enjoy
⊙.☉
Caine sekarang berada di dekat Edward. Sehabis mendapat cokelat yang Theo berikan, bocah satu itu langsung bergegas mendekati sang ayah.
Sekarang Caine sedikit menyesal. Wanita yang ia hindari ternyata ada di ruang keluarga. Lihat tatapan yang di layangkan bibi tirinya itu kepadanya. Terlihat menyebalkan dan mengganggu.
Caine tadi ingin balik pergi lagi, tetapi Edward menahannya dengan mengatakan bahwa sebentar lagi jam makan malam jadi ia harus tetap disini.
"Kenapa wajah anak Papa satu itu terlihat murung?" Tanya Theo pada Edward. Dia yang sadari tadi memperhatikan Caine tentu dibuat bingung, padahal tadi anaknya tersenyum sangat lebar setelah mendapat cokelat darinya.
"Kalau sudah begitu jangan ditanya. Nanti makin jutek anaknya." Kata Rion.
Edward iseng mengapit mulut Caine yang manyun akibat perkataan Rion. Si bayi menatap Papanya bingung.
Edward jadi gemas sendiri dengan anaknya. Caine bahkan berhenti mengunyah makanannya akibat kelakuan Edward, membuat pipinya jadi menggembung sebelah.
"Biarkan anakmu makan, Edward." Tegur Shea merasa kasihan melihat anak bungsunya kebingungan. "Kau punya waktu banyak mengganggunya nanti, tapi jangan saat dia sedang makan." Imbuhnya.
"Shea, lebih baik Caine nanti saja lagi makannya. Nanti anaknya malah tidak mau makan nasi setelah makan makanan manis itu." Ujar Emma.
Edward yang mendengarnya segera merebut cokelat yang berada di tangan Caine. Bocahnya tak protes, hanya kembali mengunyah cokelat yang tersisa di mulutnya.
Lagi pula Caine rasa cokelatnya
terlalu besar bentuknya, mirip seperti ganggang cangkul milik pertugas kebun di rumahnya.
Caine masih diam saat Edward mengusap mulutnya yang belepotan menggunakan tisu.
"Treet like a princess, huh?"
Sahut Felix yang baru tiba. Ia turut bergabung duduk di sebelah sang istri.
Sophia menatap Caine dengan tatapan yang sulit di artikan. Mau seberapa lama pun mereka tak bertemu, anak itu tetap saja tak berubah.
"Kalian tak lapar? Makan malam sudah siap." Ucap Hans yang berjalan mendekat. Ia mengangkat Caine yang berada di dekat putranya. Memang tujuannya hanya untuk mengambil cucu kesayangannya. "Jika kalian tidak lapar maka jangan makan, biarkan hanya aku berdua di meja makan bersama cucuku." Ujarnya sebelum pergi membawa Caine.
Mereka menatap datar kepergian Hans. Edward paling tak suka, anaknya dirampas dari depan matanya sendiri.
Rion mendengus pelan, "Ternyata sifat menyebalkan Papa turun dari Kakek." Gumamnya.
Mereka semua akhirnya turut pergi ke ruang makan untuk melaksanakan makan malam.
Seperti biasa, makan malam berjalan lancar. Apalagi untuk lHans dan Emma merasa senang karena kali ini mereka tak hanya berdua. Keluarga mereka lengkap berkumpul.
***
Caine berbaring di atas kasur dengan nyaman. Perutnya terasa penuh setelah di isi. Caine rasa bisa terpejam tidur kapan saja. Ia membuka ponselnya, dan begitu banyak pesan dari grup yang menyebutnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Caine C. Kalandra
Acak|slow update| Si bayi tomat kesayangan semua orang. Warning! - Bromance | Brothership - Fluffy(?) - Cerita ini hanya karangan atau lebih jelas tidak nyata. - Alur cerita asli dari otak dan dilarang plagiat. - Saya hanya meminjam nama karakter dari G...
