Jati Diri

200 25 3
                                        

Dalam diamnya ada banyak kalimat diotaknya, tidak ada yang tahu sepemikir apa Risma. Dia hanya diam, mengamati dan menyimpannya sendirian, malam ini ditaman dia duduk memikirkan entah apa yang dia pikirkan. Menjalani kehidupan seperti ini rasanya sangat sulit dijelaskan, pertengkaran, keegoisan bahkan kebencian diantara mereka semakin bikin kepala Risma pecah. Masalah itu dan itu lagi setiap harinya, tidak ada yang berubah dari dia dilahirkan.

"Kalo kaya gini terus menerus gue sulit untuk jadi diri sendiri" Keluhnya dalam diam

Malam ini dia menangis setelah sekian lamanya dia tahan agar tidak menangis, tapi malam ini dia kembali menangis sama seperti pertama kali dia menangis saat dia kecil.

Tangannya ia remas kuat menahan emosi yang dia pendam sendiri, Risma tidak seperti saudaranya yang gampang mengucapkan apa yang ada dipikirannya. Terkadang dia ingin mengungkapkan pendapatnya, seperti 'apa aku boleh minta itu? ' ya rasanya sulit sekali Risma menyatakannya.

"Kenapa harus takut? Harusnya kamu bisa Risma, berhenti menangis! Sudah selama itu kamu menahannya kenapa malah kaya gini" Sesak Risma yang mulai tidak bisa mengontrol tangisannya.

Kalimat yang dia rangkai dalam otaknya terus berputar, Risma memegangi kepalanya yang terasa berdenyut hebat dadanya juga ikut sesak.

"Tidak! Kenapa harus kaya gini? Risma kamu kuat, stop jangan nangis" Ucap Risma berusaha menenangkan dirinya.

Tubuhnya mulai gelisah, tangisan semakin keras kepalanya semakin sakit memutar kalimat-kalimat itu, Risma hilang kendali dia berusaha mencari sesuatu di dalam tasnya.

"Tinggal satu? , bagaimana bisa aku lupa membelinya lagi? " Katanya setelah menemukan obat  yang bisa dia konsumsi setiap harinya.

Dia berusaha meminumnya, tapi obat itu tidak berpengaruh dia harusnya meminum 3 tablet sekaligus ini tidak bisa membantunya.

Risma memencet ponselnya menekan nomor itu "Aku ditaman, tolong! "

Dia langsung mematikan ponselnya berharap seseorang datang dan menolongnya.

*****

Caca tidak suka dengan suasana malam ini memandang wajah sok polos Anin bikin selera makan dia berkurang ditambah wajah menyebalkan Prilly semakin bikin Caca muak.

Dia berdiri meninggalkan makanan yang belum dia sentuh sama sekali.

"Kamu mau kemana? " Tanya Prilly lembut yang melihat Caca ingin pergi

"Bukan urusan lo" Cuek Caca dan pergi ninggalin Meja makan

Prilly hanya membuang nafas kesal, dia merasa bersalah dengannya tadi siang.

"Kak" Panggil Anin memegang pundak Prilly

Prilly tersenyum dan mengelus tangan putih milik adiknya " Gak papa udah biasakan? "

Dikamar Caca merebahkan tubuhnya, harusnya dia makan malam ini tapi karena ada dua manusi yang tadi bikin Caca marah besar dia enggan menyantap makanannya. Jika dipikir-pikir kehidupannya lucu ya, tuntutan orang tua yang selalu Caca langgar, keegoisan kakak-kakaknya , rasa kasih sayang yang harusnya dia dapat justru dia tidak pernah dapatkan dari siapapun itu.

"Gila, selama 16 tahun gue bertahan dalam rumah ini. Lo hebat Ca! " Gumamnya dia tersenyum sinis mengingat kehidupannya selama 16 tahun tak ada yang mengerti dirinya.

"Kalo dipikir-pikir gue punya mental kuat" Katanya lagi dengan senyuman yang sulit diartikan.

Caca berdiri melihat ponselnya apakah ada yang memberinya pekerjaan. Dan benar ada notif pesan yang bikin Caca bahagia.

'Jl. Mentari no. 3 lakukan' itulah pesan yang terdapat dalam ponselnya.

Caca mengetik kata ok dan memakai jaket kesayangannya melihat dirinya dalam cermin dan tersenyum puas "Gue hebat! Pekerjaan ini bikin gue semakin tertantang meski resikonya besar" Gumamnya melihat dirinya

Caca bergegas pergi ke alamat yang seseorang kirim untuknya.

****

"Je... Tolong! Ini sakit, sakit sekali" Ucap Risma dalam keadaan yang lemah namun masih bisa melihat bahwa Jeje ada didepannya untuk menolong dirinya.

Jeje langsung memeluk tubuh Risma "No, kamu gak sakit Ris! Kamu hanya lelah dan kamu hanya butuh istirahat" Tenangnya agar Risma merasa nyaman dalam pelukannya.

"Aku gak bisa istirahat dengan tenang Je... Aku sakit dari dulu aku emang sakit bukan hanya fisik tapi jiwa juga" Rengeknya dalam tangisan yang semakin keras.

Jeje menangis tidak ini bukan Risma, Risma yang dia kenal kuat dia tidak pernah mengatakan hal itu "Raina! Berhenti kamu jangan bikin Risma terlihat lemah dia perempuan kuat, aku mohon kembalikan Risma, Raina! "

"Kamu salah Je, Risma perlu lemah dia terlalu kuat sampai-sampai dia harus mendem semuanya sendiri. Kamu lihat Je... Tubuh Risma penuh lebam tapi dia pura-pura kuat, aku cuma membantunya agar semua orang mengerti dirinya. " Ucanya dalam tangisan

Jeje melipat lengan baju Risma dia kaget begitu banyak lebam di tangannya. Raina tersenyum " Kamu lihatkan Je, kamu hanya lihat ditangannya belum dipunggunya lebih parah dari ini"

"Maksudnya? " Tanya Jeje bingung

"Mamah bikin coretan luka di punggung Risma, hanya karena kesalahan kecil. " Balasannya sambil menangis

"Coretan luka? Untuk apa? " Tanyanya lagi namun Risma sudah kembali menjadi dirinya.

"Kenapa aku nangis? Je, jangan bilang Raina datang lagi? Apa yang dikatakan Raina Je tolong" Khawatir Risma jika Jeje tahu.

Jeje menggenggam tangan Risma " Raina hanya bilang kamu perlu istirahat, jangan terlalu berfikir jauh" Ucapnya menenangkan Risma. Jeje akan cari tahu sendiri apa yang dimaksud sama Raina tentang Risma. Tanpa harus banyak tanya ke Risma yang bikin Risma semakin menutup dirinya.

"Je... Aku takut" Kata Risma menatap mata Jeje

"Takut kenapa? "

"Aku takut, benteng pertahanan aku runtuh karena Raina." Ucapnya

Jeje mengelus kepala Risma dengan pelan "Kamu gak akan runtuh semudah itu Risma, karena kamu kuat" Balasnya langsung memeluk Risma, Jeje menangis dalam diam merasakan sakitnya Risma.

"Makasih Je.... Karena kamu selalu ada buat aku , tolong jangan tinggalin aku ya"

"Aku gakkan ninggalin kamu, karena aku akan selalu ada buat kamu" Kata Jeje semakin mempererat pelukannya.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jun 13, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

PelangiTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang