00.18🍁

40 17 0
                                        

Happy reading 🍁


"Aku hanya akan pergi sesaat, lalu pulang. Namun jika aku tidak pernah pulang itu berarti aku sudah nyaman dengan luka 'ku."

_Queenza Senja Kinara

"Woiiii, Daffa kampret!" pekik gadis itu keras, begitu melengking sampai-sampai orang yang mendengar ikut menutup kedua telinganya.

"Ga usah teriak-teriak dongo, budek nih kuping gue," sungut Daffa menutup kedua telinganya dengan tangan. Pekikkan gadis itu terdengar begitu keras dan melengking, membuat telinganya berdengung.

"Bodo amat," ketus Ghea acuh, tak peduli jika pekikkannya membuat telinga cowok itu berdengung.

"Apa?" Daffa menaikan sebelah alisnya dengan kedua tangan yang sudah turun lalu melipatnya di depan dada.

"Lo gak liat nih?" tunjuk Ghea pada minumannya yang sudah tumpah akibat tak sengaja tersenggol oleh Daffa.

Daffa melirik sekilas pada tumpahan cairan manis itu. "Terus?"

Ghea mendengus kesal, merasa sedikit jengkel pada laki-laki yang malah bersikap acuh setelah menumpahkan minumannya. "Ya, gantilah bego!"

"Kalo gue ga mau?"

"Gue sirem pake kuah bakso," Ghea mengancam Daffa seraya kedua tangan yang sudah siap mengangkat mangkuk berisi bakso yang terlihat begitu merah karena banyaknya sambal yang di tambahkan.

Daffa mendelik mendengar ucapan Ghea yang terdengar mengancam. Dengan kesal ia mengangguk.

"Oke-oke gue ganti," finish Daffa akhirnya. Mengiyakan permintaan gadis tomboy itu.

Ghea yang mendengar itu pun menjadi sumringah. "Ya udah,"

"Cepetan gue haus nih." lanjutnya sembari menyuapkan bakso ke dalam mulutnya.

Daffa memutar bola matanya malas lalu berjalan ke arah penjual kantin. Memesan minuman yang di pinta oleh Ghea. Sudah mah minta ganti rugi, nawar pula. Pikir Daffa sedikit jengah.

Tak butuh waktu lama akhirnya Daffa pun kembali dengan gelas yang berada di tangannya. Ia menaruhnya di hadapan gadis itu.

"Nih, sama-sama." ucap Daffa menaruh minumannya di atas meja dengan ogah-ogahan.

Ghea mendongak menatap ke arah Daffa yang berdiri di depannya itu. Gadis itu lalu tersenyum. "Makasih." ujarnya kemudian menyeruput es teh tersebut hingga tandas.

Ah, lega rasanya. Tenggorokkannya terasa dingin sekarang tak seperti tadi yang lumayan panas saat memakan bakso itu tanpa minum.

_00_

"Nanti pulang bareng aku, ya?" pinta Miky menatap laki-laki itu penuh harap.

"Iya." jawab Aksa menatap langit biru itu tanpa menoleh sedikit pun ke arah gadis yang berada di sampingnya.

Keduanya sedang berada di rooftop sekolah. Menikmati semilir angin dingin yang menerpa kulit wajahnya. Membuatnya sedikit tenang.

Matanya terpejam menikmati sensasi tenang dari angin yang berhembus pelan, menyapa setiap inci wajahnya tanpa terkecuali. Sangat tenang dan damai. Selain bintang dan Senja rooftop juga menjadi tempat ternyaman untuknya. Nyaman karena ia bisa melepaskan sedikit beban di pundaknya tanpa takut akan hancur.

Miky menatap lekat wajah Aksa dengan mata terpejam menikmati angin yang berhembus. Sudut bibirnya terangkat naik, menatap puas pada laki-laki itu.

"Gue seneng akhirnya lo bisa jadi milik gue." batinnya menatap laki-laki itu lekat. Perutnya bagai di penuhi oleh banyak kupu-kupu yang berterbangan. Hatinya senang bukan main, kala apa yang ia usahakan kemarin tak lagi menjadi mimpi melainkan sebuah kenyataan saat ini. Tak perlu lagi bersaing agar bisa memilikinya. Karena saat ini, laki-laki itu akan terus menjadi miliknya. Tak peduli jika masa lalunya adalah kakak kelasnya sendiri.

Dejavu Luka [ Luka Yang Tak Mungkin Aku Ingat Kembali ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang