part 22

290 10 3
                                        

Aku update lagi nih
Maaf ya jika
Cerita nya masih
Kurang seru
.
.
.
Jangan lupa komen dan vote ya
Terima kasih
.
Selamat membaca















Lisa bertepuk tangan dengan riang. "Wah, oppa memang yang terbaik!"

Seok Jin tersenyum puas, sementara Chang Wook dan Seung Cheol menggeleng kecil melihat betapa manja adik mereka.

Dokyeom menatap Lisa yang begitu bahagia, lalu dengan jahil nya menyodorkan sumpit "Boleh aku mencoba, Lice?"

Lisa menatapnya, lalu terkikik. "Tentu saja, oppa." Ia mengambil sepotong tteokbokki dan menyuapkannya ke mulut Dokyeom.

Seok Jin yang melihat itu langsung mengangkat alis. "Hoo, sejak kapan kalian semakin dekat seperti ini?"

Lisa hanya tersenyum, sementara Dokyeom dengan tenang menjawab, "Sejak aku yakin bahwa aku ingin selalu ada di sisinya."

Seung Cheol yang dari tadi diam hanya menghela napas pelan. Hatinya masih ada sedikit rasa yang sulit dijelaskan, tapi melihat Lisa yang begitu bahagia, ia memilih untuk tidak mengungkitnya. Yang terpenting, Lisa tetap menjadi adik kecil yang ceria dan tersayang bagi mereka.

Malam itu, tawa dan kebahagiaan memenuhi rumah mereka. Lisa tidak hanya menemukan cinta, tetapi juga semakin menyadari bahwa ia dikelilingi oleh orang-orang yang benar-benar menyayanginya.

Setelah makan malam yang hangat bersama saudara nya dan Dokyeom, Lisa duduk di balkon kamarnya. Angin malam yang sejuk menerpa wajahnya, membuat pikirannya lebih tenang.

Ponselnya bergetar.

Dk oppa: Lice, sudah tidur?

Lisa tersenyum kecil dan membalas.

Lisa: Belum, oppa. Aku masih di balkon.

Tak lama, panggilan masuk dari Dokyeom. Lisa mengangkatnya tanpa ragu.

“Halo, oppa?”

Suara Dokyeom terdengar lembut dari seberang. “Apa yang sedang kau pikirkan?”

Lisa menatap langit malam yang bertabur bintang. “Aku hanya merasa… bersyukur. Aku memiliki kalian semua, memiliki keluarga yang menyayangiku, dan… memiliki seseorang yang selalu ada untukku.”

Dokyeom terdiam sebentar, lalu berkata dengan nada penuh kehangatan, “Aku akan selalu ada untukmu, Lice.”

Lisa menggigit bibirnya, hatinya menghangat. “Oppa…”

“Hm?”

Lisa ragu sejenak sebelum akhirnya berkata, “Terima kasih… karena kau selalu sabar denganku.”

Dokyeom terkekeh. “Aku bukan hanya sabar, tapi juga sangat menyukaimu, Lisa.”

Lisa tersenyum lebar. “Aku tahu.”

Suasana hening sejenak, tetapi bukan keheningan yang canggung. Itu adalah keheningan yang nyaman, seolah mereka berbicara lewat perasaan yang tidak perlu diungkapkan dengan kata-kata.

“Besok, kau ada waktu?” tanya Dokyeom.

Lisa berpikir sejenak. “Aku tidak sibuk. Ada apa?”

“Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat.”

Lisa tersenyum kecil. “Ke mana kali ini?”

“Rahasia.”

Lisa mendengus pelan. “Baiklah, aku ikut.”

“Bagus. Aku akan menjemputmu pagi-pagi.”

Setelah beberapa menit mengobrol ringan, mereka akhirnya menutup telepon. Lisa merebahkan diri di tempat tidurnya, hatinya terasa lebih ringan.

“Lisa sudah tumbuh dewasa…” gumam Seung Cheol pelan.

Namun, ia tahu satu hal—tidak peduli dengan siapa Lisa akan bersama, ia akan selalu menjadi kakak yang melindunginya.

Dan jika suatu hari Lisa terluka… ia akan ada di sana untuk menghapus air matanya.

---

Keesokan paginya, Dokyeom datang menjemput Lisa tepat waktu. Lisa mengenakan sweater putih lembut dan jeans sederhana, terlihat segar dan cantik.

“Oppa!” sapanya riang saat masuk ke dalam mobil.

Dokyeom menoleh dan tersenyum. “Kau terlihat cantik hari ini.”

Lisa terkekeh. “Apa aku tidak cantik setiap hari?”

“Tentu saja, tapi hari ini… kau terlihat lebih bersinar.”

Lisa menundukkan kepala, menyembunyikan pipi merona nya senyum kecil yang ia sembunyi kan.

Mereka berkendara selama beberapa waktu hingga akhirnya tiba di sebuah tempat yang cukup jauh dari kota—sebuah danau dengan air jernih yang dikelilingi pepohonan rindang. Tempat itu sepi, hanya terdengar suara angin dan gemericik air.

Lisa terdiam, terpana melihat keindahannya.

“Oppa… tempat ini…”

Dokyeom menoleh padanya. “Aku menemukan tempat ini secara tidak sengaja saat sedang mencari ketenangan. Dan aku ingin membawamu ke sini, karena… aku ingin kau tahu bahwa bersamaku, kau bisa merasa bebas dan tenang.”

Lisa menatap Dokyeom, hatinya bergetar. Ia tidak tahu sejak kapan perasaan ini tumbuh begitu dalam, tetapi satu hal yang ia yakini—Dokyeom telah menjadi bagian yang penting dalam hidupnya.

Lisa tersenyum. “Terima kasih, oppa. Aku sangat menyukai tempat ini.”

Dokyeom mengulurkan tangannya. “Kalau begitu, ayo kita menikmati waktu bersama.”

Lisa menggenggam tangan itu tanpa ragu, dan mereka pun berjalan di sepanjang danau, menikmati momen kebersamaan mereka.

Hati Lisa semakin yakin—ia tidak hanya nyaman bersama Dokyeom, tapi ia juga mulai benar-benar jatuh cinta padanya.

"Oppa!" Panggil lisa, sedikit gugup. "Aku sudah memikirkan semua nya. Aku mulai merasakan hal yang lebih dalam. Aku mulai menerima kehangatan yang kau berikan. Keceriaan, kebahagiaan dan hal yang selalu membuat ku melupakan semua masalah yang ku punya. Maka dari itu aku memutuskan...... Untuk.... Menerima mu."

"Lice... " Dengan keadaan mata yang sudah siap mengeluarkan air. Namun dengan sigap Dokyeom langsung menahan air mata tersebut. Ia takut akan mengacaukan moment tersebut.

"Hari ini adalah hari yang paling bahagia untuk ku. Kau telah menerima ku. Terima kasih untuk semua nya. Aku menyayangimu sayang." Menarik lisa kedalam pelukan nya, dan mendekatkan wajah mereka satu sama lain.

"Terima kasih untuk semua nya, aku menyayangimu oppa" 

Selanjutnya adegan romantis lah yang terjadi.



End








Terima kasih semuanya, cerita nya, selesai sampai sini. Dan maaf jika part part sebelumnya masih kurang seru. Terima kasih telah membaca cerita ini.
Semoga hari kalian menyenangkan. Tunggu cerita terbaru aku ya.

Terima kasih

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: May 09, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Kepolosan Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang