EXTRA CHAPTER

5.4K 92 1
                                        

Seorang pria paruh baya sesekali menghela nafas. Bagaimana tidak, setelah mendapat informasi jika sang cucu sedang di rawat di rumah sakit dan harus menerima transfusi darah.

"Cari tau siapa yang berani mencelakai cucuku"

"Baik tuan"

"Tangkap dan bawa mereka yang berhasil melarikan diri" Mendengar apa yang di katakan sang ketua, tentu membuat ketiganya kaget. Apakah pria paruh baya ini tidak sadar?

"Maaf tuan, kami tidak bisa membawa mereka dengan keadaan hidup, karena-"

"Karena nona membunuh semuanya di lokasi kejadian" Sang ketua menatap ketiga bawahannya bergantian lali tersenyum.

"Dia memang kejam, terus awasi cucuku"

"Baik tuan"

Setelah perginya ketiga bawahan, pria paruh baya itu berjalan ke arah dekat jendela dan menatap pemandangan sekitar.

"Kapan dia akan mengakhiri permainannya?"

Setelah mencari tau siapa yang telah mendonorkan darah untuknya, gadis itu tersenyum

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Setelah mencari tau siapa yang telah mendonorkan darah untuknya, gadis itu tersenyum.

"Berhutang nyawa lagi? Ikatan saudara memang tak berbeda"

Mencari nomor seseorang di daftar telepon.

"Dia sudah sadar, jangan biarkan dia melarikan diri"

"Baik nona"

Tak lama, pintu kamar dimana dia di rawat terbuka.

"Nona"

Gadis itu menatap pria dengan pakaian dokter di depannya.

Menaikan satu alisnya tanpa mengeluarkan suara. Seolah paham dengan situasi, dokter itu mulai menjelaskan kondisinya saat ini.

"Semua sudah aman, tiga hari masa perawatan sudah lebih dari cukup jika nona ingin meninggalkan rumah sakit dan satu lagi nona,"

"Tuan berpesan untuk segera kembali karena, mereka sudah mulai bergerak"

Aura terkekeh

"Oh, benarkah? Jadi, mereka sudah sadar situasi?"

"Saya rasa mereka sudah menyadari sejak anda meminta Alexander menarik semua investasi di perusahaan itu"

"Kau bener mereka tidak bodoh tapi, tidak pintar juga"

"Siapkan jadwal penerbangan malam ini dan satu lagi, awasi keluarga itu"

"Baik nona"

Keheningan kembali melanda kamar pasien itu.

Aura memutuskan untuk kembali tidur demi memulihkan kondisinya.

Satu jam berlalu, seseorang masuk kedalam kamar Aura dengan hati-hati.

"Dimana dia?"

"Ada di kamar sebelah nona"

"Bawa dia"

BACK [TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang