Eight

157 24 0
                                    

Happy Reading!

_

_

_

_

_

Hanbin melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar si bungsu. Ia sadar, dirinya sangat jarang memperhatikan si bungsu, atau bahkan tidak pernah sama sekali. Dirinya selalu memandang si bungsu dengan sebelah mata saja. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana perjuangan hidup si bungsu.

Setiap hari, dirinya selalu mengikutkan anaknya untuk mengikuti bimbingan belajar online.

Hanbin sadar. Bahwa dirinya, terlalu menekan si bungsu dan tidak memikirkan hal apa yang terjadi kedepannya.

Hanbin tidak pernah puas dengan pencapaian si bungsu. Benar, bukan?

Dirinya sangat susah untuk mengontrol emosinya, dan selalu menjadikan si bungsu pelampiasan. Dirinya salah, sangat salah.

Setiap Hanbin memiliki masalah, ia selalu melampiaskan kemarahannya pada si bungsu yang tidak mengetahui apa-apa.

Dirinya juga tidak bisa menghargai pencapaian anak bungsunya. Jika Haruto mendapat nilai 80-90 ke atas saja, dirinya selalu tidak puas. Dia akan mengatakan, nilai segitu tidak ada apa-apanya.

Anak yang dulu ia nanti-nantikan, sekarang selalu ia siksa tanpa ampun. Dia selalu merasa, kehadiran si bungsu membawa malapetaka.

Sangat egois bukan?

Hanbin sekarang sadar bahwa dirinya,
Tidak pantas disebut seorang ayah.

____

"A-ada apa a-ayah? Me-mengapa menghampiriku?" Tanya Haruto dengan gugup. Sangat gugup.

"Saya dengar-dengar, kamu telah mengikuti suatu lomba ya?"

"I-iya.. haru tadi pagi mengikuti suatu lomba."

"Kapan pengumuman pemenangnya?"

"Be-besok, yah."

"Bagus. Jangan bikin saya kecewa, Haruto."

"B-baik, ay-ayah."

"Kamu tidak makan malam? Saya sudah memesankan makanan. Tadi kamu juga membeli makanan ya?"

"I-iya. Haru m-membelikan, k-kalian s-s-semua makan malam."

"Baiklah. Kamu ikut makan saja kalau begitu."

"Baiklah, a-ayah."

_____

Di meja makan itu, sudah terdapat 4 anak laki-laki dan ayahnya. Hening menyelimuti mereka, karena merasa gugup untuk sekedar mengobrol dengan Haruto. Tidak biasanya Haruto ikut bergabung di meja makan.

Bukan hanya Haruto yang merasakannya, tetapi juga semuanya ikut merasakan bahwa makan malam kali ini rasanya canggung, sangat canggung.

Haruto rasanya sangat ingin memecahkan keheningan yang menyelimuti mereka. Tetapi, Haruto itu pendiam, sangat susah untuk mencari topik pembicaraan.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jan 20 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Anak BungsuTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang