Enjoy!
(⊙_◎)
"Hei, wake up baby," Edward menepuk pelan pipi sang anak.
Sepertinya Caine mimpi buruk, sadari tadi tidurnya bergerak tidak tenang dan bergumam tidak jelas, wajahnya bahkan terlihat gelisah. Ia jelas khawatir, jarang sekali Caine bermimpi buruk sampai tidurnya gelisah seperti ini.
"Mas, adek belum bangun?" Tanya Shea yang baru saja keluar dari kamar mandi. Edward menggeleng tanpa mengalihkan atensinya dari Caine.
"Sayang, bangun dulu yuk," Shea sedikit panik melihat bayinya tak biasanya susah dibangunkan.
Kedua orang itu bernafas lega melihat mata anak itu perlahan terbuka menampakkan netra emas yang berkaca-kaca, sepertinya sudah siap menumpahkan liquid bening.
Edward dengan sigap membawa Caine ke pangkuannya lalu membawa sang anak kedekapan nya. "Sshh, anak Papa kenapa hm?"
Shea mengusap punggung bayinya mendengar isakan kecil yang dikeluarkan Caine. "Adek abis mimpi buruk pasti ya? Jangan dipikirin ya sayang, itu hanya bunga tidur."
Caine tak menjawab melainkan memilih menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Papanya, sekaligus mencuri kesempatan mengelap ingus di baju Papanya. Caine gak mood, idungnya meleran.
Ternyata hanya mimpi. Caine misuh-misuh dalam hati, karena mimpi buruk kali ini seperti kenyataan.
"Nanti mau sekolah atau tetap dirumah?"
Malah ditawari begitu, entar kalau aku jadi pengangguran yang salah Papa pokoknya, misuh Caine dalam benaknya.
Kalau anak biasa seneng gak sekolah, kalau Caine beda, soalnya bosen kalau dirumah. Hanya ke sekolah itu Caine boleh keluar, selain itu kalau tidak dengan dua abangnya atau dengan orang tuanya mana boleh main keluar.
"Mau sekolah," Suara terdengar kecil dan serak itu mampu menumbuhkan senyuman kecil di wajah Edward dan kekehan dari Shea.
"Kalau begitu harus mandi dulu oke?"
Caine mengangguk. Edward dan Shea sengaja tidak bertanya lanjut tentang yang menganggu Caine dalam tidurnya tadi, takutnya kalau ditanya-tanya anaknya malah nangis lagi.
___________
Caine berjalan kearah meja makan bersama Edward yang menggandeng tangannya. Matanya tak sengaja melihat penampakan Rion yang sudah stay duduk di ruang makan.
Tangannya mengeratkan pegangannya dengan tangan Papanya. Sedangkan di sisi Edward menatap bingung dengan tingkah Caine yang bersembunyi di belakangnya.
"Ada apa? Ada yang salah?" Tanya Edward kepada Caine.
"Papa, ga mau makan."
Edward mengernyit, kenapa lagi dengan bayi tomat satu ini? Tadi sewaktu di kamar sangat antusias mendengar Mamanya memasak sup jagung.
Sekarang? Malah tidak mau makan.
"Kenapa tiba-tiba? Katakan dengan Papa jika ada yang membuatmu tak nyaman." Ujarnya lembut seraya mengusap surai merah si bungsu.
Caine menggeleng kuat. Dia masih takut dengan Rion, walau cuma di mimpi tapi masih kebayang di pikirannya tentang bentakan Rion.
Edward tanpa aba-aba mengangkat Caine dengan ringan ke gendongannya. Caine tampak terkejut dan langsung memeluk leher Papanya. "Papa!" Protesnya.
"Apa?" Balas Edward tak merasa ada salah.
Kaki jenjangnya membawa mereka ke ruang makan. Caine semakin memeluk leher Papanya mendengar suara yang sedang dia tak ingin dengar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Caine C. Kalandra
Aléatoire|slow update| Si bayi tomat kesayangan semua orang. Warning! - Bromance | Brothership - Fluffy(?) - Cerita ini hanya karangan atau lebih jelas tidak nyata. - Alur cerita asli dari otak dan dilarang plagiat. - Saya hanya meminjam nama karakter dari G...
