Another World

41 3 0
                                        



Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.



Prolog

Anda menderita kanker otak.

Ucapan itu masih terngiang-ngiang di otak seorang pemuda berparas cantik meski kejadian itu sudah 3 bulan berlalu. Sorot matanya tampak memandang kosong lurus ke depan. Ia adalah seorang pelukis muda terkenal yang memiliki banyak karya mendunia. Tak sedikit hasil karya miliknya dibeli oleh para bangsawan dari berbagai negara, bahkan baru-baru ini karyanya yang berjudul love dibeli oleh seorang kolektor kaya China.

Matanya kini terpejam, mencoba menenangkan emosi. Tangannya menarik kain coklat yang menutupi sebuah bingkai lukisan yang masih terpajang di ruang kerjanya. Terlihat sketsa lukisan yang belum selesai dan tampaknya pemuda itu enggan menyelesaikannya. Ia menurunkan bingkai canvas itu dari penyangga dan mengganti dengan canvas baru yang masih putih bersih.

3 bulan lagi ....

Aku bisa merasakan hembusan angin yang menenangkan hanya tiga bulan lagi. Sebenarnya aku bukanlah sosok yang memiliki keinginan kuat. Aku hanya seorang pemuda introvert yang berusaha untuk tak membebani keluargaku. Hidupku juga tak terlalu menarik. Hanya kuas, canvas, dan cat berwarna warni yang membuat hidupku lebih berwarna.

Tapi ... aku rasa, aku menginginkan sebuah kisah yang memiliki akhir yang indah.

Xiao Zhan tampak mengambil kuas miliknya. Sejenak memejamkan mata demi membayangkan apa yang ingin ia lukis saat ini. Gerakan tangannya begitu pasti saat mendapatkan sebuah ide dan langsung ia tuangkan di atas canvas putih.

"Zhan, bolehkah ibu masuk?" Suara seorang wanita paruh baya terdengar dari luar kamar Xiao Zhan. Ia adalah Ningning, wanita yang merupakan ibu kandung pemuda itu.

"Masuklah."

Mendengar jawaban dari sang putra, Ningning dengan hati-hati memasuki ruangan Xiao Zhan yang terlihat seperti mini studio. Banyak lukisan tersusun rapi yang memenuhi hampir seluruh dinding kamar sang putra. Ningning menuju pada sebuah meja untuk meletakkan minuman dan semangkuk bubur hangat di sana.

"Bibi Yao memberikan ibu obat herbal yang katanya bagus untuk berbagai penyakit. Rasa buburnya tidak pahit, kok. Ibu---"

"Terima kasih. Ibu tidak usah repot-repot mencari obat untukku." Xiao Zhan menghentikan pekerjaannya lalu menatap sang ibu.

"Aku tak takut pergi dari dunia ini. Yang aku takutkan hanya saat aku pergi, aku tak bisa membuat ibu tersenyum lagi."

Wanita itu segera mendekap tubuh Xiao Zhan erat sambil mengusap kepala sang putra. "Jangan mengatakan hal itu lagi. Pasti ada jalan untuk penyembuhanmu, Zhan."

Xiao Zhan tak menjawab. Ia tahu ibunya sangat berat menerima kenyataan. Selama tiga bulan ini, Ningning tak henti-hentinya mencari informasi dari dokter spesialis hingga pengobatan traditional untuk menyembuhkan penyakit sang putra, tapi hasilnya semua sama. Tak ada obat yang bisa menyembuhkan penyakitnya.

Selama ini Xiao Zhan pun tak tinggal diam. Tentu saja ia ingin hidup dengan baik dan bisa membalas semua kasih sayang sang ibu. Ia mencari informasi dari berbagai situs media sosial hampir setiap hari. Tapi tak ada petunjuk bahwa penyakitnya bisa disembuhkan.

Ningning mengusap air matanya dengan cepat. Ia menangkup pipi Xiao Zhan sembari tersenyum. "Sebaiknya kau istirahat dulu. Minumlah sup ini selagi hangat dan segera tidur. Ini sudah malam."

"Aku ingin melukis selagi aku bisa sebelum hanya bisa terbaring lemah di atas ranjang. Oh iya, ibu bisa menjual semua lukisanku ketika aku pergi nanti."

Ningning meletakkan jarinya di bibir Xiao Zhan. Sorot matanya menunjukkan sebuah permohonan. Sebagai seorang wanita yang hidup sendiri untuk membesarkan putra semata wayangnya, ia belum siap untuk melepaskan Xiao Zhan pergi. Banyak hal yang masih ingin ia lakukan untuk sang putra. Baginya, Xiao Zhan masih memiliki jalan yang panjang. Usianya baru 20 tahun. Usia yang baru matang untuk melihat dunia.

"Lakukanlah apa yang kau mau. Ibu percaya padamu." Ningning menghela napas berat sambil mengusap bahu Xiao Zhan. Wanita itu berbalik dan hendak meninggalkan putranya, tapi tiba-tiba ia merasakan sebuah pelukan dari belakang yang menyongsongnya.

"Aku menyayangi ibu."

Ningning bergeming. Ia mengangguk sembari menahan isakan yang teredam. Keduanya larut dalam kesedihan mendalam. Andai waktu bisa berhenti, mereka hanya ingin menghabiskan waktu sedikit lebih lama untuk bahagia.

....

Xiao Zhan mencoba memejamkan mata setelah menyelesaikan satu karyanya. Ia berbaring menghadap ke arah jendela yang memperlihatkan suasana di luar sana. Salju tampak turun membentuk kepingan es yang memutih dan menutupi jalanan.

Tiba-tiba angin kencang menghempaskan kain yang menutupi lukisannya. Xiao Zhan yang melihat hal itu segera bangun dan memungut kain tersebut. Ia hendak menutup kembali lukisannya, tapi sesuatu menyita perhatian ketika tiba-tiba sosok dalam lukisan tersebut menarik tengkuk dan mencium bibirnya dengan begitu intens.

Sebuah ciuman hangat yang membuat seluruh tubuh Xiao Zhan merasakan sesuatu yang aneh. Ribuan kupu-kupu seolah menari di perutnya.

Tanpa ia sadari, sosok tersebut menariknya ke dalam lukisan. Menembus dunia baru yang asing dan akan menjadi awal kisah keduanya.


Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
INFO PDF YOONA ♡Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang