Hubungan.

940 72 9
                                        

Sebelah tangan ber-ukirkan tato menopang kepalanya, memposisikan tubuhnya agar menghadap pemuda yang memejamkan mata. Sepasang manik berwarna hitam menatap tanpa berdekip, memandang wajah lelaki pirang yang senantiasa terlelap ketika matahari telah menjalankan tugasnya. Sebuah rutinitas menyenangkan yang ia yakini bahwa sampai kapanpun ia melakukan ini dirinya tidak akan pernah merasa bosan.

Tangannya yang bebas menyentuh wajah putih tanpa cacat, begitu indah hingga ia bermain-main di sana dalam waktu yang lumayan lama. Lalu, ia guncang pelan dagu pemuda pirang tersebut, tetapi jangankan terganggu, lelaki itu tidak bereaksi apa-apa, melenguh pun tidak.

Park Jonggun mendengus geli, apakah ia harus menyiram Kim Jungoo ini dengan seember air hingga lelaki itu terbangun?

Haha, tidak. Ia tidak menginginkan adanya huru-hara pagi ini.

Lalu, ia mendekatkan wajahnya ke area telinga lelaki pirang. Suara berat nya mengalun pelan, "Bangun, Tuan putri," tak lupa, Jonggun ikut memberikan gigitan kecil pada daun telinga Jungoo.

Hal itu bekerja, seseorang yang Jonggun panggil dengan sebutan 'Tuan putri' itu kini mengerjapkan kelopak matanya, tidurnya terusik.

Si pirang nampak berdecak, suara seraknya terdengar tidak terima, "...Gue bukan 'Tuan putri'."

Alunan tawa pelan terdengar, "Habisnya lo cantik sih." Tutur Jonggun.

Lelaki pirang itu mengucek kedua kelopak matanya dengan lembut, ia menguap sekali sebelum merubah posisinya menjadi berbaring menghadap lelaki berambut hitam.

Wajah yang terlihat masih sangat mengantuk itu terlihat sedikit ketus, ia menggerutu, "Udahlah Jonggun, mulut lo pagi gini udah manis aja."

Jonggun menyibakkan rambut lelaki pirang yang berantakan, menata menggunakan jemarinya dengan lembut, ia terkekeh pelan, "Darimana lo tau? Kan kita belum Morning Kiss."

Jungoo membuat ekspresi malas, "Jangan mulai," ujarnya sembari merubah posisinya agar tak lagi menghadap Jonggun.

Jungoo tidak kesal, alasan mengapa ia lebih memilih untuk menatap langit-langit adalah karena penampilan Park Jonggun yang di pagi hari membuat jantungnya menggila. Bagaimana bisa seseorang yang belum mencuci muka bisa terlihat sangat, um, tampan? Sialan memang.

Jonggun nyengir tanpa dosa, ia membawa tubuh lelaki pirang yang masih berbaring ke dalam pelukannya. Wajahnya ia taruh di ceruk leher pemuda bermarga Kim, gigitan kecil ia berikan di area tersebut.

Jungoo mendesis perih, dirinya menyumpah dalam hati, apakah Jonggun tidak puas dengan hasil karyanya itu atau bagaimana?

Semalam suntuk Jungoo dengan sukarela memberikan area lehernya untuk Jonggun, membiarkan lelaki berambut hitam itu memberikan 'tanda' di sana, tetapi saat ini, secara kurang ajar Jonggun semakin memperjelas bitemark yang ada di sekitar lehernya. Mungkin otak Jonggun telah merosot hingga ke dengkul.

Jangan berpikiran aneh, mereka tidak melakukan apapun. Yah, hanya sebatas memberi tanda kepemilikan.

Walaupun nanti Jungoo juga akan menutupinya, sih. Jangan gila, ia tidak ingin di pandang aneh oleh orang-orang.

Jonggun menyudahi kegiatan 'menggigit' nya itu, senyum puas terukir di bibirnya kala karyanya terlihat dengan sangat apik. Tetapi ia sedikit cemberut jika mengingat bahwa Jungoo akan menutupinya 'seni' buatannya itu nanti. Namun tidak mengapa, kenyamanan lelaki pirangnya adalah nomor satu.

Lelaki bersurai legam semakin mengeratkan pelukannya, kakinya bahkan telah menindih pemuda pirang, mencegah agar pria yang sepertinya akan bangun itu agar tetap berada di ranjang. Ayolah, Jonggun masih ingin berada dalam posisi nyaman ini beberapa saat lagi saja.

Rekan? || GunGooCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang