Runa terdiam dalam kamar kali ini dia bimbang bagaimana dia bisa menemukan Reyna? Dimana Reyna berada? Apakah Reyna baik-baik saja? Pertanyaan itu terus menghantui pikirannya.
Rasanya dia ingin segera pulang ke Jakarta untuk mencari sang adik, namun pekerjaannya tidak bisa dia tinggal. Terdengar egois memang tapi rasa takut terhadap kedua orang tuanya membuat dia harus tetap berada dalam jalannya.
"Maaf karena kakak gak bisa jadi pelindung kalian" Gumam Aruna melihat foto keluarganya.
Memori itu terputar kembali dimana dia dihajar habis-habisan oleh sang papah.
"Akhhh, kenapa harus muncul? "
Semua barang yang ada dalam kamar dia buang, rasa takut dan kecewa terus menghantui dalam pikirannya. Kacau saat ini otak Runa kacau, entah kenapa semakin hari dia semakin takut.
"Seharusnya aku tak pernah hadir dalam dunia ini! " Ucap Aruna kemudian membanting vas bunga yang ada dalam meja .
"Andainya aku bisa melawan aku tak akan begini?, kenapa harus seandainya yang aku ucapkan? "
"Akhhhhh..... Semuanya memuakkan" Semua barang telah hancur ditangan Aruna.
Aruna langsung naik kekasur berusaha tidur mengambil selimut dan menutupi tubuhnya, memejamkan mata seolah-olah ini semua tidak terjadi. Itulah sifat Runa, dia akan marah dengan dirinya namun dia akan menenangkan dirinya seakan tidak terjadi sesuatu. Tidak memperdulikan kamarnya yang hancur karenanya.
****
"Mau kemana? " Tanya Anin terhadap Arum
Namun Arum tidak sama sekali menggubris pertanyaan sang kakak, dia memilih mengunci pintu kamarnya dan pergi.
"Arum kakak nanya sama kamu, kamu mau pergi kemana" Cegah Anin, karena yang Anin yakini adalah Arum akan pergi ke Club dilihat dari pakaiannya saja Anin sudah tahu.
Arum menatap sang kakak, memandang wajah pucat pasi milik Anin kemudian tertawa meremehkan.
" Club! Apa ada masalah? " Tanya Arum
" Tapi kan papah udah larang kamu agar gak datang lagi ke club Arum, gimana kalo papah tahu? Kamu pasti bakal diusir juga kaya Reyna! " Kata Anin
"Aku gak peduli! Apa hak lo buat ikut campur urusan gue? Harusnya lo urusin hidup lo yang menyedihkan itu Anindya! " Geram Arum
" Gue kaya gini itu karena ulah lo, kalo ajah lo gak penyakitan gue gak akan terbebani urusan kantor sama papah. Jadi stop ngatur gue" Tunjuk Arum ke wajah Anin
" Arum... Kakak minta maaf kalo semua yang terjadi karena kakak, maaf karena kakak juga... "
" Stop minta maaf, karena maaf lo gak akan gue Terima. Selamanya gue benci lo Anindya " Teriak Arum kesal selalu saja minta maaf. Arum hanya menginginkan posisi dia diambil alih oleh Anin.
Arum capek, semua impian yang dia bangun runtuh karena Anin. Arum selalu berandai-andai jika Anin sembuh dia tidak akan jadi seperti ini.
Arum meninggalkan Anin yang menangis, baginya Anin terlalu lemah.
Risma keluar dari kamar menghampiri Anin.
"Udah aku bilangkan? Jangan terlalu ikut campur urusan mereka jika kamu tidak ingin terluka! " Ucap Risma pergi meninggalkan Anin
"Risma" Panggil Anin
"Ada apa? " Risma menoleh
"Tolong bilangin ke Arum jangan sering masuk ke club karena itu gak baik, dia kan kembaran kamu pasti dia akan mengerti kamu" Mohon Anin
KAMU SEDANG MEMBACA
Pelangi
Teen Fiction"Hanya karena gue yang paling tua, bukan berarti kalian bisa seenaknya melimpahkan masalah kalian ke gue. " Aruna Putri "Kenapa kalian selalu menyalahkan aku, mamah lebih peduli sama aku karena aku selalu nurut perkataan dia? bukan kaya kalian yang...
