enjoy
(づ ̄ ³ ̄)づ
"Mamaa!"
Caine berlari kecil menuju Shea yang berada di ruang keluarga. Edward dan Rion yang berada dibelakangnya kompak memperingati si bayi agar berhati-hati.
Shea menampilkan senyum lembut setelah menerima pelukan dari sang anak. Ia mengelus surai halus milik bungsunya. "Anak Mama kelihatan lagi seneng banget ya?"
"Selamat hari Ibu, Mama." Ucapan Caine tersela dengan Rion yang lebih dahulu berbicara.
"Gak sopan!" Pekiknya kesal. Rion mengangkat bahunya tak peduli. Dia meletakkan beberapa paper bag di meja.
"Selamat hari ibu, Mama Caine yang palingg cantik!" Shea mendekap Caine dan membumbui kecupan-kecupan kecil di wajah anaknya.
"Terimakasih anak-anak tampan Mama." Shea berujar tulus dengan penuh kehangatan. Ia saja tak tau bahwa hari ini hari ibu, tetapi anak-anaknya mengingatnya. "Rion tidak mau peluk Mama juga?"
Rion bergerak ikut memeluk sang ibu saat melihat mimik wajah Shea yang dibuat sedih.
Edward yang duduk disebelah Shea tentu terkekeh. Di jalan pulang tadi tiba-tiba Caine mengajaknya ke mall untuk membeli hadiah sebagai hari ibu untuk Shea. "Happy Mother's Day, honey." Kata Edward.
"Terimakasih Ed," Jawab Shea mengulas senyum hangat kearah sang suami.
"Abang Marcel dimana?" Tanya Caine yang sudah kembali gelendotan dengan Papanya.
"Belum pulang."
"Marcel sudah izin ingin pergi sebentar, tapi tidak memberi tau akan kemana." Kata Edward sambil menumpu dagunya di atas pucuk kepala Caine.
"Mungkin dia pergi kencan?" Celetuk Rion membuat Shea dan Edward saling memandang.
Sedetik kemudian terdengar tawa mengudara yang berasal dari pasutri tersebut.
Tertawa akan perkataan Rion yang sangat mustahil kebenarannya.
Rion berpikir mungkin saja ada orang yang bisa meluluhkan Abangnya.
"Rion, kamu kenal dengan sifat Abang kamu kan? Banyak anaknya teman Mama yang Mama kenalkan pada Abangmu, tapi jawaban Abangmu selalu saja 'aku tidak butuh itu'." Shea hafal betul jawaban andalan anak sulungnya. "Apa dia kira bisa hidup sendiri sampai tua begitu? dasar lelaki." Gerutunya.
Rion berdehem pelan. Memang dia juga merasa Abang nya itu aneh, apa dia tak menyukai wanita? Herannya tak pernah ada rasa tertarik mendekati wanita.
Ah, dia mungkin langsung dikatakan gila dengan abangnya jika mengikuti kata otaknya untuk bertanya langsung.
"Lagian juga gak mungkin kan Abang bakal sendirian selamanya gitu? Pasti nanti akhirnya bakal nikah juga," Rion berujar meski ada kemungkinan kedepannya dia akan mirip seperti Abangnya.
Shea terkekeh gemas, ia mencubit pipi Rion sampai anaknya mengaduh. "Mungkin Abangmu hanya butuh waktu untuk bertemu dengan wanita yang benar-benar mencintainya nanti."
"Tapi Shea, kebanyakan lelaki memilih tak mempunyai pasangan." Saut Edward setelah lama diam.
Shea menatap sinis sang suami, "Jangan sampai."
Rion menatap malas Shea dan Edward yang mulai berdebat. Papanya memang selalu tidak mau mengalah.
Rion juga gemas memperhatikan Caine yang sadari tadi asik memainkan tangan Papanya dan tangannya sendiri.
Kebiasaan Caine, selalu membandingkan tangan besar Papanya dengan tangan kecil milik anak itu.
Ketukan sepatu pentopel mampu mengambil alih perhatian mereka.
"Kalian berkumpul tanpaku?"
Ternyata yang baru saja dibicarakan sudah pulang.
"Abang sudah pulang?" Shea menyambut Marcel dengan senyuman hangat.
Marcel berdehem. "Selamat hari Ibu, Ma." Ucapnya tak lupa. "Untuk Mama." Lanjutnya memberikan sebuah paper bag kecil.
Shea menerimanya dengan senang hati. Ia memberikan pelukan penuh sayang kepada anak sulungnya. "Terimakasih banyak anak Mama."
"Jadi Abang bukan kencan? Hanya membeli kado buat Mama? Jadi engga ada Kakak cantik dong?" Sahut Caine memajukan bibirnya cemberut.
Caine juga pengen tau Marcel punya pacar. Biar dia bisa merasakan mempunyai Kakak perempuan.
Hei, Caine ternyata menyimak obrolan mereka sadari tadi. Kita melupakan bahwa Caine juara menguping walaupun mempunyai kesibukan sendiri.
"Kencan? Kakak cantik?" Beo Marcel menatap bingung adiknya.
Rion menatap sekilas Caine yang murung sebelum beralih menatap Marcel. "Dari mana? Lama sekali."
Marcel menatap Rion yang bertanya padanya. "Bertemu seseorang."
"Pria atau wanita?"
Marcel memandang heran Mamanya. "Pria."
"Ck, memang mengharap jawaban apa," Gumam Rion berdecak malas.
"Abang kok gak pernah deket sama cewe? Abang suka cewe atau cowo? Kenapa ketemumya sama cowo terus? Atau Abang suka sama cowo? Tapi kenawhy Abang? Why??"
Rion terbatuk pelan mendengar penuturan Caine. Rion menggerutu melihat mulut bayi satu itu memang tak bisa di rem jika berbicara.
Edward menjepit pelan bibir Caine gemas akan perkataannya. Dia tak sangka anaknya akan berbicara seperti itu.
Sang empu mendongak menatapnya garang. Edward malah semakin di buat gemas dengan bayinya.
Sedangkan Marcel menatap Caine dengan tatapan tak terbaca. Entah mengapa dia merasa seperti sedang di interogasi mengenai apa jenis orientasi seksualnya dengan keluarganya.
Seburuk itu kah dampak orang yang mempunyai gelar single?
"Apakah sopan seorang bayi bertanya seperti itu?"
"Memangnya kenapa? Kalau Adek nanya sambil mukul kepala Abang itu baru gak sopan." Caine membela diri sembari menatap menantang Marcel.
Marcel masih dengan wajah tanpa ekspresinya. Tetapi dia terhibur menjahili. "Ah, memang semua bayi sama saja."
"Kalau aku bayi Abang apa!? Aki aki??" Caine berkata sewot.
Rion menyenderkan punggungnya di sofa. Ia terhibur memandang wajah adiknya yang memerah entah sedang marah atau menahan nangis, wajahnya seakan ingin menyamai rambutnya.
Adiknya ingin berubah jadi bayi tomat seutuhnya?
"Lalu bagaimana dengan Papamu?"
"Leluhur!"
(っ˘̩╭╮˘̩)っ
votment orang baik
tbc.
KAMU SEDANG MEMBACA
Caine C. Kalandra
Random|slow update| Si bayi tomat kesayangan semua orang. Warning! - Bromance | Brothership - Fluffy(?) - Cerita ini hanya karangan atau lebih jelas tidak nyata. - Alur cerita asli dari otak dan dilarang plagiat. - Saya hanya meminjam nama karakter dari G...
