"Yang tertakar tak akan pernah tertukar,
takdir berjalan dalam skenario tanpa cela.
Segala yang ditetapkan semesta,
kan datang dengan cara yang tak pernah salah,
dan tiap langkah akan dimudahkan oleh waktu yang tepat."
Author
Hai gayss aku combeck ,kabarnya gimnaa kaliann? ,bacaa ya cerita kuu maaf bngt lama gak up hehhe semoga sukaa yaa.jangan lupa tinggalkan jejak cinta kalian !
Setelah semua selesai, Ken dan Zidan akhirnya tiba kembali di rumah. Beban yang selama ini menggelayuti pikiran mereka terasa terangkat. Ada kelegaan yang sulit digambarkan dengan kata-kata.
“Huh, terima kasih ya, Zid. Lo sahabat terbaik gue deh! Alhamdulillah, akhirnya kelar juga semuanya,” ujar Ken sambil mengusap wajahnya.
Zidan tersenyum tipis, menyandarkan tubuhnya ke kursi. “Alhamdulillah, bro. Gue juga lega.”
Ken melirik Zidan dengan pandangan menggoda. “Eh, tadi itu ya perempuan yang ngobrol sama lo? Calon lo tuh?” tanyanya sambil menaikkan alis.
Zidan meneguk ludah, mencoba menahan getaran di dadanya. Jantungnya berdetak tak karuan. “Hmm… ya,” jawabnya lirih, berusaha tetap tenang meski wajahnya memerah.
Ken tak mau kalah. “Wih, keren juga lo! Jadi, kapan nih nyebar undangan? Jangan lupa gue yang pertama tahu!” godanya sambil tertawa kecil.
Zidan hanya menggeleng, senyumnya samar. “Lo ini, Ken. Belum sejauh itu, lah. Tapi… doain aja, semoga memang ada jalan.”
Ken tertawa ringan, tapi segera mengangguk serius. “Aamiin, Zid. Gue yakin, kalau memang dia yang terbaik, Allah bakal kasih jalan. Lo udah siap kan buat langkah besar ini?”
Zidan menarik napas dalam, mencoba menenangkan diri. “InsyaAllah, Ken. Allah selalu kasih yang terbaik. Gue cuma perlu yakin dan terus berusaha.”
Zidan mencoba mengalihkan pembicaraan yang membuat dadanya berdegup kencang. “Eh, ngomong-ngomong kapan lo ke rumah Lia?” tanyanya.
“Soal itu, nanti dua hari lagi, Zid. Gue mau mempersiapkan diri dulu sebelum menghadap orang tuanya,” ucap Ken dengan tenang.
“Gue doain semoga lancar juga, ya.” Zidan mengadahkan tangannya ke atas.
“Aamiin,” ucap mereka serempak.
♡♡♡♡♡♡♡♡●●●●♡♡♡♡♡♡♡♡
Di sisi lain, dua gadis cantik sedang menikmati pemandangan matahari yang hampir tenggelam di pantai. Senja yang indah menjadi saksi bisu perbincangan mereka.
“Qeel, aku lega. Nggak nyangka juga Ken bakal seberani itu,” ujar Lia sambil tersenyum kecil.
“Aku juga kaget, loh. Apalagi ada temannya, Zidan. Jadi, gimana gitu.”
“Hayo, temannya itu kamu sama dia aja. Kalian cocok, tuh,” goda Lia sambil tertawa kecil.
Qeela tersenyum tipis, berusaha tenang. “InsyaAllah, semoga dipermudah aja jalannya.”
Lia memandang sahabatnya dengan curiga. “Hah? Beneran suka ya? Kok kamu nggak bilang sih sama aku? Qeela mah mainnya sembunyi-sembunyi.” Lia mengerucutkan bibirnya, seolah-olah sedang marah.
“Nggak maksud sembunyi kok, sayangku, cintaku, duniaku,” balas Qeela sambil merangkul Lia. “Aku cuma nggak mau nambah beban pikiran kamu aja. Masalah percintaan kamu udah segunung.”
Lia tersenyum lemah. “Nggak papa, Qeel. Aku masih mikir, nanti kalau orang tuanya Ken nggak nerima aku dengan baik, gimana ya?”
“Itu urusan nanti. Yang penting kamu bisa jadi istri dan menantu yang baik. InsyaAllah luluh, kok,” jawab Qeela dengan yakin.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cool Boy
Novela JuvenilFolow gays bantu suport ! Tidak ada deskripsi ,kalo penasaran silahkan baca
