Malam penuh ketegangan dimana seluruh keluarga besar Hendra berkumpul kecuali Aruna dan Prilly yang memang tidak ada dirumah karena pekerjaannya.
Anin dan Risma duduk dengan wajah menunduk karena takut akan tatapan dari Hendra. Sedangkan Arum, Reyna dan Caca dia nampak begitu santai tidak ada rasa takut sedikitpun. Mereka bertiga memang sudah terbiasa dengan situasi ini.
"Kalian semua diluar batas, bagaimana bisa papah sampai kecolongan begini? Apa yang kalian lakukan itu semua salah? Kalian bikin malu keluarga saja" Tegas Hendra
"Kamu Arum! Bagaimana bisa kamu keluar masuk ke dalam club malam? Kamu mau jadi apa disana, apa uang yang papah kasih itu kurang cukup hah! " Bentak Hendra
Jihan hanya diam melihat sang suami memarahi para putrinya, bagi Jihan mereka semua sudah keterlaluan terutama Reyna yang selalu membantah ucapannya.
"Dan untuk Reyna, papah benar-benar malu malam ini kamu ketangkap polisi karena ikut balapan liar! Kamu lupa ya! Kalau semua orang itu tahu anak dari Hendra Wirawan selalu membuat onar itu kalian sama aja mempermalukan keluarga. Image keluarga Wirawan rusak karena ulah kalian berdua"
Reyna berdiri menatap Hendra tanpa ada rasa takut sedikitpun, wajah angkuhnya dia tegakkan. Tidak peduli dengan tatapan sinis dari Jihan, Reyna terus menatap mata Hendra tanganya mengepal dibawah sana.
"Kenapa selalu Image yang kalian utamakan? Apa pujian dari orang lain itu sangat penting? Aku sangat heran bagaimana aku bisa lahir dari keluarga yang hanya mengutamakan ketenaran namun nyatanya hanya ada siksaan didalamnya, kalian seolah-olah membuat Image keluarga kalian sangat harmonis dimata publik!"
"Tanpa kalian sadari ada anak yang terluka dibelakang. Cukup berlagak seperti layaknya kalian peduli dengan kita! Aku muakkk kalian semua egois!" Teriak Reyna menyalurkan amarah selama ini.
Anin cukup terkejut bagaimana bisa Reyna bisa seberani itu, namun Anin juga iri dengan Reyna yang bisa membantah dan mengungkapkan semua apa yang dia rasakan berbeda dengan dirinya hanya sekali bentakan saja dia takut tak berdaya. Apalagi melawan sang ayah begitu kejam menurut Anin.
" Reyna cukup, jangan melawan papah" Saran Anin berusaha menenangkan adiknya itu.
Namun Reyna menghempaskan tangan Anin, dan menatap sang kakak dengan tatapan mematikan menurut Anin.
" Jangan atur gue! gue gak sama kaya lo yang ditindas hanya diam." Teriak Reyna
Arum menatap dalam diam, sebenarnya dia juga ingin meluapkan segalanya namun pikirannya saat ini sedang tidak stabil jadi dia urungkan. Menyaksikan drama yang dibuat oleh Reyna.
Berbeda dengan reaksi Caca, dia malah ikut tersenyum semua yang dilakukan oleh sang kakak adalah hal luarbiasa. Bagi Caca pertengkaran seperti ini sangat menyenangkan, apalagi jika pemeran utama itu adalah Reyna dan sang papah sungguh drama yang sangat mengasyikkan baginya.
"Menarik" Gumam Caca
Anin terdiam setelah dibentak Reyna, ya bahkan bentakan sang adik pun Anin tidak bisa melawan dia terlalu lemah dalam segalanya.
Reyna kembali menatap Hendra " Apa yang telah kalian lakukan untuk kita? Tidak ada! Sama sekali tidak ada, bahkan disaat aku terpuruk pun kalian tidak peduli, hanya uang, kekuasaan dan citra dimata orang itu yang paling penting buat kalian"
Reyna benar-benar diluar kendali, amarahnya begitu tidak bisa dia kontrol. Rasa lelahnya dikeluarkan sebaik mungkin didepan kedua orang tuanya berharap mereka memahami.
Reyna hendak pergi, namun langkahnya terhenti "Tetap ditempat atau pergi selamanya dari rumah ini" Teriak Hendra
Reyna kembali menatap papahnya dan tersenyum "Aku memilih pergi dari sini,selamat tinggal! "
KAMU SEDANG MEMBACA
Pelangi
Teen Fiction"Hanya karena gue yang paling tua, bukan berarti kalian bisa seenaknya melimpahkan masalah kalian ke gue. " Aruna Putri "Kenapa kalian selalu menyalahkan aku, mamah lebih peduli sama aku karena aku selalu nurut perkataan dia? bukan kaya kalian yang...
