00.20🍁

33 12 0
                                        


Happy reading 🍁


"Arrrgghh-kenapa lo malah selamatin gue? Ha?!" pekiknya tiba-tiba membuat laki-laki itu panik. Begitu frustasi tentang apa yang dilihatnya sekarang ini. Jauh berbeda dengan apa yang ia harapkan.

Melihat itu, Haikal sontak saja langsung berdiri dan mendekat ke arahnya. "Senja tenang dulu, hei," katanya lembut, hingga di detik berikutnya laki-laki itu langsung memeluk tubuhnya erat, berusaha untuk menenangkan.

Senja mendorong kuat dada laki-laki itu agar menjauh darinya-memaksa kasar agar pelukannya terlepas. "Nggak! Lepas, sialan!" umpatan itu terdengar nyaring membuat Haikal memejamkan matanya sesaat. Gadis itu semakin kelimpungan, berusaha untuk melepaskan. Bukannya terlepas, Haikal malah semakin mengeratkan pelukannya.

Pandangan matanya mulai buram karena embun panas itu menguap di pelupuk matanya. "LEPAS!" ucapnya lagi, sedikit lebih keras.

Sungguh. Ini bukanlah hal ia inginkan kala bangun. Ia berharap bahwa semuanya telah berakhir dan kembali memulai hidupnya seperti sedia kala. Seolah semua yang terjadi hanyalah mimpi buruk yang sangat mengerikan.

Namun sayangnya, semua itu bukanlah mimpi. Apa yang telah terjadi memang benar adanya. Andaikata ini semua hanya mimpi maka ia hanya ingin segera bangun dari mimpi buruknya.

"Hiks ... Lepas," Senja terisak dengan tangan yang masih terus memukul dada bidangnya.

"Sssttt-tenang okey?" Haikal mengusap surai rambutnya lembut, membiarkan tubuhnya menjadi samsak bagi gadis dalam dekapannya itu. Memperlakukannya dengan penuh ketulusan.

Gadis itu terus saja memberontak hingga pada akhirnya tubuhnya pun mulai merasa lelah. Ia menurunkan tangannya, berhenti untuk terus memukul Haikal. Ia membiarkan Haikal memeluknya erat, memberinya sedikit kenyaman. Rasanya begitu tenang, pelukan Haikal berhasil membuatnya merasa pulang.

Di rasa sudah cukup tenang, Haikal memendarkan pelukannya. Tangannya terangkat naik menghapus jejak air matanya. Ia membaringkan tubuh Senja dengan perlahan, lalu merapikan rambutnya yang sedikit berantakan, menyelipkan anak rambut yang menghalangi wajahnya ke belakang telinga.

Senja hanya diam dengan apa yang dilakukan Haikal. Perlahan tangan lelaki itu mulai menaikkan selimut hingga batas dada.

Napasnya masih sedikit memburu, ia memalingkan wajahnya ke arah lain.

"Pergi." ucapnya tanpa menoleh sedikit pun pada lawan bicaranya.

Haikal menghembuskan napasnya pelan lalu mengangguk. Tanpa mengatakan sepatah katapun ia berlalu pergi dari ruangan bercat putih itu, meninggalkan Senja seorang diri. Mungkin ia masih butuh waktu dan Haikal tak akan memaksanya.

Setelah kepergian Haikal, gadis itu beralih menatap langit-langit.

"Masih bisa selamat, heh?" ia terkekeh kecil diakhir kalimat. Kali ini terasa bagai lelucon, seolah yang terjadi adalah hal lucu yang pantas ditertawakan.

Ia menghembuskan napasnya berat lalu mengangkat tangan sebelah kiri ke udara. Terlihat balutan kain kasa itu melingkar di pergelangan tangannya. Dan di punggung tangan sebelah kanan, terlihat infusan masih terpasang di sana.

Jika di ingat-ingat kejadian malam itu membuatnya sedikit tak bisa mengendalikan emosionalnya, hingga berujung akan mengakhiri hidupnya sendiri.

Namun, sepertinya Tuhan masih berbaik hati dengan menyelamatkan nyawanya.

Terlalu nekat jika itu berhubungan dengan ketenangannya sendiri. Baginya jika itu bisa membuatnya tenang dan sedikit melupakan masalahnya, kenapa tidak?

Dejavu Luka [ Luka Yang Tak Mungkin Aku Ingat Kembali ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang