Kereta api telah meninggalkan London cukup jauh. Pemandangan kota dengan gedung-gedung yang padat tdak lagi terlihat, bergantikan dengan sawah-sawah penuh dengan sapi dan biri-biri. Selama beberapa waktu mereka bertiga terdiam, memandang sawah-sawah dan jalanan berkelebat cepat.
Sekitar pukul setengah satu siang, terdengar bunyi berkelontangan di lorong, lalu seorang wanita berlesung pipi tersenyum membuka pintu mereka dan berkata, "Mau beli sesuatu dari troli, anak-anak?"
Harry, menatap Hanny seolah bertanya apakah dia bisa membeli sesuatu dan dia langsung melompat berdiri saat Hanny menganggukkan kepalanya tetapi telinga Ron jadi merah dan dia bergumam bahwa dia sudah membawa bekal sandwich. Harry keluar ke lorong.
Sementara Harry meninggalkan kompartemen, Hanny merasa canggung duduk berdua dengan Ron. Tapi mengingat ia akan menjadi teman dekat Harry, Hanny mencoba untuk mengakrabkan diri.
"Hey, kau punya sedikit noda di dekat hidungmu." kata Hanny sambil menjulurkan sebuah sapu tangan miliknya, "pakailah."
Telinga Ron berubah menjadi merah lagi, tapi dia menerima sapu tangannya dan mencoba untuk membersihkan noda di dekat hidungnya. Melihat Ron meleset beberapa kali membuat Hanny gemas, sehingga dia mengulurkan tangannya untuk membantu Ron mengelap noda itu.
Kini seluruh wajah Ron menjadi merah. Hanny baru menyadari tindakannya kurang sopan terlebih kepada orang yang baru ia temui hari ini. Dengan buru-buru, Hanny kembali ke tempat duduknya, sedangkan Ron berpura-pura batuk sambil menatap ke luar jendela.
Tak lama kemudian Harry datang dengan tangan yang penuh dengan camilan yang membuat Ron terbelalak. Harry meletakkan seluruh camilan pada tempat duduk kosong di samping Ron. Dia membeli beberapa Cokelat Kodok, Kacang Segala Rasa Bertie Bott, Pastel Labu, dan Bolu Kuali.
"Kau lapar?" tanya Hanny heran dengan Harry yang membeli cukup banyak camilan.
"Lumayan," balas Harry sambil menggigit sepotong pastel labu dan melirik ke arah Ron sekilas.
Ron suda mengeluarkan bungkusan besar dan membukanya. Ada empat sandwich di dalamnya. Ron membuka salah satu diantaranya dan berkata, "Mum selalu lupa aku tidak suka kornet."
"Tukar saja dengan ini," kata Harry seraya mengulurkan pastel labu. "Ayo, tukar."
"Kau tidak akan suka roti ini, sudah kering," kata Ron. "Mum tak punya banyak waktu," dia menambahkan dengan cepat, "maklumlah, anaknya banyak."
"Ambil saja, Ron. Harry membeli banyak." Hanny menambahkan. Pada akhirnya mereka bertiga makan pastel dan bolu sepanjang jalan, sandwich buatan Ibu Ron tergeletak terlupakan.
Harry meraih salah satu Cokelat Kodok, dia membuka bungkusnya dan mengambil kartunya. Ada foto wajah laki-laki, memakai kacamata bulan separuh, hidungnya bengkok, dan rambut, janggut, serta kumisnya putih panjang keperakan. Di bawah foto itu ada nama Albus Dumbledore.
"Oh, jadi ini Dumbledore." Kata Harry.
Hanny mengintip, sedikit membungkukkan tubuhnya ke arah Harry.
"Kau pasti tahu siapa dia, kan?" tanya Ron. "Boleh aku minta Kodok? Siapa tahu aku dapat Agrippa- terima kasih..."
Setelah memberikan Ron Cokelat Kodok, Harry membalik kartunya dan membaca:
Albus Dumbledore saat ini menjabat Kepala Sekolah Hogwarts. Banyak yang menganggapnya sebagai penyihir terbesar di zaman modern ini. Profesor Dumbledore khususnya dikenal karena berhasil mengalahkan penyihir aliran hitam Grindelwald pada tahun 1945, penemuannya untuk dua belas kegunaan darah naga, dan karyanya di bidang alkimia yang dikerjakan bersama mitranya, Nicolas Flamel. Profesor Dumbledore menyukai musik kamar dan bowling.
KAMU SEDANG MEMBACA
IRIDESCENT
FantasyHal yang Jacey ketahui, hidupnya hanya berwarna hitam dan putih layaknya televisi tua tanpa warna. Hingga suatu hari ia membuka matanya dan menyadari dirinya masuk kedalam buku 'Harry Potter' yang sering ia baca. Apakah ini kesempatan kedua yang Tu...
