agar duduk kembali. Namun, dengan cepat si empunya menepis.
"Gue tanya, ngapain lo bawa perempuan ke rumah ini?"
Melihat Elzio yang kewalahan menangani si bungsu, Rifky akhirnya turun tangan. Kakak mereka itu terlalu lembut untuk ukuran Kenzie yang sekeras batu. Meski berhak marah, tak ada pembenaran baginya untuk berkata kasar pada Ayah mereka di hadapan banyak orang. Terlebih ini adalah pertemuan keluarga.
"Lo tenang, duduk dulu." Rifky menginterupsi berupa bisikan sembari memaksa menarik pundak Kenzie untuk duduk. Namun, lagi-lagi, masih dengan keras kepalanya, Kenzie berontak.
"Mamah mati bukan berarti lo boleh seenaknya bawa perempuan ke rumah ini, ya. Pergi, nggak?" tukas anak itu kemudian dengan tangan menunjuk ke arah pintu utama. Wajahnya merah, napasnya memburu.
Mendengar itu, rombongan yang masih berdiri di belakang Yudha tentu syok. Beberapa dari mereka tampak memasang raut beragam dengan mata terfokus pada Kenzie. Tak menaruh ekspetasi jika sambutan yang didapat akan sekacau ini.
Yudha yang sedari awal tak kunjung buka suara akhirnya mengajak keluarga sang kekasih untuk duduk di tempat yang telah disediakan. Bermaksud hirau demi imej, meski sebenarnya, emosi pria itu juga sudah berada di atas kepala.
"Untuk sementara, lebih baik dibatalkan saja, Yud. Sepertinya kamu belum membicarakan semuanya dengan keluargamu," ucap salah seorang paling tua di sana, yang sepertinya tersinggung oleh kejadian barusan.
Mendengar itu, Yudha tentu cemas. "Ah, tidak seperti itu, Paman. Merek-"
"Enggak apa-apa, Mas. Aku bisa nunggu sampai kamu dan anak-anakmu selesai berbicara. Pernikahan ini bukan cuma melibatkan kita, tapi banyak keluarga. Aku nggak bisa lanjutin kalau posisinya masih sekacau ini."
Kalah telak, Yudha pun akhirnya terdiam seusai Kinara-sang pujaan hati menyela. Pria itu hanya bisa pasrah kala satu persatu langkah mulai beranjak meninggalkan ruangan. Hingga sampai saat giliran wanitanya yang hendak beranjak, Yudha sempat memberi genggaman erat.
"Kin, maafin aku."
Sambil memberikan senyuman terbaiknya, wanita yang diperkirakan masih berumur dua puluhan itu menggeleng. "Nanti kalau semuanya sudah membaik, kabari aku."
Yudha mengangguk kemudian membiarkan Kinara pergi dan menghilang tertelan pintu. Barulah setelah rombongan tadi benar-benar menghilang, Yudha berbalik. Melayangkan tatapan tajam ke arah Kenzie. Tangannya mengepal, menyarat kekesalan mendalam.
"Ngomong hal bodoh apa, kamu?" ucapnya dengan nada begitu rendah.
Rifky yang melihat langsung maju satu langkah, bermaksud melindungi sang adik agar tetap berada di belakangnya. Yudha dan amarah adalah dua hal yang sangat berbahaya. Itu alasan mengapa ia selalu melarang Kenzie untuk terlibat cekcok dengan pria itu.