LII

9.4K 322 31
                                        

Aura melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, saat di persimpangan jalan tepatnya dari arah belakang sebuah Van hitam mengikutinya.

Aura tersenyum.

"Kau bermain dengan orang yang salah"

Aura menambah laju kecepatannya.

Van itu terus mengimbangi kecepatan dari mobil yang Aura kendarai, di saat bersamaan ponsel Aura berdering.

"Kenapa?"

"Lu di mana dek?"

"Di jalan"

"Balik, papah ada di mansion"

"Ck, iya" saat Aura memutuskan sambungan telepon, tiba-tiba sebuah peluru melesat dari kaca belakang.

Dorr

Tack!

"Sial," Membuka dasbor mobil dan mengambil sesuatu di dalamnya.

Tak ingin kalah, Aura mengurangi kecepatan hingga bersebelahan dengan Van hitam itu.

Merasa jarak sudah pas, Aura mengarahkan sebuah pistol tepat ke arah sang supir.

DORR!

Tak butuh waktu lama, Van itu oleng seketika.

Sialnya, saat Aura memfokuskan pengelihatan ke arah musuh dari arah depan terlihat sebuah mobil lain sengaja menabraknya dari arah depan.

Tak ada waktu untuk menginjak rem, Aura memutuskan membanting setir ke bahu jalan.

Tindakan itu tentu saja tak berakhir baik, mobil yang Aura kendarai menabrak pembatas jalan.

Brakk!!

Dalam hati, Aura terus mengumpat.

Melepas sabuk pengaman yang ia gunakan dan mulai keluar dari dalam mobil.

Saat Aura keluar dari dalam mobil, bersamaan dengan beberapa orang yang keluar dari Van hitam dan mobil yang tadi menabraknya.

Bisa Aura lihat, di depan sana terdapat sepuluh pria dewasa menggunakan baju, masker dan topi serba hitam. Jangan lupakan, di tangan mereka masing-masing memegang pistol dan pisau kecil seperti miliknya.

Bersmirk melihat apa yang ada di depan, Aura mengelap dahinya yang mengeluarkan darah.

"Sepertinya ini akan seru"

Tak butuh waktu lama, tiga dari sepuluh pria mulai menghajarnya.

Aura melawannya dengan gerakan santai.

Setelah tumbangnya ketiga pria itu, Aura melawan empat pria dengan postur tubuh lebih besar dari tiga pria sebelumnya.

Saat tengah waspada, dari arah belakang seseorang melepas tembakan. Tentu saja tepat mengenai pundak Aura.

"Cih, bukankah ini curang?"

Mendiamkan diri menikmati rasa sakit yang mulai terasa di area pundak.

Aura menutup kedua mata dan kembali membukanya. Melihat gadis di depannya dengan ekspresi berbeda, membuat mereka terdiam.

"Dia kenapa?"

"Ngga penting, sekarang cepat bunuh gadis itu dan bawa ke depan bos"

Aura menatap datar ke empat pria dan tiga pria di belakang yang tadi mengarahkan pistol ke arahnya.

Aura mengibaskan tangan ke arah mereka, yang tanpa mereka sadari kibasan itu terdapat sesuatu yang mematikan.

Benar saja, tak butuh waktu lama keempat pria itu terkapar membuat ketiga pria yang ada di belakang menatap bingung.

BACK [TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang