17

2.3K 289 23
                                        

enjoy

(⁠´⁠ε⁠`⁠ ⁠)

Semuanya telah berkumpul di ruang keluarga. Caine asik bercanda dengan Marcel dan Rion. Para orang tua juga memiliki obrolan tersendiri.

"Edward,"

Edward menoleh kearah Emma, lewat tatapannya menatap sang Ibu seakan bertanya.

"Apa adikmu tau kau kemari?"

"Tidak. Harusnya dia tidak tau." Jawab Edward.

Hans dan Emma mempunyai dua putra. Adiknya Edward juga sudah mempunyai keluarga dan memiliki satu anak.

"Padahal Ibu ingin sekali kalian berkumpul bersama disini." Ujar Emma menyendu.

"Tenang saja, aku sudah menghubunginya sebelum kalian tiba. Kemungkinan sekarang dia sedang dalam perjalanan kemari." Celetuk Hans yang sedang memainkan iPad miliknya.

"Bagaimana bisa? Anakmu satu itu sangat susah sekali jika di ajak berkumpul. Kau membujuknya?"

Hans membenarkan kacamata nya yang sedikit turun. Ia menatap Istrinya heran. "Memangnya ada yang berani membantahku?"

Emma terlihat senang, suaminya memang dapat di andalkan.

"Apa mereka datang bersama? Atau hanya dia sendiri?" Tanya Shea.

"Lihat saja nanti."

Di balik omongan pria yang berumur hampir seabad itu, kebenarannya hanyalah Hans harus memakai banyak alasan agar putra keduanya mau datang.

Dan dari semua alasan itu, yang di terima putranya hanya karena dengan alasan Caine yang menangis ingin bertemu Papinya karna rindu.

Meskipun aslinya bocahnya malah anteng bermain dengan kedua Abangnya.

"Sesuai perjanjian."

Rion tersenyum menyeringai. Sedangkan sang korban, terlihat bibirnya maju beberapa senti hampir menyamai boneka bebek kuning milik anak itu.

Caine kalah dalam permainan. Dan sesuai perjanjian di awal, yang kalah akan kena sentilan di jidatnya.

"Singkirin poninya dulu," Titah Rion yang melihat lebatnya poni Caine.

"Pasti sakit ... "

Rion menatap malas Adiknya. "Belum juga kena."

"Takut,"

"Gak akan sampe di operasi dek." Sahut Marcel yang mulai jengah dengan kelebay-an Caine.

"Tapi Bang, si Rion Rion ini gak bisa di tebak, kemarin Adek di senggol aja langsung tumbang." Curhat Caine menatap memelas Marcel.

Rion menatap Caine datar. "Emang badanmu aja yang gak betulang."

"Sembarangan! Kalau gak punya tulang, pasti adek jalannya bakal kaya uget uget!"

"Yaudah yaudah. Siniin keningnya buruan."

"Kecup aja ya? Biar Abang tambah pahala,"

"Udah sering. Hadepin tiap hari kelakuanmu aja udah berlipat-lipat ganda pahala Abang."

"Omong kosong!"

"Udah buruan."

Caine beneran takut. Soalnya Rion ini pendendam. Jadi gimana kalau jidatnya bolong?

Caine C. Kalandra Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang