Pencariannya telah menemui fajar, tetapi tidak ada manusia yang di carinya pada alamat-alamat yang di tuturkan oleh pecundang beberapa waktu lalu. Yang ada malah ia yang secara tidak sadar melepaskan tinjunya untuk memukuli orang-orang payah yang ia temui di tempat tak manusiawi tersebut.
Ia kesal setengah mati, jadi menjadikan mereka-mereka itu sebagai samsak hidupnya tentu dapat meredakan sedikit emosi yang mendera. Masalahnya, sebesar apapun ke anarkis-an yang dia buat, hasilnya tetap sama, tidak ada Cheon Taejin di tempat ia membuat keributan.
Kemana lagi ya dia harus mencari?
Jika di pikir, ia tau harus meminta bantuan kepada siapa, mantan bos nya adalah orang yang tepat. Pasti si tua itu dapat dengan mudah menemukan Kim Jungoo-nya.
Haruskah ia meminta tolong? Tetapi ia kembali menimang, bayarannya tentu tidak murah. Jonggun dapat memastikan bahwa bayaran yang di minta bukan lagi uang, melainkan 'janji' setia untuk melayani seumur hidup pria berlengan satu itu, mengingat ia sudah mengkhianati Choi Dongsoo.
Tapi, jika ia meminta orang lain, belum tentu akan langsung mendapat kepastian. Dan jika harus menunggu lebih lama ia takut terjadi sesuatu dengan lelaki pirang miliknya.
Jonggun menghela nafas, seperti ia punya pilihan lain saja.
Dengan wajah datarnya ia menginjak para samsak nya, kakinya berjalan dengan santai layaknya yang ia injak hanyalah sebuah karpet, bukan manusia. Ia naik pada motor nya, helm yang menutupi seluruh wajahnya di kenakan kemudian. Jonggun menatap sebentar pantulan dirinya di spion, ia meyakinkan diri. Baiklah, mari lakukan, masuk kembali dalam 'dunia' yang sebenarnya tidak ingin ia sentuh lagi ini.
.
.
Tubuhnya tidak lagi terikat konyol pada kursi, ia kini berbaring pada sebuah kasur putih. Sembari menatap langit-langit, hal yang terlihat oleh matanya hanyalah foto nya. Di dalam kondisi seperti ini, ia merasa bahwa menjadi manusia yang tidak bisa melihat bukanlah hal yang buruk.
Posisinya lalu berubah, ia duduk bersandar merapat pada dinding. Termenung memijat pelipisnya dengan sebelah tangan yang menutup mulut, takut jika ia benar-benar muntah di sana.
Padahal, semua foto yang di ambil adalah dirinya sendiri, tapi dia merasakan jijik yang sangat amat melandanya. Membayangkan bahwa sang 'pelaku' menggunakan foto-foto ini untuk berfantasi tidak sopan, membuatnya melayangkan tinjuan pada dinding yang tertutup foto-foto itu sebagai pelampiasan.
Kukunya mencoba melepas potretnya yang telah tercetak, tetapi seberapa keras ia mencoba hingga jari-jari nya terluka, foto itu tetap menempel dengan kuat, entah apa yang di gunakan untuk merekatkan foto-foto ini.
Merasa apa yang di lakukannya hanya akan membuang tenaga, ia membaringkan tubuhnya pada ranjang dengan sprei putih tanpa adanya setitik noda. Lengannya bergerak, menutupi sepasang matanya agar tak lagi melihat hal yang membuatnya bulu kuduknya berdiri.
Berapa lama lagi ia harus terkurung dalam ruangan menjijikkan bernuansa fotonya ini?
Ia merasa sudah mulai kehabisan pasokan oksigen karena ruangan yang di desain tanpa ventilasi, seolah-olah tempat ini memang di persiapkan untuk menjadi kuburannya. Padahal katanya, 'dia' sedang menyiapkan kehidupan baru tetapi kalau begini malah kematian yang akan datang lebih cepat.
Sialan, dia jadi over thinking. Bagaimana jika dia benar-benar mati di tempat ini? Siapa yang akan menemukan mayatnya? Ia tidak ingin di kebumikan secara asal, atau ia akan bergentayangan dalam bentuk barunya yaitu roh untuk meneror orang-orang yang ia kenal. Tunggu, menjadi arwah dan berbuat kejahilan kecil mungkin akan terasa menyenangkan.
Dia beranjak dari posisinya, duduk pada pinggiran ranjang dengan perasaan tak tenang, tangannya meremat helaian rambut blonde-nya.
Pikiran apa barusan yang terlintas dalam benaknya? Lelaki yang terkurung itu mulai mempertanyakan kewarasannya sekarang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rekan? || GunGoo
RandomApa yang membuat sebuah hubungan 'abu-abu' di antara mereka berjalan begitu rumit? Terlambat menyadari, atau kalah oleh ego masing-masing? . . . . . . Park Jonggun x Kim Jungoo
