Sudah tak terhitung berapa kali mereka saling cek-cok semenjak kembali tinggal bersama. Dapur yang berantakan itu selalu menjadi saksi pertengkaran ringan kedua sejoli ini karena masalah yang sama setiap hari, yaitu si pirang yang ingin membantu akan tetapi niat baiknya selalu mendapat penolakan dari si rambut hitam. Jika saja dapur itu mempunyai sebuah jiwa, maka dapat di pastikan bahwa helaan nafas lelah akan terdengar setiap saatnya.
Si pirang sekarang bahkan sudah terlihat dengan sangat jelas bahwa akan merampas kegiatan yang netra hitam itu lakukan.
Tangan Jungoo berusaha menggapai pisau yang di gunakan oleh Jonggun untuk memotong daging, tetapi Jonggun tentu saja mempertahankan kegiatannya tersebut agar tak jatuh ke tangan si pirang.
Jungoo merengek kesal, "Gue mau bantu, Jonggun!"
Jonggun menodongkan pisau dapurnya ke area leher si pirang, suaranya naik beberapa oktaf, "Enggak usah! Tinggal duduk sana apa susahnya sih?!"
Lelaki pirang itu segera menepis tangan Jonggun, ia ingin membantu tetapi mata hitam sialan itu terlihat seperti akan membunuhnya.
Lagi lagi Jungoo protes, "Gue juga mau belajar!"
Jonggun berdecak, ia kembali pada kegiatannya, "Lo gak bisa-bisa, padahal udah sering gue ajarin."
Merasa geram, rambut pirangnya ia acak-acak kasar, "Gimana gue mau bisa kalau lo nge-blame gue terus?!"
Jonggun tersenyum remeh, ia mencibir, "Ya simple aja, itu artinya lo gak berbakat."
Jungoo menendang kaki Jonggun pelan karena kesal yang ia rasakan, langkahnya menghentak kasar menjauhi si surai legam yang terus fokus pada kegiatannya itu.
Kim Jungoo, akhirnya ia menurut duduk pada salah satu kursi pada meja makan dengan perasaan yang masih dongkol. Padahal ia ingin membantu sekalian ingin belajar, tapi Jonggun selalu menolak bantuan gratis nya itu. Huh, dasar tidak tau terima kasih.
Dari tempat duduknya itu Jungoo dapat melihat dengan punggung pemuda bernetra hitam yang terekspos sangat jelas karena tak ada kain yang bertengger di sana. Jungoo berdecih sebal, Park Jonggun itu senang sekali memamerkan badannya sejak dulu. Masalahnya, si pirang itu sedikit iri, padahal mereka bisa di bilang tumbuh bersama, tapi fisik Jonggun entah mengapa terlihat lebih atletis daripada dirinya.
Apa ya? Park Jonggun itu sangat, ugh, jantan?
Di tengah kegiatan pandang-memandang yang di lakukan oleh Jungoo, Jonggun berceletuk tanpa menoleh ke lawan bicaranya, "Itu karena lo kebanyakan makan makanan instan."
Jungoo mengernyit bingung, "Hah?"
Kali ini, lelaki berambut hitam itu sedikit menoleh, sebuah seringai tipis terbentuk di bibirnya, "Kelihatan banget kalau lo merhatiin badan gue dari tadi."
Jungoo langsung memandang tak tentu arah, ia seperti tertangkap basah.
Suaranya naik, menyembunyikan rasa malu yang tiba-tiba menyebar di seluruh badannya, "Percaya diri banget lo?!"
Sembari memasukkan bahan-bahan masakannya, Jonggun tertawa pelan, "Kalau ngegas berarti yang gue ucapin fakta."
Walaupun tak melihat langsung ekspresi si pirang, tetapi Jonggun yakin bahwa Jungoo sedang mengutuk serta mencaci maki dirinya.
Masih fokus dengan kegiatan memasaknya itu, Jonggun berucap kepada Jungoo, "Habis ini kita bakalan nagih uang sewa dari para Crew itu."
.
.
Di dalam sebuah gudang milik sebuah Crew, para bocah di sana terlihat membawa sebuah kardus. Isi dari kardus itu tak lain adalah tumpukan uang sewa yang harus mereka bayar. Menyetorkan uang-uang pada dua orang lelaki yang sedang duduk di sofa usang dalam gudang yang menjadi tempat tersebut sudah menjadi pekerjaan wajib anak-anak itu setiap bulan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rekan? || GunGoo
CasualeApa yang membuat sebuah hubungan 'abu-abu' di antara mereka berjalan begitu rumit? Terlambat menyadari, atau kalah oleh ego masing-masing? . . . . . . Park Jonggun x Kim Jungoo
