Lepas

609 53 2
                                        

Matanya belum terpejam sejak tadi malam, lebih tepatnya setelah ia menyaksikan bagaimana tempat yang di tinggali oleh para Crew telah rata dengan tanah, semuanya tanpa terkecuali.

Awalnya ia kesana hanya untuk sekedar bermain seperti biasa, akan tetapi begitu sampai, tempat tersebut telah berubah menjadi seperti bekas peperangan. Ketika ia mencari ke berbagai sudut, hanya angin yang menjawab pencariannya. Otaknya berpikir keras, apakah bantuannya selama tiga bulan belakangan ini telah terbongkar? Jika iya, berita buruk, besar kemungkinan bahwa anak-anak Crew ini akan di peras tenaga nya untuk 'mengabdi' pada suatu tempat di antah berantah.

Mengikuti insting yang telah tak lagi awam dengan peristiwa seperti sekarang ini, ia pergi ke beberapa pelabuhan yang menurutnya agak mencurigakan, setidaknya mencari sedikit petunjuk yang mungkin saja ia bisa menemukan bocah-bocah 'kesayangannya'. Ia yakin, anak-anak ini telah di larikan dengan kapal, melewati sebuah penyelundupan ilegal.

Tetapi, usahanya tidak berbuah manis. Setelah berbagai ke onaran yang ia buat, 'meminta' izin dengan sedikit ancaman untuk memeriksa apa saya yang berada di dalam kapal, dirinya hanya mendapati bahwa kapal-kapal yang sempat ia curigai tak lain hanya mengangkut bahan pangan serta benda tak berguna lainnya.

Bukannya pesimis atau tidak lagi peduli, tapi tidak ada lagi hal yang bisa di lakukannya. Disini, ia bukan orang yang punya kuasa.

Dia kehilangan mereka semua, anak-anak yang selama ini sudah tidak ia nyatakan sebagai orang asing, menghilang tanpa jejak dalam satu malam. Ia tau, para bocah yang menjadi teman bermainnya telah di asingkan entah ke negeri mana.

Melanjutkan pencarian pun tidak akan berguna, kekuatannya tak sebanding dengan lelaki paruh baya itu. Pasti, semua 'jalan' yang akan ia tempuh dalam segala upaya nya akan tertutup rapat, yang hanya akan menemui ujung sia-sia. Dasar tua bangka licik.

Jadi, Kim Jungoo mulai memikirkan satu hal, mungkin jika ia datang satu detik lebih awal sesuatu akan berubah.

Choi Dongsoo itu tidak pernah puas kah dengan apa yang sudah di raihnya selama ini? Entahlah, semakin manusia berada di posisi atas, mereka hanya akan semakin menjauh dari kata puas.

Ia duduk beralas pasir, di tepi pelabuhan terakhir yang bisa ia datangi, sebelum menyaksikan kapal-kapal 'bersih' tersebut berlayar. Sepasang matanya melihat kosong ke arah Timur, merekam mentari yang mulai muncul menjalankan tugas untuk menerangi jagat. Wajahnya nampak tenang, tetapi kerutan di alisnya telah mengisyaratkan kegundahan yang tengah melanda.

Dering ponsel dari sakunya membuat dia sedikit terlonjak, satu nama yang sangat familiar. Jungoo mengangkat panggilan tersebut, di letakkan ponselnya di dekat telinga.

"Apa?" Tanyanya lesu.

Terdengar suara tawa kecil milik Jonggun dari seberang panggilan yang berlangsung, "Lo dimana? Seru banget kelihatannya mainnya sampe gak inget sama gue?"

Jungoo menarik nafasnya yang terdengar sangat berat, "Gue pikir rencana kita buat ngasih tempat tinggal ke anak-anak ini enggak usah di lanjutin."

Lelaki bermata hitam terdiam beberapa detik sebelum menanggapi, "Kenapa? Kan lo pingin banget, katanya lo mau main sama mereka tanpa mereka harus mikirin uang buat biaya tempat tinggal."

Jungoo mengusak rambutnya secara gusar, ia kembali bersuara, "Mereka udah enggak ada. Semalem suntuk gue nyari sana-sini tapi mereka udah hilang. Dari sini lo harusnya udah tau langkah apa yang bakal gue ambil selanjutnya. Soal apa yang jadi pilihan lo, itu terserah lo, Park Jonggun."

Terdengar bahwa sekarang Jonggun menjadi lebih serius, "Kita masuk bareng, kalau lo sampe duluan disana, jangan pernah masuk tanpa gue, ngerti, Kim Jungoo?"

Rekan? || GunGooCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang