enjoy
(っ˘з(˘⌣˘ )
Rion menatap jengah dua bersaudara yang sedang gelut di atas ranjang. Marcel memeluk erat Caine sembari menggelitiki nya membuat si bocah tertawa lepas dengan terus meminta berhenti.
"Udaahh, hahah. . abang!" Caine mengunci kedua tangan Marcel di depan perutnya. Caine benar-benar lelah karena kebanyakan tertawa, bahkan Rion tak akan percaya jika tak melihat langsung keringat mengalir di pelipis anak itu.
"Kalau ntar malam ngompol, abang yang bersihin ya?" Celetuk Rion. Caine langsung berseru protes tak terima.
Padahal Rion tau sendiri jika Caine itu tak pernah mengompol lagi di umur satu tahun. Caine sejak umur segitu sudah bisa pergi ke toilet sendiri.
"Gak mau ketemu Papi mu itu?"
"Mauu!" Serunya. "Tapi gak mau ketemu sama selingkuhan Papi." Lanjutnya merengek.
Marcel menegur Caine karena tidak sopan. Mau bagaimana pun mereka harus menerima istri baru adik Papa nya. Caine tak terlalu akrab dengan Bibi baru mereka.
Awal nya mereka pikir Caine masih belum bisa menerima. Tetapi, walaupun setahun sudah terlewat, ternyata tetap sama saja. Bayi tomat satu ini masih menunjukkan sikap tak suka nya dengan terang-terangan.
Marcel menganggap nya Caine memang belum mau menceritakannya. Ia akan tunggu sampai bocah nya sendiri ingin cerita.
"Parah si dek, ntar Papi mu itu pasti kesel karna gak di sambut sama keponakan kesayangan nya." Rion menekan perkataan terakhir nya.
"Kalian aja ngapain kesini?" Tanya Caine balik menyerang omongan Rion.
"Jemput kamu." Balas Rion.
"Aku bukan anak kecil ya sampe perlu di jemput-jemput gitu,"
"Iya bukan anak kecil, tapi,"
"Tapi apaa?"
"Anak bagong." Caine mendelik tajam, ia hendak beranjak memberi Rion pelajaran.
Tapi di urungkan karna pintu terdengar di ketuk dari luar. Caine dan Rion bertatapan sebelum Rion mulai sok sibuk dengan ponsel miliknya, sedangkan Caine melepaskan tangan Marcel dan mnggulingkan tubuh nya menjauh dari abang nya.
Mereka berdua kompak berpura-pura tak mendengar apapun, kedua nya menolak bergerak membukakan pintu. Marcel sabagai yang lebih tua hanya bisa menggeleng pelan. "Kompak kalian kalau begini, dasar anak pemalas." Sarkas nya pada kedua adiknya. Akhirnya Marcel yang beranjak untuk membuka pintu.
Caine sendiri tertawa melihat respon Marcel. Caine mengangkat kepalanya menatap Rion. "Huu~ Rion pemalas."
"Pake abang. Dasar pemalas." Balas Rion di akhiri kekehan kecil.
Memang kalau dua kepala sayuran ini sudah kompak maka akan menjadi super menyebalkan.
"Caine."
Suara yang terasa familiar terdengar membuat Caine langsung menoleh, dan wajah nya tampak berseri-seri setelah melihat siapa yang datang.
"Papi!" Caine beranjak dari ranjang dan berlari ke pelukan Felix.
Felix memeluk erat Caine menyalurkan rasa rindu pada anak bungsu kakak nya. Sudah lama mereka tak bertemu, diri nya juga tak pernah bisa sempat berkunjung ke rumah Caine yang berada di Indonesia.
Felix mengusak surai merah Caine gemas. Ia melepas pelukannya, menatap dalam mata emas di depan nya. "Wie geht's, süber?" Tanyanya. —Apa kabar, sayang?
Sengaja mengerjai keponakan nya, Felix tau Caine tak terlalu pandai dalam menggunakan bahasa Jerman. Atau mungkin memang tak bisa. Terlihat setelah Felix bertanya, bocah itu hanya bisa cengar-cengir sambil menatap Marcel yang di belakang Felix dengan tatapan meminta bantuan.
"Papi lupa bahasa Indonesia ya? Adek mau ambil handphone dulu ya," Caine berniat menerjemahkan omongan Felix lewat ponsel nya. Kalau para abang nya tak mau membantu, maka satu-satunya jalan hanya ada di mba google di ponselnya.
Rion dan Marcel gemas dengan Caine. Bagi Rion terkadang kelakuan Caine itu membuat nya malu sendiri.
Felix menahan Caine hendak pergi. Ia terkekeh kecil sembari berkata, "Tidak perlu. Apa kabar sayangnya Papi?" Ucap nya lembut
Senyum manis bayi tomat itu tampak terlihat, Caine menjawab dengan penuh semangat. "Sehat walafiat! Kalau Papi gimana? Adek kangen Papii,"
"Papi juga tadi nya kurang enak badan. Tapi sepertinya sekarang sudah mendingan karna obat nya sudah ketemu." Felix menyunggingkan senyum, tangan nya terangkat mencubit pipi Caine gemas.
Caine yang paham maksud dari kata-kata Felix jadi salah tingkah sendiri. "Papi mah! Bisa ajaa," Caine kembali memeluk Felix. Menyembunyikan wajahnya dalam pelukan.
"Mulai mulai, udah macam anak perawan abis di goda om-om." Ujar Rion sinis pada adik nya.
Caine menatap Rion sengit, "Iri bilang boz,"
"Uncle," Panggil Marcel.
Felix beralih menatap Marcel. Ah, dia lupa memperhatikan keponakan nya yang paling tua. Felix tersenyum bangga melihat Marcel kini sudah sampai sebesar ini. Mirip sekali dengan Edward, anak pertama memang selalu menjadi duplikat dari Papa nya.
Caine hanya bisa diam begitu mendengar percakapan Marcel dan Felix yang menggunakan bahasa Jerman. Isi kepala nya seperti terus berputar mencoba memahami. Sama sekali tak paham apa yang di bicarakan dua pria di depannya ini. Baginya bahasa Jerman versi Spongebob lebih mudah dipahami.
Bahkan Rion yang diam juga asli nya tak paham. Ia masih belajar sedikit, belum terlalu bisa menguasai nya.
Jadi kita katakan saja mereka berdua tak seperti orang-orang yang sering diam berarti menyimak atau mungkin tau segalanya, tapi kalau versi mereka diam karna tak tau apa-apa.
"Uncle Felix," Panggil Rion membuat kedua pria yang asik berbicara itu berhenti sejenak. "Kenapa Uncle tidak menanyai kabar ku?" Lanjutnya bertanya. Bagaimanapun Rion punya perasaan, dia jadi sedikit kecewa karna tak di hiraukan sejak tadi dengan Felix.
Hanya Caine yang memanggil Felix dengan 'Papi' karena kebiasaan sejak kecil.
Felix tertawa mendengar pernyataan Rion yang terdengar seperti anak kecil sedang di cueki. Felix akhirnya menanyai kabar Rion juga hingga anak itu puas. Bukan hanya kabar, tapi mengenai bagaimana hari nya, sekolah nya, apa yang dia makan hari ini dan lain nya. Ya, di pastikan Rion puas sekali.
Caine yang tidur terlentang di atas ranjang menadak menjadi duduk menatap Rion polos mendengar perkataan Abang nya itu. "Ih abang ngrengek," Ucapnya spontan. -uhuy
"Ngawur!" Sangkal Rion cepat.
Caine tersenyum meledek. "Utututu, ntar susu punya adek, adek bagi buat abang juga kok."
"Gak perlu, bayi kaya kamu itu perlu susu yang banyak biar cepet gede."
"Bukan nya cepet gede, tapi malah bikin gumoh!" Sengit Caine. "Ayo bang Rionn, Papa kan kaya, gak bakal miskin cuma buat beliin Abang susu juga. Ntar Adek rekomendasi susu yang paling enak deh."
Rion menatap datar Caine yang tersenyum lebar menatapnya. Marcel memijat pelipis nya pusing, jika tidak Rion pasti Caine yang memulai nya.
(・o・)
moga cukup buat kalian yg kangen si bayi tomat ini ya ges
tbc.
KAMU SEDANG MEMBACA
Caine C. Kalandra
Random|slow update| Si bayi tomat kesayangan semua orang. Warning! - Bromance | Brothership - Fluffy(?) - Cerita ini hanya karangan atau lebih jelas tidak nyata. - Alur cerita asli dari otak dan dilarang plagiat. - Saya hanya meminjam nama karakter dari G...
