Motor besar warna hitam itu melaju begitu cepat, menerobos jalanan sepi dengan seorang gadis yang mengendarai tanpa ada rasa takut. Pertarungan sengit diantara kedua motor itu semakin memanas, teriakan penonton semakin ramai.
Cittttt..... Salah satu motor sampai di finis dengan bangga dia mengangkat tangannya membuat penonton semakin bersorak
"Lo keren Rey" Kata Hani bahagia melihat sahabatnya menang
Reyna membuka helmnya dan tersenyum "Thanks Han"
"Gue akui lo hebat kali ini, tapi lain kali gue pasti bisa kalahin lo" Ucap devan lawan Reyna tadi.
"Mana uangnya" Balas Reyna menagih hadiah kemenangannya.
"Tenang aja, nanti gue kasih gimana kalo kita ngobrol dulu" Kata Devan
"Gue gak suka basa basi serahin uangnya sekarang" Gertak Reyna tak suka dengan tingkah Devan yang terlalu bertele-tele
Devan mendecih "lo sombong juga ya"
"Gue bilang serahin uangnya, atau gue hajar lo sekarang" Balas Reyna
Devan tertawa" Udahlah gak usah sok jual mahal, gue tahu kok lo tuh sama ajah kaya cewek lain yang suka sama tawaran cowok kaya gue " Ucap Devan sambil mencolek wajah Reyna
"Jaga tangan lo ya" Kata Hani yang tak Terima sahabatnya dilecehkan.
"Wow, sahabatnya bela nih bos" Kata Galih teman Devan.
Reyna maju menghadap kearah Devan, tanpa aba-aba dia menonjok wajah ganteng Devan.
"Anjing... " Umpat Devan melihat bibirnya berdarah akibat ulah dari Reyna.
Reyna tersenyum senang " Lain kali jangan main-main sama gue, serahin uangnya sekarang "
Devan memberikan uangnya dan pergi dari hadapan Reyna " Gue bakal bales lo nanti"
"Yayayay" Ejek Reyna.
"Lo keren Rey, gawat Rey polisi.... Kita lari" Ucap Hani dan lari pergi ninggalin Reyna.
"Sial, gue harus tinggalin lo disini black" Ucap Reyna kepada motor kesayangannya dan pergi mencari tempat untuk bersembunyi.
*****
Ponsel Arum terus berdering tertera nama Hendra sialan, bukankah keterlaluan menamai papahnya dengan sebutan itu itulah Arum dia sangat membenci papahnya itu. Dirinya selalu dipaksa untuk belajar tentang perusahaan nyatanya Arum tidak suka itu dia lebih tertarik dunia model namun apa boleh buat membantah akan membuat Arum menderita.
"Ada apa? " Balas Ahyeon malas
"Iya pah, Arum gak lupa! "
"Bentar lagi Arum sampai kantor papah tepat waktu, papah tunggu aja" Setelah berucap seperti itu Arum langsung mematikan panggilannya.
Muak tentu yang dirasakan oleh Arum, kenapa sih hidupnya sudah diatur oleh orang tuanya.
Hera menepuk pundak Arum " Disuruh ke kantor lagi? " Tanyanya seakan tahu apa yang dirasakan oleh Arum
Arum hanya mengangguk lemas dia sangat malas untuk datang kesana, isinya hanya tentang bisnis yang membuat Arum pusing tujuh keliling.
"Gak usah diambil pusing lah Rum, setelah dari kantor bokap lo kita ke club gimana? Hilangin rasa stress setelah dari kantor bokap lo" Saran Hera sesat
"Oke, habis dari kantor bokap kita happy-happy diclub. Kalo gitu gue pergi dulu ya ketemu entar malam bye bestiee" Ucap Arum dan pergi meninggalkan Hera.
Hera tersenyum " Gue mau lo tersenyum terus Rum"
****
"Kak Jehan," Ucap Reyna namun mulutnya dibekap oleh Jehan
KAMU SEDANG MEMBACA
Pelangi
Teen Fiction"Hanya karena gue yang paling tua, bukan berarti kalian bisa seenaknya melimpahkan masalah kalian ke gue. " Aruna Putri "Kenapa kalian selalu menyalahkan aku, mamah lebih peduli sama aku karena aku selalu nurut perkataan dia? bukan kaya kalian yang...
