"Hanya karena gue yang paling tua, bukan berarti kalian bisa seenaknya melimpahkan masalah kalian ke gue. " Aruna Putri
"Kenapa kalian selalu menyalahkan aku, mamah lebih peduli sama aku karena aku selalu nurut perkataan dia? bukan kaya kalian yang...
Anin sedang menata bunga-bunga itu dirak dengan wajah serius dia berhati-hati takut ada bunga yang jatuh, ini kegiatan Anin setelah pulang kuliah dia bekerja ditoko bunga milik kakak tingkatnya.
"Selesai" Senyum Anin merekah, disini dia merasa lega dan tenang dibanding dirumahnya. Dia bekerja untuk dirinya agar dirinya berguna, meski pekerjaannya seperti ini tapi Anin bersyukur memiliki bos yang baik seperti Kak Yosha.
Yosha melihat Anin, menurut Yosha Anin gadis pekerja keras meski dia memiliki penyakit dia tidak pernah mengeluh sedikit pun. Anin selalu ceria dan tertawa tanpa ada rasa takut jika suatu saat nanti Tuhan mengambil nyawanya.
Jika ditanya apakah Yosha menyukai Anin? Jawaban iya selama dia kenal Anin Yosha selalu menganggumi keindahan yang ada diri Anin semuanya. Namun sampai saat ini Yosha belum bisa mengutarakan isi hatinya.
"Nih dimakan" Suruh Yosha sambil menyerahkan bingkisan itu ke Anin.
Anin tersenyum " Makasih kak" Dia langsung memakan makanan pemberian bosnya.
Mata Anin berbinar udang saus manis ini kesukaan Anin, bagaimana bisa kak Yosha tahu makanan kesukaannya selama ini kan dia tidak pernah memberi tahu kalau dirinya suka udang asam manis.
"Kakak tahu makanan kesukaan aku? " Tanya Anin sambil mengunyah udang itu.
Yosha gemas melihat tingkah Anin 'tahan Sha, aaa begitu imut' batin Yosha berbicara
Yosha duduk disamping Anin " Kemarin gue gak sengaja denger percakapan lo sama Wina, kalau lo itu suka banget sama udang asam manis. Sorry gue gak... "
"It's oke kak, lagian ini bukan hal penting. Tapi makasih udah beliin ini, aku belum pernah nyobain masakan seenak ini diresto manapun kak" Ucap Anin terus memakannya.
"Itu buatan bunda, tadi pagi kebetulan bunda gue bikin itu banyak banget. Jadi gue bungkus buat lo deh" Kata Yosha padahal mah dia yang nyuruh bundanya bikin udang itu karena pengen bikinin buat Anin
Anin tersenyum manis dia bersyukur memiliki bos yang baik dengannya, dan dia selalu bersyukur karena Tuhan mempertemukan dirimya dengan orang-orang yang baik.
"Bilangin bunda ya kak, makasih masakannya rasanya enak banget entar aku gantian deh bikinin bunda kue buatan aku"
"Lo suka bikin kue? " Tanya Yosha
"Suka, kenapa kak Yosha mau aku bikinin? " Kata Anin
"Boleh, besok lo bikinin gue kue ya. Entar kita ketemu bunda kasih kue buatan lo ke bunda buat direview sama bunda, siapa tahu bunda nyuruh lo buat jadi asisten bunda" Seru Yosha
"Bunda kak Yosha punya toko kue? " Tanya Anin
"Iya" Balas Yosha
"Ihhh, seru bangetn punya toko kue itu impian aku kak dari kecil. Boleh deh besok aku bikin kue terus dikasih buat bunda siapa tahu kue aku bisa dijadiin menu di toko bunda heee" Ucap Anin sambil tersenyum
Yosha terus memandang wajah cantik Anin, melihat Anin tersenyum membuat dirinya tidak bisa memalingkan wajahnya dari Anin.
'Cantik banget'
****
"Buat onar terus, nggak kamu nggak Reyna selalu bikin mamah pusing" Ucap Jihan Frustasi melihat tingkah kedua anak bungsunya itu.
Caca hanya bisa diam, toh udah hal biasa mamahnya ngeluh terus menerus dengan tingkahnya.
"Mau sampai kapan kamu bertingkah Caca? " Tanya Jihan kesal
"Gak tahu, lagian bukannya mamah gak peduli ya sama aku. Kenapa sekarang jadi peduli kaya gini? " Balas Caca tanpa ada rasa penyesalan
Jihan tambah frustasi dengan Jawaban Caca, dia menatap wajah putri bungsunya itu.
"Jaga ucapan kamu, kalo mamah gak peduli mana mungkin mamah dan papah kerja siang dan malam buat kamu dan saudara kamu" Kata Jihan penuh penekanan
Caca tersenyum miring " Lalu bagaimana dengan kasih sayang kalian untuk kita? "
Jihan terdiam dengan ucapan Caca.
" Dalam keluarga ini hanya ada egoisan. Mamah dan papah hanya tahu kerja tanpa mau memberi ruang kehangatan dalam diri kita. Kesibukan kalian membuat kita tak mengenal satu sama lain, jadi aku seperti ini karena mamah dan papah. " Ucap Tegas Caca
"Pekerjaan kita itu penting. Papah dan mamah berjuang buat kalian, agar kalian bisa beli apapun yang kalian mau. Cukup bagaimana caranya kamu menjadi anak yang baik dan berguna Caca" Balas Jihan.
"Uang melupakan tanggung jawab kalian, aku buth uang tapi aku juga butuh kasih sayang kalian. Kesibukan kalian yang bikin aku jadi seperti ini, aku kesepian bahkan saudara-saudara aku saja tak ada yang peduli denganku."
"Kalian semua egoiss" Teriak Caca tepat dihadapan Jihan
Plak.... Tamparan itu tepat diwajah Caca. Caca menangis melihat siapa yang menamparnya.
"Gak sopan, begitukah kamu berbicara dengan mamah kamu Caca? " Kata Hendra yang baru saja namun melihat pertengkaran istrinya dengan sang bungsu.
"Kenapa gak Terima? Aku begini itu karena kalian, jadi kalian cukup sadar diri" Ucap Caca berani membuat Hendra murka dan melepaskan ikat pinggang yang dipakai.
Mulai memukuli Caca dengan ganas tanpa mempedulikan teriakan sang anak, Jihan dia hanya diam melihatnya.
"Ingat kamu harus tahu batasannya, jangan bertindak lebih jauh" Ucap Hendra dan pergi meninggalkan Caca yang penuh luka.
Risma baru saja pulang dari rumah Jeje, dia melihat kejadian itu. Tepat dihadapan sang adik Risma terdiam melihat banyaknya luka di tubuh adiknya itu.
"Lain kali jangan buat masalah sama monster itu jika tidak ingin terluka. Kamu bukan siapa-siapa disini jadi jangan berlagak membantah" Ucap Risma dan pergi ke kamarnya meninggalkan Caca tanpa mau membantunya.
"Bukan siapa-siapa? Lo benar Kak, kita hanya sampah dimata monster itu. Dan gue makin benci dengan tingkah orang-orang disini. " Ucap Caca melihat kepergian Risma
"Neraka" Gumam Caca sambil mengelus tangannya sendiri.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.