Bercampur kicauan burung pagi itu, pintu sebuah apartemen di ketuk tanpa henti. Seseorang berdiri di sana, dengan tumpukan kardus berjumlah lumayan banyak. Dalam hati, ia menghitung detik demi detik yang terlewati, menunggu dengan kesabaran setipis tisu yang ia miliki.
Ketika pintu itu terbuka, si pemilik yang masih bermuka bantal menyambutnya dengan raut kesal yang kentara. Lelaki pirang yang merupakan pemilik apartemen tersebut melongo sedetik kemudian setelah memastikan siapa gerangan yang sejak tadi mengetuk pintunya. Orang itu adalah orang yang sama dengan seseorang yang mengatakan akan pindah tempat tinggal padanya kemarin.
Park Jonggun, lelaki itu terkekeh pelan ketika menangkap ekspresi Kim Jungoo yang seperti melihat setan. Tanpa permisi, ia masuk ke apartemen sang rekan itu dengan sebuah kardus di tangannya yang berisi barang-barang miliknya.
Dengan efek keterkejutan yang masih tertinggal, sepasang mata milik lelaki pirang itu terus mengamati pria bersurai legam yang sekarang sedang sibuk memindahkan kardus-kardus itu ke apartemen miliknya.
Setelah benar-benar tersadar, Jungoo mendekati Jonggun yang sibuk pindahan ke apartemennya itu. Ia mencekal tangan penuh tato milik sang rekan hingga membuat lelaki bersurai hitam itu mengalihkan atensinya dari kegiatan berbenahnya yang asik.
Jungoo bertanya dengan sewot, "Woi?! Maksud lo apaan dah?"
Berkebalikan dengan si pirang, Jonggun malah menanggapi dengan tidak terlalu peduli, "Kan kemarin gue bilang kalau mau pindah, masa udah lupa? Bukannya kemarin lo juga yang ngerengek pingin ikut?" Terdengar juga nada mencemooh di akhir kalimat yang ia lontarkan.
Jungoo berdecak kesal, "Iya tapi, lo gila pindah ke apartemen gue?!"
Si surai legam nampak berpikir beberapa saat sebelum ia mengangkat bahunya acuh, "Gue di suruh Tuan Choi, katanya gue harus ngajarin lo cara bersikap yang bener lagi. Kalau kita tinggal bareng kan jadi gampang ngajarinnya."
Sepasang alis pirang itu menukik tajam, ia menyerukan protesnya, "Wah, setres nih bocah kayaknya. Gue nggak mau tinggal bareng lo lagi setelah lo yang bahkan gak nganggep gue temen selama ini! Keluar gak lo?!"
Pemuda Kim itu menarik-narik tangan Jonggun, sangat serius untuk mengusir sang rekan dari apartemennya, tetapi sayangnya lelaki berambut hitam itu tak bergeming dari tempatnya. Padahal, Jungoo sudah penuh effort dengan melontarkan kalimat-kalimat 'lembut' dalam melakukan pengusiran, tetapi Jonggun tetap diam tak berkutik.
Jonggun menaruh jari telunjuknya di bibirnya sendiri, memberi isyarat kepada Jungoo agar lelaki itu tidak lagi berteriak, kupingnya sudah terasa pengang. Ia kemudian mengeluarkan satu amplop berwarna coklat muda dari sakunya, di serahkannya amplop tersebut di tangan Jungoo.
Masih dengan tatapan super tajam yang tak kunjung memudar, Jungoo membuka isi amplop tersebut yang ternyata berisi salah satu hal yang paling ia suka.
"Harusnya itu cukup buat bayar sewa selama setahun penuh, dan gue bakalan sukarela masakin lo makanan yang bener-bener makanan biar lo gak cepet mati," terdengar sarkasme yang tinggi di akhir kalimat yang Jonggun utarakan.
Mendengarnya, sepasang manik berbingkai kacamata itu berbinar senang. Harusnya Jonggun bicara dari tadi, kan Jungoo jadi tidak enak bersikap 'jahat' seperti tadi terhadap Jonggun. Tak ayal, kalimat terakhir yang di ucapakan oleh Jonggun tersebut membuatnya sedikit kesal, tetapi tak apa, wangi uang ini setidaknya membuatnya lupa dengan apa yang di katakan oleh Jonggun barusan.
Satu amplop itu kini telah masuk ke saku si pirang, ia nampak menimang-nimang sesuatu selama beberapa saat.
Jungoo kemudian berujar, "Tapi, kamar di apartemen ini kan cuma satu."
KAMU SEDANG MEMBACA
Rekan? || GunGoo
RandomApa yang membuat sebuah hubungan 'abu-abu' di antara mereka berjalan begitu rumit? Terlambat menyadari, atau kalah oleh ego masing-masing? . . . . . . Park Jonggun x Kim Jungoo
