Ayo Pulang.

567 46 8
                                        

Sepasang matanya mengerjap, menelisik pada setiap sudut ruangan yang tidak lagi asing, lebih tepatnya ia mengetahui dengan baik tempat apa ini, kamarnya. Mulutnya mengeluarkan erangan lirih, bukan hanya kepalanya yang terasa sakit, tetapi seluruh tubuhnya seperti kehilangan tenaga.

Tangannya menyentuh tenggorokannya yang terasa sangat kering, ia butuh air. Si pirang mendudukkan diri dengan segala upayanya. Segelas air yang terletak di atas meja kecil pada samping ranjang berusaha ia raih. Sebelum sosok pirang yang merasa sangat dehidrasi itu berhasil meraih air, gelas tersebut telah di sodorkan di depan mulutnya.

Lelaki yang terlihat baru selesai mandi itu meminumkan air tersebut pada surai pirang. Tanpa sepatah kata bibirnya menyunggingkan senyuman dengan tangan yang masih sibuk memberi minum. Setelah air di teguk hingga menyisakan setengah gelas barulah kegiatan ini usai.

Melihat Jungoo yang seperti akan bangun dari posisinya, Jonggun menahannya, ia mengusap rambut pirang itu dengan lembut sembari berkata, "Tidur aja."

Tetapi, pemilik helaian pirang itu masih kekeuh agar setidaknya bisa untuk duduk. Hafal dengan sifat keras kepala yang di miliki oleh manusia pirang satu ini, Jonggun membantunya mau tidak mau.

Dengan punggung yang bersandar pada kepala ranjang, terlihat bahwa Jungoo mengernyit tipis karena rasa tak nyaman yang di tahan. Dari posisinya kedua orang itu yang kini duduk berdekatan membuat Jonggun ingin sekali agar Jungoo berbaring saja kembali. Namun, Jonggun pun tau bahwa Jungoo tak menginginkan hal tersebut.

Suara pelan yang terdengar masih sangat lemah keluar dari mulut lelaki pirang, "Jonggun, maaf..."

Lelaki bermata hitam itu tersenyum tipis, ia meraih sebelah tangan si pirang, memberi sebuah usapan yang menyalurkan rasa nyaman di sana.

Jonggun bertanya, "Kenapa minta maaf?"

Jungoo menghadapkan badannya ke arah Jonggun dengan sangat hati-hati, tangan kirinya yang tidak sedang di genggam oleh Jonggun ia angkat, berupaya untuk menyentuh wajah kekasihnya.

Park Jonggun yang mengerti hal tersebut mendekatkan wajahnya, memberi kemudahan untuk tangan yang terlihat sangat tak bertenaga itu. Begitu tangan si pirang mendapat pada pelipisnya, Jonggun merasakan bahwa jemari Jungoo yang menyentuh luka gores pada pelipisnya terasa gemetar. Luka itu hanya benar-benar luka gores biasa karena Jonggun yang sedikit menurunkan kewaspadaannya saat itu.

Jungoo menatap pada sepasang mata Jonggun, ada sirat ke khawatiran di kedua mata milik Jungoo, "Lo luka." Ujarnya.

Jonggun terkekeh halus, ia meraih tangan kekasihnya yang berada pada pelipisnya, bibirnya memberi sebuah kecupan singkat pada punggung tangan berkulit putih tersebut, "Luka sekecil ini gak bakalan bikin gue mati, Jungoo."

Si pirang terlihat menunduk, ada rasa penyesalan yang di ungkapkan dalam kalimatnya, "Tetep aja, gara-gara gue keras kepala lo jadi gini..."

Jonggun melepaskan tangan kirinya yang menggenggam tangan Jungoo sejak tadi itu, ia meraih dagu kekasihnya secara lembut, mengajaknya untuk kembali bertatapan, "Harusnya gue yang minta maaf karena kelamaan jemput lo, lo pasti takut, maaf ya."

Jungoo menggeleng, tidak pantas jika ia menerima permintaan maaf dari seorang Jonggun, di saat lelaki itu lebih memilih dirinya sebagai prioritas.

Lantas lelaki pirang itu tersenyum, ia berujar lembut, "Makasih, karena lebih mentingin gue di banding diri lo sendiri."

Pemuda berambut legam itu mengangguk, tangannya yang masih berada di dagu lelaki pirang mendekatkan wajah kekasih yang sangat ia rindukan. Jonggun menempelkan bibir mereka, sebuah ciuman ringan terbentuk tanpa adanya nafsu di dalamnya.

Rekan? || GunGooCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang