Keesokan harinya, Hanny dan Harry pergi ke stasiun King Cross dengan taksi. Hanny telah menukarkan beberapa Galleon untuk keperluan di dunia muggle. Mereka tiba pukul sepuluh lewat, Hanny berinisiatif untuk datang lebih awal karena mereka berdua tidak tahu persis letak peron sembilan tiga perempat.
Mereka berdua mulai menghampiri palang rintangan antara peron sembilan dan sepuluh, yang sayangnya tidak hanya ada satu. Hanny mencoba mengetuk-ngetuk palang yang terbuat dari batu bata itu, mengecek apakah itu gerbangnya atau bukan.
Setelah mengecek tiga palang dengan hasil gagal, mereka berdua mulai berpikir mereka terlihat konyol. Dua anak kecil dengan troli penuh barang dan satu kandang berisi burung hantu. Harry menghela nafasnya lelah, ia hendak bersender pada palang ke empat yang akan mereka coba- Harry berpikir mereka akan gagal lagi- namun ia justru hampir terjatuh kebelakang, tubuhnya menembus batu bata itu. Beruntung Hanny memeganginya, mecegah dirinya berada diantara dunia sihir dan dunia muggle.
Raut keduanya tampak terkejut sekaligus gembira, saling ber-tos ria untuk merayakan penemuan palang sembilan tiga perempat itu. "Kerja bagus, Harry. Kamu menemukannya!" Keduanya tertawa, Harry dengan setengah malu menganggukkan kepalanya.
Kemudian Hanny membiarkan Harry untuk pergi terlebih dahulu, berlari dengan trolinya menembus palang antara peron 9 dan 10. Hanny mengikuti saudaranya begitu Harry menghilang sepenuhnya. Ia berlari dan menutup matanya, merasakan perubahan suasana. Saat Hanny kembali membuka matanya, ia melihat kereta api berwarna merah menunggu di peron sembilan tiga perempat yang penuh orang.
Asap lokomotif melayang di atas kepala orang-orang yang ramai mengobrol, sementara kucing-kucing dalam berbagai warna menyusup-nyusup di antara kaki mereka. Burung-burung hantu saling bersahutan, ditingkahi suara obrolan dan derit koper-koper berat yang diseret.
Rangkaian beberapa gerbong yang di depan sudah penuh anak-anak. Beberapa di antaranya menjulurkan tubuh ke luar jendela untuk mengobrol dengan keluarga mereka, yang lain berebut tempat duduk.
Hanny melihat Harry menunggunya tak jauh dari palang yang mereka lalui. Mereka saling melemparkan senyum sebelum kembali mendorong troli mereka masing-masing untuk mencari tempat duduk yang masih kosong di dalam kereta.
Si kembar Potter melewati orang-orang yang berdesakan sampai mereka tiba di gerbong kosong hampir di ujung kereta. Mula-mula Harry menaikkannya Hedwig, kemudian dia mulai mengangkat dan mendorong kopernya lewat pintu kereta. Dicobanya mengangkatnya melewati undakan, tetapi dia nyaris tak bisa mengangkat salah satu ujungnya, Hanny mencoba membantunya namun mereka berdua terlalu pendek dan kecil.
"Perlu bantuan?" Seorang anak laki-laki berambut merah menghampiri mereka. Laki-laki itu cukup tinggi, mempunyai bintik-bintik di wajahnya.
"Ya, tolong." Harry menjawab dengan terengah, dia sudah lelah mencoba menaikkan kopernya.
"Oi, Fred! Sini!" Setelahnya datang seorang anak laki-laki lain dengan perawakan yang terlihat sama persis, Hanny rasa mereka adalah si kembar Weasley. Dengan bantuan si kembar, koper Harry dan Hanny akhirnya berhasil ditempatkan di sudut gerbong. "Terima kasih," kata Harry seraya menyeka rambutnya yang berkeringat dari matanya.
"Apa itu?" kata salah satu dari si kembar tiba-tiba sambil menunjuk ke bekas luka Harry yang berbentuk kilat menyambar. Hanny tidak yakin itu Fred atau George, keduanya tampak sama dan mereka belum memperkenalkan diri.
"Astaga," kata kembar satunya. "Apakah kau...?"
"Betul dia," kata kembar yang pertama. "Iya, kan?" tanyanya pada Harry.
"Apa?" tanya Harry.
"Harry Potter," si kembar menjawab bersamaan.
"Oh, dia," kata Harry. "Maksudku, ya, aku Harry Potter."
KAMU SEDANG MEMBACA
IRIDESCENT
FantasiHal yang Jacey ketahui, hidupnya hanya berwarna hitam dan putih layaknya televisi tua tanpa warna. Hingga suatu hari ia membuka matanya dan menyadari dirinya masuk kedalam buku 'Harry Potter' yang sering ia baca. Apakah ini kesempatan kedua yang Tu...
