[S2] In another life - End

2.8K 102 16
                                        

Selamat jalan Razeanva , kisahmu akan selalu dikenang oleh siapapun yang membaca cerita ini...

Happy reading
.
.
.

15 Tahun setelah kepergian Mendingan Suaminya Marsha kini menjadi pribadi yang berbeda tidak seceria dulu namun tetap berpegang teguh karena harus kuat didepan Kedua anaknya seperti pesan terakhir dari Zeean.

Seperti bulan-bulan sebelumnya, hari ini Marsha, Gracie, Michie, Shani, dan Gracio kembali mengunjungi tempat yang selalu menyayat hatinya pemakaman tempat Razeanva Venly Angkasa beristirahat untuk selamanya.

Langkah mereka pelan, penuh kehati-hatian, seolah takut mengganggu ketenangan yang bersemayam di sana.

Di hadapan mereka, sebuah batu nisan berdiri kokoh dengan ukiran nama yang selalu terpatri di hati Marsha. Razeanva Venly Angkasa. Tepat di sebelahnya, sebuah bingkai foto tertata rapi, menampilkan senyum tampan yang dulu selalu menjadi tempatnya bersandar.

Mata Marsha nanar menatap wajah itu. Dadanya sesak, seperti ada sesuatu yang menghimpit. Namun, ia berusaha keras untuk tetap kuat, terutama di hadapan anak-anaknya.

Ia menunduk perlahan, duduk dengan kedua kaki terlipat di samping batu nisan. Tangannya gemetar saat menyentuh bingkai foto itu, mengusapnya dengan lembut, seolah sedang menyentuh wajah yang begitu dirindukannya.

"Sayang, apa kabar?" suara Marsha lirih, nyaris tak terdengar, namun dipenuhi kerinduan yang begitu dalam.

Angin bertiup pelan, seolah membawa pesan dari tempat yang jauh.

"Kamu baik-baik saja di sana, kan? Udah nggak kesakitan lagi, kan? Aku harap kamu tenang di sisi-Nya…"

Senyumnya tipis, tapi air matanya tak bisa lagi dibendung.

"Kamu boleh kenalan sama bidadari-bidadari di surga, tapi nggak boleh selingkuh ya! Mereka pasti lebih cantik dari aku, tapi hati kamu tetap harus buat aku, ya?" gumamnya dengan cemberut, namun air matanya tetap mengalir.

Hening sejenak. Marsha menunduk, menggigit bibirnya untuk menahan isak.

"Kamu janji kita akan selamanya abadi… Tapi kenapa kamu ninggalin aku secepat ini, sayang?"

Suaranya semakin bergetar.

"Apa kamu lupa dengan janji kita…?"

Isaknya pecah. Tangannya mengepal di atas pahanya, mencoba meredam perih yang menggerogoti hatinya.

"Aku nangis setiap hari, Zee… Aku kangen kamu tiap detik. Aku ingin ketemu kamu lagi, ingin meluk kamu, ingin mendengar suara kamu…"

Ia menutup matanya erat, membiarkan air mata jatuh tanpa bisa dicegah.

"Aku nggak akan pernah bosan bilang 'I love you so much'… Karena aku benar-benar mencintai kamu. Dan aku nggak akan pernah melupakan kamu, karena kamu tidak akan pernah tergantikan. Kamu selalu ada di sini…" Marsha menepuk dadanya perlahan.

"Di hati aku… Selamanya."

Keheningan menyelimuti mereka, hanya suara angin dan gesekan dedaunan yang terdengar samar.

MY IDOL GIRLFRIEND ( ZEESHA )Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang