Kehidupan terasa begitu damai, tidak ada lagi suara-suara memilukan dari para manusia yang terlilit hutang, alunan permohonan yang menjadi melodi memuakkan telah sepenuhnya sirna. Tangan yang biasanya digunakan untuk memukul orang sampai jera, telah beristirahat untuk waktu yang lumayan lama. Anyir darah yang biasanya mengikuti kemanapun kaki melangkah saat ini mulai tercium samar.
Memiliki sebuah kebebasan terasa sangat menyenangkan, terlebih kita bisa dengan bebas melakukan apa saja yang sebelumnya tak pernah di lakukan.
Pada area dapur yang kini telah menjadi lebih 'bernyawa', seorang lelaki mengenakan apron berwarna hitam. Ia termenung di depan kulkas, berdecak pelan setelah melihat isinya yang hanya di huni oleh kristal-kristal es.
Beberapa hari sibuk menjalani hidup yang seperti terlahir kembali, membuatnya lupa untuk mengisi kebutuhan pangan. Netra hitamnya melirik pada jam dinding, sebentar lagi memasuki waktu makan malam. Haruskah ia membeli seperti belakangan ini, atau memasak saja ya, hm.
Atau, haruskah ia bertanya pada makhluk pirang yang sedang bermain game di ponselnya itu? Terkadang, ia merasa sedikit heran dengan lelaki kesayangannya yang tidak pernah jenuh memainkan game lewat ponselnya itu. Apakah memang terasa sangat menyenangkan?
Park Jonggun melepas apron nya, menanggalkan kaos putih polos dengan celana panjang rumahan berwarna abu-abu.
Langkahnya mendekat ke arah lelaki pirang yang anteng pada salah satu kursi meja makan. Ia meletakkan dagunya di pundak yang mana pemiliknya tak mengalihkan perhatian dari ponsel, ia berbisik pelan, "Jungoo."
Yang dipanggil menjawab sembari tangan nya tidak berhenti bergerak agar karakter yang di mainkan tidak mati, "Kenapa?"
Jari-jari si mata hitam itu bergerak, seolah menari-nari di dada si pirang, membuat gerakan yang menghantarkan sensasi 'menyengat'. Jonggun tersenyum puas kala mendapati bahwa apa yang dilakukannya, membuat karakter game yang tengah Jungoo mainkan dengan begitu serius mengalami kematian.
Ia meniup pelan daun telinga lelaki pirang,
"Lo mau makan apa? Beli atau bikin aja?" Tanyanya.
Si pirang terlihat gelagapan, ia meremat ponselnya. Mencoba kembali fokus untuk memainkan karakternya yang sudah spawn, di tengah Jonggun yang dengan sengaja mengacaukan pikirannya itu.
Ia berdehem satu kali, "Nabe buatan lo enak, gue mau itu."
Jonggun secara sengaja menyusupkan tangannya ke dalam kaos yang Jungoo kenakan. Mengelus dengan telapak tangannya yang lebar pada area dada si pirang, "Oke, gue belanja bahannya dulu." Tuturnya senang.
Lelaki pirang itu nampak terdiam, Jonggun ini memang benar-benar sangat sengaja ya, pikirnya. Karakter gamenya bahkan sampai kembali mati, padahal ia tadi sedang berada dalam last war. Demi apapun, ia kalah, satu langkah lagi, dan dirinya akan naik ke tier selanjutnya, tetapi ia malah di perlakukan seperti ini
Ia nampak menghela nafas, tidak apa, Jungoo akan mencobanya lagi lain kali. Kan hanya game, sabar.
Jungoo menahan tangan Jonggun yang malah semakin lancang meremas dadanya tanpa ada izin darinya itu. Ia menatap sepasang mata berwarna gelap tersebut, walaupun merasa sedikit geram, ia mencoba untuk tetap tersenyum, "Gue ikut, boleh ya Jonggun?" Mohonnya.
Jonggun mengusak rambut Jungoo, "Lo di rumah aja, siapin diri lo," ujarnya yang di iringi seringai di akhir.
Kernyitan muncul di dahinya, "Buat apa?"
Suara berat milik Jonggun yang terdengar memiliki kesan sedikit sensual mengalun,
"Yah, malem ini masakan gue gak gratis, jadi siapin diri lo sebagai bayarannya."
KAMU SEDANG MEMBACA
Rekan? || GunGoo
RandomApa yang membuat sebuah hubungan 'abu-abu' di antara mereka berjalan begitu rumit? Terlambat menyadari, atau kalah oleh ego masing-masing? . . . . . . Park Jonggun x Kim Jungoo
