Seorang gadis menatap lekat ke arah kaca transparan yang ada di peti jenazah.
"Setelah ini, aku tidak akan menahan lagi"
Gadis itu mengambil sebuah foto yang ada di dalam peti jenazah. Memandanginya dan tersenyum.
"Dua saudara yang terpisah karena keegoisan seseorang, hidup dengan kepribadian palsu dan mengalah demi kebahagiaan salah satunya. Sang kakak yang menyayangi adiknya begitupun dengan sang adik yang ingin kakaknya bahagia. Kalian memang bodoh"
"Lexa, dia tidak sebahagia itu dengan apa yang terjadi, semua penuh kepalsuan. Kau bodoh dengan menganggap ini adalah kebahagiaannya" Setelah mengatakan itu, sang gadis pergi meninggalkan ruangan di mana peti jenazah itu berada.
Sesampainya di ruang keluarga, ia melihat seorang pria paruh baya baru saja tiba dan kini tengah menatapnya lekat.
"Kau masih berani menginjakkan kaki di rumah ini?" Ucap sang gadis.
John menatap gadis itu lekat, kemana rambut panjangnya itu?
"Aura?" Mendengar panggilan itu, membuat sang gadis menyeringai.
"Mengingatnya?" Sang gadis membawa langkahnya mendekat ke arah John.
Semakin jelas John melihat gadis itu, semakin tampak perbedaannya.
"Kau bukan Aura"
Gadis itu tersenyum "Sejak kapan aku mengakui diriku Aura?"
"Di mana Aura? Biarkan aku menemuinya"
"Anda tidak pantas bertemu dengannya setelah apa yang terjadi"
Gadis itu mendudukkan dirinya di salah satu sofa dan menatap John remeh.
"Jangan berlaga bodoh tuan, kau yang menelantarkan anakmu dan sekarang ingin mengakuinya kembali? Lelucon sekali"
John menatap tajam gadis itu.
"Menelantarkan? Jika tidak tau apa yang terjadi, jangan berlaga tau. Seorang ayah tidak akan pernah menelantarkan anaknya"
Mendengar apa yang di katakan John, tentu membuat sang gadis tertawa.
"Hahahahahaha"
"Benarkah begitu? Lantas selama 15 tahun ini kemana anda? Apakah pernah anda mencari putri kedua anda? Pernahkah anda mencari informasi tentang putri kedua anda dan pernahkah anda menerima permintaan maaf dari mulut putri kedua anda? Tidak bukan? Karena anda tidak akan pernah mendapatkan maaf darinya!"
"Kenapa anda baru mencarinya sekarang? Ohh, atau anda berpikiran jika putri kedua anda akan bahagia dengan pertemuan mengharukan itu? Hahahhaa pikiran yang sangat luar biasa."
Mendengar nada dan perilaku dari gadis di depannya, seketika terlintas ingatan dimana dirinya pernah bertemu dengannya.
"Kau?"
Melihat raut wajah John saat ini, membuat gadis itu menyeringai.
"Kau salah tuan, saya bukanlah dia"
Berdiri dari posisi duduknya dan berjalan ke arah vas bunga yang ada di dekat jendela.
"Anda berpikir saya dia? Hahaha, jika saya kepribadian lain dari putri anda mungkin, saya sudah membunuhmu sejak lama"
Gadis itu meremat bunga mawar merah hingga tercabut kelopaknya dan membuangnya asal.
"Kau tidak akan pernah ku pertemukan dengannya, sekalipun anda mati saat ini" Dengan tiba-tiba gadis itu menodongkan pistol ke arah John Palmer.
Melihat itu, seketika John memundurkan tubuhnya.
"Kau, apa yang akan kau lakukan?"
"Membunuhmu, mungkin" Ucapnya tersenyum.
Saat akan menarik pelatuk, dari arah belakang sang gadis muncul seorang pria dengan gadis lain yang tadi berteriak sebuah nama.
"RORA BERHENTI!"
Membalikan tubuhnya dan menatap datar kedua orang yang tadi menghentikan aktivitasnya.
"Rencana kita ngga begini Rora!"
"Memberitahunya? Kau berkhianat Rena"
"Ngga, gue ngga akan pernah lakuin itu. Tapi Rora, rencana kita hanya menghukum para pelaku bukan yang lain"
"Dan kau pikir dia bukan pelaku? Rena sadarlah, pria tua ini pelaku utama dari kehancuran mentalnya"
"Memang benar dia membenci tuan John, tapi mau bagaimanapun juga dia ayahnya"
Mendengar apa yang di bicarakan teman dari anaknya dan gadis itu, membuat John bingung. Sebenarnya apa yang terjadi disini?
Seorang pria lain mendekat ke arah John.
"Om"
"Noval, kenapa kamu bisa di sini nak?"
"Maaf om, saya mengikuti mobil om tadi dan bertemu di depan"
John menatap ke arah teman dari almarhumah putri pertamanya.
"Dia Rena?"
"Benar om, dia Rena"
"Kenapa penampilannya?"
"Saya juga ngga tau dengan apa yang terjadi, hanya Rena berkata om dalam bahaya"
Balik ke sang gadis yang menatap datar Rena.
"Cukup Rora kita hentikan permainan ini okey, mereka semua udah dapet hukuman yang setimpal"
"Bukan ini yang dia mau Rora, dia ngga akan pernah maafin kamu kalo sampai melukai tuan John"
"HAHAHAHA" Sekali lagi, gadis itu tertawa.
"Memaafkan? Aku tidak butuh maaf darinya. Kau tau Rena, pria itu menelantarkan anaknya, membuat dua saudara terpisahkan dan bahkan masih mau merawat anak dari seorang wanita yang membuat istrinya meregang nyawa"
"Aku tau dia salah, aku juga tidak bisa memaafkan apa yang telat dia perbuat hingga membuat tante Aira meninggal. Rora, kita akhiri permainan ini okey?"
Gadis itu menutup kedua matanya.
Dua menit kemudian, gadis itu kembali membuka matanya dan tersenyum ke arah Rora.
"Kau bodoh mempercayai apa yang ku katakan" Mendengar apa yang gadis itu katakan membuat Rora memundurkan tubuhnya.
"Siapa?"
"Percaya dengan alasan klasik itu? Hahahaha kalian memang bodoh"
"Rora cukup, kembalikan Aura!"
•
•
•
SEBAGIAN PART DI HAPUS UNTUK KEPENTINGAN PENERBITAN!
untuk info pre-order bisa cek akun Instagram author a_pjlst
See you in BACK VERSION OF THE BOOK
KAMU SEDANG MEMBACA
BACK [TERBIT]
Teen FictionSudah terbit di nawalara.media. Untuk info pembelian bisa DM Instagram author @a_pjlst Rank: # 1 - bunuh diri (20 Desember 2023) # 1 - pembalasan (16 Mei 2024) # 2 - dendam (20 Mei 2024) # 3 - misteri (7 Juli 2024) Kedatangannya bagai bom waktu, te...
![BACK [TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/356311066-64-k491685.jpg)