enjoy
(づ ̄ ³ ̄)づ
"Kalau ini perpus, kalian boleh minjam buku kalau udah punya kartu buat masuk perpus, ada itu entar kalian dikasih. Kalau hilang buku yang kalian pinjam ntar dikeluarin dari sekolah sama digebukin sama anak OSIS," Ucap Caine panjang kali lebar.
"Memang iya ya Jak?"
Jaki mengangkat bahunya, "Gatau, gak pernah minjam buku perpus,"
"Oh iya, kita kan juga ga pernah ke perpus."
"Mau lanjut ke kantin ga? Sekalian makan, bentar lagi juga jam istirahat."
Revana menatap Xavier sekilas sebelum beralih menatap Caine kembali, "Bisa beri tau kami dimana rooftop dulu?"
"Boleh, ayo." Caine kembali memimpin jalan dengan senang hati.
"Tapi nanti kalau ada anak-anak kelas sebelah itu gimana, Caine? Kami bukannya takut, tapi kita cuma bertiga, mereka ber.. ber.. ber.. ber-rame," Garin memukul Jaki yang sempatnya tergagap.
Seketika kaki Caine berhenti melangkah mendengar kata-kata Jaki. Caine membalikkan badan, "Kalau aku antar sampai tangga aja gapapa? Soalnya aku laper banget pengen minum susu stroberi,"
Xavier menaikan satu alisnya, "Kau bisa meminta pada mereka berdua untuk membelikannya." Ujarnya menatap Garin dan Jaki yang mendelik.
"Mereka bukan babu, jadi ga boleh ya," Ujar Caine menggoyangkan jari telunjuknya ke kanan kiri.
"Lagian hanya sebentar." Reva menarik tangan Caine pergi di ikuti Xavier meninggalkan Garin dan Jaki yang melongo.
"Eh eh! Apaan tadi asal narik aja sat!" Pekik Garin mengejar mereka sambil menyeret Jaki.
Dan dengan keterpaksaan, Caine mengantar mereka berdua sampai atas. Disana seperti yang dikatakan Garin dan Jaki tadi.
Ada anak-anak kelas lain yang memang cukup tak berhubungan baik dengan kelompok mereka.
Entah karena masalah apa, sudah lama memang tak berbaikan. Tapi juga ada beberapa yang tak suka dengan anak-anak Noir— nama geng yang Rion buat.
"Wih, lihat siapa yang kesini. Ngapain? Ada urusan kah? Atau lupa wilayah?" Mereka langsung disambut omongan sinis dari salah satu dari mereka.
"Emang nih sekolah punya bapak lu? Songong amat," Garin mencibir kesal.
"Induk kodok jangan sok sok ngejawab deh, bergaul ae noh sama para kecebong." Balasnya membuat yang lain tertawa.
Garin menggeram pelan, Caine memegang tangan Garin dan menggeleng.
"Udah wey, jangan gitu dong, anaknya baperan noh. Ngomong-ngomong ada tampang anak baru nih, wajahnya juga sama kaya wajah-wajah anak caper kaya yang lain." Ledek salah satu anak—Deon orang yang sering sekali mengompori.
Xavier dan Reva masih mempertahankan raut datarnya, seakan tak peduli atau bahkan tak ingin mengurusi.
"Deon jangan ngomong sembarangan!" Peringat Caine yang tak suka omongan Deon.
"Kenapa? Gue cuma ngomong fakta kok,"
Caine menghampiri Deon membuat yang lain yang sedang duduk segera berdiri.
Garin dan Jaki melototkan matanya melihat Caine yang malah maju sendiri.
Caine mendongak guna menatap mata Deon dengan tajam. Walaupun malah jatuhnya jadi menggemaskan.
"Mereka gak ada hubungannya dengan kami, jadi jangan bawa-bawa mereka."
Deon tersenyum menyeringai, "Oh gitu ya Kak sosis? Maaf deh kalau gitu ya kak sosis."
"Sosis sosis, sini ku tendang sosis Deon!"
"Eh anjir!" Deon memegangi bahu Caine dan menjauhkan 'anu' nya dari bahaya.
Siapa sangka Caine akan tantrum. Salahkan saja Deon yang memancing.
Reva dan Xavier hanya menonton tanpa berniat mendekat.
"Bantuin ga?" Jaki tertawa puas di tempat.
"Biarin, ntar kalo Caine capek juga lepas sendiri," Jawab Garin santai.
"Elang tolongin gue ege!" Pekik Deon memanggil salah satu temannya. Untung kaki Caine pendek.
Anak-anak yang lain juga bukannya menolong malah hanya melihatin.
Elang menatap datar Deon, ia menghampiri dua orang itu dan langsung dalam sekali tarikan, Caine tertarik kebelakang.
Tetapi sayangnya tangannya Caine malah nyantol dirambut Deon.
"Lepasin Lang tangannya!" Deon ingin menangis saja kalau begini.
Bawah sudah selamat, atas pun malah tak selamat.
Selain karena Caine wakil OSIS, mereka memang tak pernah melakukan kekerasan dengan Caine. Hanya adu mulut saja sejauh ini sampai Caine yang memberi mereka kekerasan lebih dulu.
Wajahnya Caine memang membahayakan.
"Caine lepaskan tanganmu atau aku adukan Rion jika kau pernah mencoba ingin merokok saat di halaman sekolah," Sontak Caine langsung melepaskan genggamannya.
Caine mendongak menatap sinis Elang yang ada saja akalnya menakutinya. "Jangan adukan Abang!"
Elang tersenyum tipis sangat tipis hingga tak ada yang menyadarinya.
"Lepas!" Seru Caine memukul tangan Elang yang masih menahan perutnya. Elang menurut melepaskannya.
"Jaki, Garin, ayo pergi dari sini." Caine menarik tangan kedua temannya untuk meninggalkan tempat terkutuk ini.
Mereka semua menatap kepergian tiga orang itu sampai hilang. Xavier dan Reva tentu masih berdiri disana.
Elang menatap mata Xavier yang menatap kearah matanya. Terjadi keheningan sejenak sebelum Elang mulai bicara.
"Ada punya rokok?"
\(^o^)/
tw g?
gtw? ydh
tbc.
KAMU SEDANG MEMBACA
Caine C. Kalandra
Random|slow update| Si bayi tomat kesayangan semua orang. Warning! - Bromance | Brothership - Fluffy(?) - Cerita ini hanya karangan atau lebih jelas tidak nyata. - Alur cerita asli dari otak dan dilarang plagiat. - Saya hanya meminjam nama karakter dari G...
