L

10.2K 352 34
                                        

Waktu berlalu begitu cepat.

Tepat seminggu setelah kematian William, terlihat seorang gadis menatap ke arah jendela dengan perasaan kalut.

Beberapa hari ini, teror terus mendatanginya. Dari boneka berdarah yang di penuhi sayatan, potongan beberapa jari manusia dan teror terakhir membuatnya mual bahkan pingsan saat menerimanya adalah video penyiksaan dari ketiga orang yang menjadi kaki tangannya.

Gadis itu berjalan ke arah meja belajar dan mengetik beberapa kata di laptop.

Setelah menunggu beberapa menit, layar laptopnya menampilkan sebuah data dari seorang gadis yang langsung membuatnya menutup laptop.

"Sial, jangan bilang dia?" Menarik tirai korden secara kasar.

Di saat bersamaan kordennya tertutup, sesuatu menabrak kaca jendela dari arah walk in closet yang ada di samping meja belajarnya.

Dengan rasa penasaran, sang gadis membuka perlahan pintu berwarna putih itu.

"Aaaaaaaaaa" Teriak sang gadis.

Siapa sangka, saat pintu terbuka bisa di lihat kaca jendela itu pecah dan tergeletak seekor burung yang mati tertembak.

Mendekati burung itu secara perlahan, tanpa sengaja ia menatap ke arah cermin besar yang terdapat sebuah tulisan menggunakan tinta merah.

Nyawa harus di balas dengan nyawa!

Bersiaplah untuk giliranmu, Nita.

Menatap kaget saat membacanya dan memberanikan diri untuk menyentuh tulisan itu.

"Sial, ini darah!" Bersamaan dengan itu, ponselnya menampilkan notifikasi dari nomor tidak di kenal.

Bukankah darah itu tampak segar? Seperti adik kecilmu?

Tanpa menunggu waktu, Nita berlari keluar kamar dan menuruni tangga dengan cepat.

Sesampainya di lantai bawah, tubuhnya seketika mematung. Ibunya terduduk di lantai sembari menangis dengan sang kakak yang mencoba menenangkannya dan sang Ayah yang pergi entah kemana membawa tubuh adik kecilnya.

"Mah?"

"Ta, hiks adik"

"Adik kenapa mah?"

"Adik, hiks adik jatuh dari tangga, Ta"

"Mah, ko bisa?"

"Mama ngga tau, adik kamu tadi lari ketangga tiba-tiba hiks dia jatuh gitu aja"

"Nita, adik banyak ngeluarin darah hiks. Ma-mama ngga sanggup"

"Mah, kita doain yang terbaik aja ya buat adik, kita siap-siap buat nyusul papah. Nita, kamu mau ikut?" Ucap sang anak sulung.

"Ikut," Tanpa pikir panjang, mereka segera menyusul sang papah yang sudah sampai di rumah sakit Z.

Sesampainya di rumah sakit, mereka segera menuju ke ruang UGD.

Di depan ruang itu, terlihat seorang pria paruh baya yang terduduk diam.

"Pah?"

"Adik gimana pah"

"Dokter masih di dalam, mah"

"Adik ngga bakal kenapa-kenapa kan, pah?"

"Kita berdoa aja yang terbaik buat adik, Nita"

Selang berapa menit kemudian, dokter pria keluar dari dalam ruang UGD.

"Dokter, putri saya tidak apa-apa kan?"

"Dok, anak saya baik-baik saja kan?" Ucap Papah dan mamah Nita bersamaan.

BACK [TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang