6. Rawat Inap

3.1K 247 153
                                        

Rifky duduk di sebelah hospital bed dengan wajah muram

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Rifky duduk di sebelah hospital bed dengan wajah muram. Genggaman erat yang tertaut menunjukkan sisa kecemasan yang belum benar-benar usai. Hendak diberi kata penenang sebanyak apapun, trauma melihat orang terkasih kesakitan adalah hal buruk yang tak pernah ingin ia ulang.

Masih lekat di ingatan Rifky bagaimana tubuh kecil sang adik menggelinjang kesakitan dalam peluknya tadi. Anak itu merintih, bahkan sampai menangis meremas kepala. Mengeluhkan sakit yang sama sekali tak bisa Rifky rasa. Satu-satunya hal yang dapat pemuda itu lakukan hanya lah memberi rengkuh hangat yang mungkin bahkan tak berpengaruh apa-apa.

"Alin ngehubungin gue, nih. Lo belum ngasih kabar emang?"

"Boro-boro ngasih kabar, hape aja nggak tau ada dimana."

Elzio bangkit dari sofa. Mendekati Rifky sembari mengulurkan ponsel. "Keluar, gih. Sekalian cari makan."

Pemuda itu hanya menatap Kakaknya sebentar, sebelum kembali ke fokus semula. "Nggak laper. Bilang aja gue udah tidur."

"Mana boleh gitu, kasian Alin lah. Lagian Kenzie udah nggak apa-apa."

Rifky tak langsung percaya. Penampakan wajah pias seseorang di pembaringan benar-benar mampu merobek ulu hatinya. Bayang-bayang ekspresi penuh derita itu masih menjadi momok buruk di kepala. Rifky dihantui rasa takut. Takut jika sedikit saja ia beranjak, sang adik akan kembali kesakitan.

Di sisi lain, Elzio yang menyadari kalut di wajah Rifky spontan memberi usapan hangat. "Sebagai Abang, kita harus lebih kuat dari Kenzie. Ini cuma sebagian kecil dari perjuangan yang bakal kita hadapi nanti, Ky."

"Ngomong apa, sih, lo, Bang?" sentak Rifky yang tak sadar sudah hampir meneteskan air mata.

"Kata dokter, trombosit rendah itu udah jadi makanannya Leukimia. Bakal ada yang lebih parah dari ini. Lo harus belajar buat jadi lebih kuat."

"Ngelantur. Lo ngarep kondisi Kenzie makin parah?"

"Berpikir realistis, Ky. Berjuang ngelawan kanker itu nggak sesimpel minum obat, lalu sembuh."

"Bacot lo."

Menyambar gawai di tangan Elzio dengan kasar, pemuda itu lantas beranjak meninggalkan ruangan. Terdapat jejak kemarahan dari langkah yang terdengar. Namun, Elzio tak bisa berbuat apa-apa. Baginya, wajar jika Rifky masih berusaha menolak menerima fakta. Elzio yakin, waktu akan terus menguatkan mereka, termasuk dirinya.

***


Yudha memandangi pesan dari sulungnya lamat-lamat. Tak berniat membalas sebab ia sendiri pun tak tahu hendak memberi jawaban seperti apa. Meski berat, ia harus mengakui bahwa tak ada sedikitpun rasa sedih terselip di hatinya. Persetan dengan empati. Kabar yang seharusnya buruk itu malah terdengar biasa. Yudha sama sekali tidak tersentuh, apalagi khawatir.

KenzieCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang