Menyaksikan kebahagiaan sahabatku adalah bagian bahagia ku
~Qeella
Di sebuah ruangan yang sudah seperti markas kecil bagi mereka, sekelompok pemuda dari geng Bridh tengah berkumpul. Asap rokok tipis melayang di udara, bercampur dengan suara obrolan santai yang sesekali diwarnai gelak tawa. Kevin duduk santai di atas sofa usang, memainkan botol minum di tangannya.
"Anjay, abang-abang gua udah pada punya pawang. Gua kapan ya?" ujarnya dengan nada bercanda, tapi matanya menerawang seolah sedang memikirkan nasibnya sendiri.
Zidan, yang duduk di sampingnya, terkekeh. "Iya, ya. Coba VC si Boby deh. Sejak nikah, gak enak anjay buat diajak nongki."
"Ya namanya juga udah ada pawang, jir," tambahnya, membuat Kevin dan yang lain tertawa kecil.
Kevin menoleh ke arah Zidan, mendelik pura-pura kesal. "Lo nyusul kapan, Zid?" tanyanya iseng.
Zidan mengangkat bahu. "Bentaran dong. Nunggu ini dulu," katanya sambil menunjuk ke arah Ken yang sedang sibuk dengan ponselnya.
Ken menoleh dengan alis terangkat. "Anjir, apaan sih? Lo duluan juga gak apa-apa kali, Zid."
"Lah, masalahnya lamaran lo udah besok, Ken," timpal Zidan menggoda.
Ken menoleh dengan wajah terkejut. "Lah, emang lo belum lamaran?"
Zidan menggeleng. "Belum. Baru ketemu. Nanti gua lamar dia abis lo lamaran," jawabnya santai.
Mereka tertawa lepas, menikmati momen itu tanpa beban. Kevin menggeleng pelan, lalu bersandar di sofa dengan ekspresi setengah sendu, setengah geli. "Hahaha, anjir anjir! Gua gimana ya?" ujarnya sambil tertawa kecil.
Di tengah tawa mereka, pintu terbuka. Boby masuk dengan santai, membawa beberapa kantong plastik penuh makanan.
"Lo nyari lah," katanya tanpa basa-basi, meletakkan makanan di meja.
Kevin dan yang lain menoleh ke arah Boby, lalu tertawa sebelum menyambutnya dengan salam khas geng mereka.
"Beneran baru mau gue VC, eh lo udah nongol aja di sini," ucap Kevin sambil menyalami Boby.
"Istri lo nggak marah lo tinggal malem-malem gini?" tanya Ken sambil tersenyum jahil.
"Nggak, tenang aja. Dia lagi nginap di rumah temennya," jawab Boby santai.
Mereka kembali terlibat dalam obrolan ringan, ditemani rokok yang dihabiskan satu demi satu. Setelah beberapa saat, pertemuan itu akhirnya berakhir. Satu per satu mereka bangkit, bersiap untuk pulang.
"Pulang yuk, Zid. Gue mau siap-siap buat besok," kata Ken sambil mengenakan jaket kebanggaan geng Bridh.
"Yoi, bro. Yuk, kita cabut dulu ya, guys. Assalamualaikum," pamit Zidan sambil melambaikan tangan.
"Waalaikumsalam," jawab mereka serempak.
Malam itu, mereka berpisah dengan senyum di wajah, masing-masing kembali ke kehidupannya yang menunggu di luar sana.
---
Di sisi lain...
Teett teeett—dering suara handphone Qeela nyaring terdengar saat ia tertidur. Maklum, jam sudah menunjukkan pukul 22:09 WIB. Ternyata sahabatnya, Lia, yang menelepon.
"Halo, Lia. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam. Qeel, udah tidur ya?"
"Nggak. Sok, ngomong aja."
"Aku besok jadi lamaran ya. Kamu dateng pagi-pagi banget nggak apa-apa?"
Mata Qeela langsung terbuka lebar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cool Boy
Novela JuvenilFolow gays bantu suport ! Tidak ada deskripsi ,kalo penasaran silahkan baca
