🤓

8.3K 254 17
                                        

bnyk typo

🌹

****
Dunk terbangun dari tidurnya dengan perasaan tidak nyaman. Ia melirik sekeliling kamar, tetapi Joong tidak ada di sampingnya. Ia mengernyitkan dahi, lalu bangkit dari tempat tidur.

“Joong?” panggilnya sambil melangkah ke kamar mandi. Namun, kamar mandi kosong. Dunk mulai merasa panik. Ia berjalan ke ruang tamu, dapur, bahkan balkon, tetapi tidak menemukan Joong di mana pun.

Air matanya mulai mengalir. “Joong, kamu di mana?” gumamnya dengan suara bergetar. Tangisnya pun pecah.

Mendengar suara tangisan itu, Mba Juli, ART mereka, segera datang dari dapur. “tuan dunk, ada apa? Kenapa menangis?” tanya Mba Juli dengan wajah khawatir.

“Joong kemana mba, dunk bangun udah nggak ada dia” isak Nata sambil duduk di sofa, memegangi perutnya.

“tadi katanya tuan joong ada urusan di kantor sebentar, Jangan nangis, ya. mba buatkan teh hangat, dunk tenang dulu,” ucap Mbak Juli mencoba membujuk.

Namun, dunk menggeleng keras. “Aku enggak mau! Aku mau Joong” Tangisnya semakin keras, membuat Mbak Juli semakin panik.

“Kalau begitu, saya telepon tuan Joong, ya, Tenang dulu,” kata Mbak Juli sambil buru-buru mengambil ponselnya.

Tapi sebelum Mbak Juli sempat menelepon, Dunk sudah lebih dulu menghubungi Joong. Sayangnya, panggilan itu tidak diangkat. Dunk mencoba lagi dan lagi, tetapi tetap tidak ada jawaban.

Dengan tangan gemetar, Dunk akhirnya menelepon Ets, teman sekaligus sekretaris Joong. Pada panggilan pertama, Ets tidak mengangkatnya. Namun, Dunk terus menelepon hingga akhirnya Ets menjawab.

“Ets! Mana Joong? Kenapa dia gue telpon enggak di jawab?” tanya Dunk dengan suara tinggi bercampur isak tangis.

“Joong sedang dalam meeting penting, Dunk Maaf, mungkin dia belum sempat lihat ponselnya,” jawab Ets dengan nada hati-hati.

“Meeting? kasih dulu hpnya ke joong Bilang sama dia, gue butuh dia sekarang! Kalau nggak gue ke kantor dia buat kerusuhan di sana!” Nata semakin keras menangis, membuat Ets terdiam sejenak.

“pamil marah-marah mulu, sebentar gue akan kasih tahu dia,” ucap Ets akhirnya

Ets segera menuju ruang meeting. Dengan ragu, ia mengetuk pintu dan masuk. Semua mata tertuju padanya, termasuk Joong. “Maaf mengganggu, Joong. Ini penting,” bisik Ets sambil menyerahkan ponsel.

Joong segera menerima ponsel itu. “Halo? Nata, ada apa, Sayang?” tanyanya lembut.

Namun, suara Nata di seberang terdengar penuh tangisan. “KAMU DI MANA! Aku bangun udah nggak ada kamu, pulang sekarang!”

Joong menghela napas panjang. “Sayang, tunggu lima menit lagi, ya. Aku akan selesai…”

“Enggak mau! Aku mau kamu pulang sekarang!” potong Nata dengan tangisan yang semakin keras.

Joong tidak punya pilihan. Ia langsung berdiri dan berkata kepada para koleganya, “Maaf, meeting ini harus ditunda. Ada urusan keluarga mendesak. Tolong Ets, urus jadwal ulangnya.”

Ia membungkuk meminta maaf kepada rekan-rekannya, lalu segera meninggalkan ruangan. Dalam perjalanan pulang, ia hanya memikirkan Nata.

Begitu Joong sampai di rumah, Nata yang masih duduk di sofa dengan mata sembab langsung berdiri dan menghampirinya. Ia memeluk Joong erat sambil menangis dan memukul pelan dada suaminya.

Joong membalas pelukan dunk lalu mengendongnya membawa Kembali duduk di sofa “kenapa perginya nggak bilang-bilang”

Belum sempat joong membuka suara dunk lebih dulu memotongnya “Kamu jelek!” ucap Nata dengan nada kesal.

“kamu jelek joong archen” ucap dunk lagi karena joong hanya diam saja

“Iya, aku jelek,” balas Joong dengan lembut, sambil mengusap punggung Nata.

“Kamu nggak sayang aku sama debay” tuduh Nata sambil terisak.

“Sayang. Aku sayang kalian,” jawab Joong, masih memeluknya erat.

“Tapi kamu ninggalin kita” Nata menatap Joong dengan mata penuh air mata.

Joong menghela napas dan berkata, “Maaf, Sayang. Tadi ada meeting mendadak makanya aku pergi nggak pamit. Kamu juga masih tidur, aku nggak tega banguninnya”

“Bodo amat! Pokoknya kamu salah!” sahut Nata sambil mengerucutkan bibirnya.

“Iya, aku salah,” ucap Joong sambil tersenyum kecil, mencoba menenangkan suaminya.

“Aku marah joong mau gigit kamu!” kata Nata dengan nada manja namun kesal.

“Gigit aja,” ucap Joong sambil memberikan bahunya untuk Nata.

Tanpa ragu, Nata menggigit bahu Joong, sedikit kuat gigitannya membuat joong meringis pelan Setelah itu, ia tertegun melihat tanda gigitan yang tertinggal. Ia langsung menatap bahu Joong dengan wajah bersalah, lalu tangisnya pecah lagi.

“Sakit, ya? Maaf, aku nggak sengaja,” ucap Nata sambil menangis.

“Nggak sakit, Sayang. Gak usah minta maaf,” Joong mencoba menenangkannya, tapi Nata tetap terisak.

“Tapi ini ada tandanya. Kamu bohong, pasti sakit kan?” Nata menatap Joong penuh penyesalan.

Joong mengusap pipi Nata yang basah dan berkata lembut, “Kalau orang lain yang gigit, mungkin sakit. Tapi kalau kamu yang gigit, nggak sakit. Udah, ya. Jangan nangis lagi, kasihan adek bayi lihat papanya nangis terus.”

Nata mengusap matanya yang bengkak, lalu memeluk Joong lagi dengan erat. “aku lapar…”

Joong tertawa pelan dan mengecup kening dunk “kamu belum sarapan?”

“belum, tadi ngga ada kamu” jawab dunk

“ayo sarapan sama-sama”

Sebelum joong berdiri dunk menahan tangannya “tapi aku yang buat, please izinin aku buat sarapan yah kali ini aja” pinta dunk

Joong menatap dunk dan tersenyum “iya, ayo buat sama”

****

🌹

perjodohan~JoongDunk (END) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang