Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Halo, El? Ada apa? Kebetulan ada yang mau Papa bicarain sama kamu."
Elzio menarik napas, sebelum akhirnya melipir ke sudut ruangan. "Papa kapan pulang?"
"Kenapa? Ada masalah? Tumben kamu nanya begitu."
"Nggak pernah nanya bukan berarti aku nggak berharap Papa pulang." Sadar akan emosi yang belum stabil, Elzio buru-buru memutus kalimat. Sejenak menatap hamparan langit malam yang membentang dari kaca jendela sebagai pelarian. Demi seseorang, percakapan ini tidak boleh berakhir dengan pertengkaran lagi.
"Besok Papa pulang, sekalian ngadain acara."
Mendengar itu, alis tebal Elzio spontan tertaut. "Acara apa?"
"Pertemuan keluarga sekaligus penentuan tanggal."
"Tanggal apa, Pa?" tanya pria itu lagi dengan nada mendesak.
"Papa mau nikah. Om, Tante dan semua keluarga udah pada tau, besok bakal bantu masak-masak di sana. Kamu izin dulu, bilangin anak dua itu juga."
"Hah!" seru Elzio tanpa sadar. "Papa udah gila?"
Seandainya saja mereka berhadapan, Elzio mungkin sudah menghantam pria itu tanpa ragu. Dia tak mengerti bagaimana Ayahnya bisa kehilangan akal sampai tega menyampaikan kabar yang paling tidak ingin didengarnya, tanpa sedikit pun rasa malu. Padahal, ada sesuatu yang jauh lebih penting untuk mereka hadapi.
"Kamu yang gila. Jangan kurang ajar sama orang tua."
"Papa memang gila!" tukas Elzio penuh penekanan. Matanya merah, napasnya memburu. "Kenzie sakit. Dia butuh Papa dan Papa malah sibuk mikirin nafsu Papa?"
"Sakit ya berobat, jangan bodoh kamu. Stres kalau kamu larang Papa nikah cuma karena anak itu sakit."
"Ya masalahnya Kenzie butuh lebih dari sekedar berobat!" Elzio benar-benar nyaris kehilangan akal sehat. Beruntung kamarnya kedap suara. Kalau tidak, mungkin si kepo Kenzie akan datang dengan ekspresi menyebalkan.
"Sudah lah. Papa cuma mau ngomong soal itu."
"Pa, Kenzie kanker, Pa. Dia butuh perobatan serius. Bisa, nggak, tolong jangan egois lagi. Untuk kali ini aja. Aku, Kenzie dan kita semua butuh Papa." Untuk beberapa saat, suara Elzio mulai melunak. Percayalah, sebelum memutuskan untuk memanggil, laki-laki itu telah berperang hebat melawan egonya.
Demi Kenzie.
Ada jeda sekitar sepuluh detik. Elzio kira, Ayahnya tengah memikirkan perkataannya. Namun, kalimat yang pria itu ucapnya selanjutnya malah kembali membuat darahnya mendidih.