Netranya memandang tak suka, bukan hanya tidak suka, sirat kebencian terlihat jelas pada sepasang manik hitamnya. Pemandangan dua orang yang tengah asik bermain sebuah video game itu sukses membuatnya geram setengah mati. Dia berdecak pelan, dirinya serasa di abaikan oleh sesosok pirang yang sedang tertawa lepas karena sosok pirang berkulit tan, menertawakan si kulit tan yang kalah telak dalam racing game yang tengah mereka mainkan.
Pemuda yang kalah dalam permainan itu cemberut, kesal karena lawan mainnya mengejek kekalahannya. Baru sekali kalah langsung di ejek habis-habisan, padahal dalam permainan sebelumnya ia banyak menjadi pemenang, tapi dia tidak pernah tuh mengejek lelaki berkacamata ini, giliran ia yang kalah malah perlakuan seperti ini yang dia dapatkan.
"Puas?" Tanya pemuda berkulit tan itu dengan datar.
Kim Jungoo, lelaki yang sejak tadi memberi ejekan itu menghentikan tawanya, di pegang perutnya yang terasa keram akibat kebanyakan tertawa itu.
"Lo payah sih!" Serunya jahil.
Cheon Taejin, lelaki bersurai pirang dengan kulit tan-nya yang eksotis itu merasakan alisnya berkedut saking kesalnya. Payah? Yang payah di sini itu sebenarnya adalah Kim Jungoo sendiri, dari lima game yang mereka mainkan Jungoo hanya memenangkan satu, itupun karena Taejin mengalah, sebab ia melihat Jungoo yang terlihat seperti akan menangis tadi. Tapi malah seperti ini balasan yang ia dapatkan, jika tau seperti ini ia tidak akan mengalah dan membiarkan Jungoo menangisi kekalahannya dengan dramatis.
Taejin menghela nafas, berusaha tetap sabar di tengah cemoohan yang ia dapatkan. Dari arah belakang ia merasakan tengkuknya yang menjadi dingin dalam waktu yang singkat, ia menoleh, sekarang ia tau mengapa atmosfer di ruangan ini menjadi seperti kutub Utara dalam sekejap mata. Seorang pemuda bernetra hitam di belakangnya menatapnya tajam, seakan tatapan matanya mampu menguliti Taejin hidup-hidup.
Lelaki berkulit tan itu bergidik ngeri, ia lupa, sejak bermain game dengan Jungoo ia lupa bahwa lelaki aneh itu berada di ruangan yang sama dengannya. Taejin merasa bahwa teman Jungoo itu sangat tidak menyukai kehadirannya sejak dulu. Seakan mengatakan bahwa ia tidak boleh berteman dengan Kim Jungoo, tetapi ya, Taejin acuh saja, hidup Jungoo kan bukan milik temannya itu. Selama Jungoo masih ingin menjadi temannya mengapa tidak? Yah, walaupun terkadang Taejin merasa tidak nyaman dengan kehadiran sosok 'aneh' bernetra hitam tersebut sebenarnya.
Taejin melihat pada jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, ia bermain sampai lupa waktu, pukul sepuluh malam telah lewat tanpa ia sadari. Ia bangkit dari duduknya, membuat gerakan perenggangan karena ototnya yang terasa kaku karena duduk terlalu lama.
"Gue pulang dulu," ujar Taejin setelah di rasa otot-ototnya kembali dalam keadaan semula.
Jungoo mendongak, menatap Taejin yang telah berselendang tas, "Lo enggak mau nginep aja?"
Taejin berpikir sejenak, menimang tawaran dari si pirang barusan, ia sebenarnya ingin, tetapi suara batuk yang sangat keras milik si surai hitam langsung membuatnya yakin menolak tawaran Kim Jungoo barusan, "Gak usah, lain kali aja."
Jungoo mengangguk, "Hati-hati." Pesannya kepada Taejin yang telah berjalan menuju pintu keluar.
Taejin memberi kedua jempolnya sebagai isyarat untuk mengatakan 'oke' kepada Jungoo, sebelum ia menutup pintu, Taejin sempat melihat lelaki bersurai hitam yang tak sedetikpun 'menormalkan' tatapannya. Dasar lelaki aneh, rutuk Taejin dalam hati sepanjang perjalanan pulangnya.
Saat ini, dalam kamar apartemen milik pemuda pirang tersisa dua orang. Si pemilik kamar sibuk merapikan video game yang berantakan itu, sementara pemuda bernetra hitam hanya sibuk melihat apa yang di lakukan oleh si pirang dari sofa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rekan? || GunGoo
De TodoApa yang membuat sebuah hubungan 'abu-abu' di antara mereka berjalan begitu rumit? Terlambat menyadari, atau kalah oleh ego masing-masing? . . . . . . Park Jonggun x Kim Jungoo
