5. Family Feeling

2.9K 279 122
                                        

Salah satu cara bertahan hidup versi Rifky adalah minum kopi

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Salah satu cara bertahan hidup versi Rifky adalah minum kopi. Tak peduli meski Elzio sudah berulang kali melarang dengan dalih kesehatan, di setiap ada kesempatan, pemuda itu pasti tetap curi-curi minum setidaknya dua kali dalam sehari. Sekarang tahu, kan, kenapa Elzio yang Tuhan nobatkan sebagai anak sulung?

Pagi ini kampus masih sepi, begitu juga dengan kantin tempat Rifky bernaung sekarang. Ditemani segelas kopi hitam yang didominasi oleh rasa pahit, Rifky terus menggulir isi dalam layar laptop. Tampak biasa untuk ukuran mahasiswa semester akhir, tapi sebenarnya, Rifky tidak sedang mengerjakan tugas.

"Ngeri amat lo, pagi-pagi udah bahas kanker."

Rifky spontan menoleh untuk mengetahui gerangan siapa yang baru saja menepuk pundaknya. "Koncet, kaget gue."

"Lagian, rajin bener jam segini udah fokus sama laptop. Santai aja kali, brok."

"Dih, siapa yang nugas? Artikel kemaren aja gue jokiin." Sempat menyeruput kopi, Rifky kemudian menyambar bungkus rokok yang baru saja temannya letakkan di meja. Mengambil satu untuk dinyalakan, lalu disesap.

"Terus itu, ngapain?"

Melihat Doni melirik ke situs yang terpampang, Rifky jadi tertarik untuk lanjut membaca. Sejak mendengar vonis Kenzie kemarin, rasanya hidup Rifky tidak pernah tenang. Ada banyak pemikiran buruk yang menghantui kepala. Dimulai dari rasa sedih, hingga ke tahap takut kehilangan. Kanker bukan lah penyakit biasa yang bisa sembuh dengan mudah. Maka dari itu, sebagai orang awam, ia harus mulai aware tentang Leukimia.

Start dari pengertian, penyebab, gejala hingga ke pengobatan, semuanya Rifky baca. Pemuda itu bahkan berniat menghubungi beberapa kontak yang menawarkan obat herbal di penghujung situs. Meski kalau di rumah kerjanya gelud setiap hari, naluri Kakak dalam diri tetap tak bisa dibohongi.

"Adek gue sakit, Don."

Menyadari bingung di wajah temannya, Rifky inisiatif bersuara. Doni tampak terkejut, membaca ulang judul besar yang ada di laptop kemudian menatap Rifky lagi.

"Serius lo? Si Kenzie?"

"Iya lah, lo kira adek gue ada berapa?"

Pemuda itu belum merespon, tampaknya masih terkejut. Rifky memaklumi karena Doni memang cukup akrab dengan Kenzie. Seolah memiliki naluri yang sama sebagai anak bungsu, setiap Doni menginap, keduanya terlihat nyaman dalam berinteraksi.

"Tadi pagi banget, gue marahin gara-gara make sepatu gue nggak bilang-bilang, udah gitu dibiarin kotor. Eh, pas anyep di jalan, malah nyesel." Rifky tertawa sumbang, lalu membuang tatap. "Setelah gue pikir-pikir, kayanya gue yang berlebihan."

"Lo pukul emang?"

"Ck, boro-boro mukul. Dia ngeluh pusing aja gue nangis."

KenzieCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang