" Juan katakan bahwa aku sudah melakukan hal baik! Tolong katakan Juan" Isak Prilly semua tekanan yang dia alami begitu berat.
Juan sungguh merasa kasian dengan kekasihnya ini, ujian yang Tuhan berikan padanya begitu rumit. Tangan hangat Juan mengelus pipi lembut Prilly menghapus air mata yang jatuh terus menerus dari satu jam yang lalu.
"Kamu hebat prilly! Kamu adalah wanita luarbiasa yang pernah aku temui, dengarkan aku kamu... " Ucapan Juan terpotong
" Juan berhenti! Katakan saja aku sudah melakukan dengan baik! Please say it Juan, aku hanya butuh itu" Mohon Prilly
Dia hanya butuh seseorang mengakui bahwa dirinya telah berusaha dengan baik tanpa ada kesalahan apapun. Mereka sama sekali tidak peduli dengan dirinya, mereka memandang Prilly seakan tak berguna.
Juan memeluk Prilly dengan sangat erat, tubuhnya bergetar hebat disertai tangis yang tanpa henti. Juan ikut merasakan kesakitan itu.
" Kamu sudah melakukan yang terbaik, jangan kaya gini aku sakit melihatnya. Ada aku lampiaskan semuanya! " Tenang Juan
Prilly tersenyum setelah mendengar perkataan Juan, dia semakin mempererat pelukan dalam Juan. Tak ada yang sehangat Juan, bagi Prilly Juan adalah pelindungnya. Mungkin tanpa Juan Prilly sudah mengakhiri hidupnya.
"Terimakasih" Gumam Prilly dan mulai terlelap dalam pelukan Juan.
Juan mengelus rambut Prilly "Sama-sama! Selamat malam sayang! "
****
"Maaf kamar disini sudah penuh" Kata pemilik kost
Reyna menghela nafas, pasti ini ulah papahnya dia tahu peran besar papahnya dalam hidup Reyna begitu besar. Apalagi Hendra adalah seorang yang berpengaruh dalam negara.
"Hendra sialan! " Umpat Reyna.
"Kalo kaya gini caranya gue gak bisa istirahat, bajingan! Kenapa gue harus dilahirkan dalam keluarga seperti ini? " Keluh Reyna dia memeluk tubuhnya sendiri.
Suara rintihan tangis Reyna, sekian lamanya baru kali ini Reyna menangis memikirkan hidupnya yang hancur semakin hancur karena ulah orang tuanya.
Bahkan langit pun mengerti perasaan Reyna, hujan mulai turun namun Reyna tetap ditempat tidak memperdulikan betapa derasnya hujan mengguyur tubuh mungilnya itu.
Reyna memandang ke arah langit " Hujan! Bagaimana aku tetap bertahan, jika kekuasaan orang tuaku masih menghantui hidupku. Aku benci , aku benar-benar benci dengan kehidupan ini"
Reyna kembali memeluk tubuhnya sendiri dalam hujan.
"Reyna" Panggil Jehan memeluk tubuh Reyna dari belakang. Dengan jelas Jehan mendengar tangisan kecil Reyna.
Jehan mengangkat kepala Reyna memperlihatkan wajah sembab milik sang gadis itu, sudah berapa lama dia menangis? Pikir Jehan.
" Kenapa ada disini? Katakan jika kamu tidak baik-baik saja Reyna!" Kata Jehan
" Gue baik kak! " Sentak Reyna tak suka jika ada yang melihat dirinya terpuruk seperti ini.
Jehan menatap mata indah milik Reyna, matanya sembab dia tahu jika Reyna sedang tidak baik-baik saja. Meraih tangan mungil gadis itu, mengusap dengan pelan "Mata lo gak bisa bohong Reyna, katakan jika lo butuh bantuan! " Mohon Jehan
Reyna kembali menunduk dan menangis, kenapa dia seperti ini setelah mendengar permohonan dari Jehan. Reyna berhenti menangis dihadapan orang asing, namun sialnya airmata itu tak mau berhenti.
Jehan perlahan mengangkat kepala Reyna dengan lembut mengusap airmata itu " Lo boleh nangis sepuasnya, jangan malu Reyna! Gue gak akan bilang sama siapapun. Gak semua orang kuat, kalau lo merasa lelah istirahatlah. "
Reyna menatap Jehan dengan pandangan sayunya, kali ini ada seseorang orang yang mengerti dirinya bahwa dirinya begitu lelah.
"Teriak Reyna! Jika itu bikin lo lebih tenang, gue siap dengerin semua teriakan lo" Ucap Jehan menyakinkan Reyna.
"Come on, lo gak sendiri ada gue! "
Reyna memeluk Jehan erat, meluapkan semua tangisannya dalam pelukan laki-laki itu.
"Gue capek kak, bahkan hari ini lebih capek dari hari-hari biasanya yang udah gue laluin" Keluh Reyna
"Gue, rasa hidup gue gak berguna sama sekali perbandingan antara gue dan saudara gue itu berlebihan. Gue yang selalu dianggap bayangan dan terus dicaci maki, apa gue gak layak untuk hidup" Isak Reyna semakin dalam.
Jehan mengelus punggung Reyna yang bergetar hebat, dia kira Reyna gadis nakal namun dalam nakalnya itu terdapat luka yang begitu dalam.
"Katakan lagi Reyna, gue bisa bantu lo meski gue yakin lo gak butuh bantuan gue. Karena gue tahu lo bisa berdiri sendiri, tapi kali ini ijinin gue buat bantu lo" Ucap Jehan
"Gue diusir kak, sekarang semua akses kostsan diblok sama papah bahkan semua hotel dan apartemen juga sama. Papah gue bener-bener bikin gue gak bisa hidup tanpa bantuan dia. " Kata Reyna
"Lo boleh tinggal dirumah gue kalau lo mau" Saran Jehan
"Tapi kak gue sama lo itu"
"Gue tinggal di apartemen jadi aman, gue bisa bilang lo sepupu gue. " cegah Jehan
"Gimana lo mau? " Tanya Jehan
Reyna pikir dia harus menerima bantuan Jehan, untuk tinggal sementara sebelum dia menemukan tempat tinggal dan kerjaan yang pas.
"Oke kak, gue Terima bantuan gue tapi setelah gue udah punya duit gue bayar ya, sekarang ATM gue diblokir sama papah" Kata Reyna
"Tenang ajah, lo gak usah pikirin sekarang masuk ke mobil gue" Ajak Jehan menarik Reyna masuk kedalam mobil miliknya.
"Makasih kak" Ucap Reyna
Jehan tersenyum dan menjalankan mobilnya menuju apartemen.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pelangi
Teen Fiction"Hanya karena gue yang paling tua, bukan berarti kalian bisa seenaknya melimpahkan masalah kalian ke gue. " Aruna Putri "Kenapa kalian selalu menyalahkan aku, mamah lebih peduli sama aku karena aku selalu nurut perkataan dia? bukan kaya kalian yang...
