empat belas

55 18 1
                                        

Betapa indahnya menunggu, saat hasilnya adalah kamu—seseorang yang memang selalu berdiam jauh di sudut hatiku.”

Muhammad zidan arka alexxader

Setelah prosesi lamaran Ken dan Lia, kini giliran Zidan dan keluarganya bersiap-siap datang ke rumah Qeela untuk melamarnya. Pagi itu, udara terasa begitu segar. Qeela sedang duduk di depan cermin, memoles wajahnya dengan makeup sederhana. Saat ia menatap bayangan dirinya di cermin—seolah merenungi langkah besar yang akan diambil—suara nyaring tiba-tiba menggetarkan seluruh isi kamar.

“Qeelaaaaa!” teriak Lia, masuk dengan penuh semangat. “Omg, Qeel! Semoga ini jadi hari terbaik untukmu, sahabatku! Gila ya, waktu cepet banget! Nanti kalau kita udah nikah, masih sering ketemu gak, ya? Masih bisa nginep-nginepan bareng gak, ya? Aku takut banget, Qeel. Dan… gak nyangka si dia gercep juga!” celotehnya tanpa jeda.

Qeela hanya tersenyum haru. Seperti biasa, Lia adalah orang paling heboh di setiap momen penting hidupnya. Tapi justru itu yang membuatnya merasa ditemani, dicintai. Hatinya menghangat.

Waktu berjalan begitu cepat. Tapi di tengah perubahan besar yang akan datang, persahabatan mereka tetap jadi rumah yang paling nyaman untuk pulang.

Keluarga Zidan akhirnya tiba. Senyum ramah dan tatapan penuh harap menyertai setiap langkah mereka memasuki rumah Qeela. Segalanya terasa begitu nyata kini—bukan lagi sekadar rencana atau percakapan malam-malam panjang bersama Lia.

Waktu acara pun dimulai. Detik demi detik terasa lambat namun penuh makna. Qeela duduk anggun, mengenakan busana terbaiknya, dan makeup sederhana yang memancarkan ketulusan. Ia berusaha menahan diri… tapi senyumnya terus merekah, tak bisa disembunyikan lagi.

Itu bukan hanya senyum bahagia. Tapi juga senyum lega—karena perjalanan panjangnya kini menemukan jawaban. Karena lelaki yang selama ini ia doakan, kini datang bukan hanya untuk singgah… tapi untuk menetap.

Umi Zidan menatap Qeela dengan mata berkaca-kaca, suaranya lembut
“MasyaAllah… Nak, Umi merasa sangat bangga kamu sudah sampai di fase ini. Umi masih ingat betul, saat Zidan pertama kali bercerita tentangmu…”

Ia menoleh sebentar ke arah Zidan yang tersenyum malu.

“Waktu itu, dia duduk diam di ruang tamu, lalu tiba-tiba bilang, ‘Umi, aku rasa ini bukan cuma suka… ini tenang yang tumbuh, dan aku ingin jaga dia.’”
Umi tersenyum lembut, menahan haru.
“Itulah pertama kalinya dia berani cerita tentang cinta… dan ternyata, tentang kamu.”

Qeela menunduk, matanya berkaca-kaca
“Terima kasih, Umi… Qeela juga merasa tenang sejak kenal Zidan. Seperti dipertemukan bukan hanya karena suka, tapi karena sama-sama ingin tumbuh.”

Acara pun dimulai. Setelah beberapa saat perbincangan ringan dan canda tawa hangat menyelimuti ruang tamu, suasana perlahan menjadi lebih khidmat. Ayah Qeela, dengan suara tenangnya yang penuh wibawa, akhirnya membuka percakapan utama.

Ayah Qeela menatap Zidan dengan tatapan tegas namun bijak
“Zidan… setelah temu kangen dan obrolan hangat kita tadi, sekarang Ayah ingin tahu. Apa maksud kedatanganmu kemari?”

Zidan yang sedari tadi duduk dengan penuh hormat, mengangkat wajahnya dengan mantap. Suaranya lantang namun penuh hormat.

Zidan:
“Saya datang kemari… untuk meminang putri Tuan.”

Ayah Qeela mengangguk perlahan, lalu kembali bertanya, suaranya lebih dalam kali ini.

Ayah Qeela:
“Dan… jika putri saya bersedia, apa yang akan kamu lakukan setelahnya?”

Zidan menarik napas sejenak. Tatapannya tak lepas dari mata Ayah Qeela, menunjukkan kesungguhan yang tak dibuat-buat.

Zidan:
“InsyaAllah, saya akan menemaninya… hingga ajal memisahkan kami. Menjadi teman tumbuhnya dalam suka dan duka. Dan bersama, kami akan berjalan untuk meraih ridha dari Sang Pencipta.”
Ayah Qeela betanya padanya , Qeel bagaimana ?

Qeela yang sedari tadi tunduk pun menoleh dan meemberanikan diri menjawab

Jika niat nya baik , terlepas dari semua yang sudah kita lewati dan allah telah memilihnya, inyaallah yah Qeela siap

Tiba tiba zidan bilang , Qeel mari tumbuh bersama  dan meraih ridha nya .

Seisi ruangan sejenak terdiam. Hening, tapi bukan hampa. Justru penuh dengan getaran haru dan keyakinan yang dalam.

Ayah Qeela menatap Zidan dalam diam beberapa detik. Seolah sedang menimbang masa depan putri kesayangannya. Tapi di balik sorot matanya, ada rasa lega—karena lelaki yang kini duduk di hadapannya, tak hanya datang dengan niat baik, tapi juga keberanian dan ketulusan.

Ayah Qeela:
“Jika itu niatmu, dan engkau telah siap memegang amanah ini… Maka, Ayah terima. Jaga Qeela baik-baik. Dia bukan perempuan sempurna, tapi dia adalah anugerah yang butuh dipimpin dengan kasih sayang dan iman.”

Zidan dengan suara yang sedikit bergetar namun yakin
“InsyaAllah, Ayah. Saya akan menjaga dan membimbingnya, sejauh ilmu dan iman saya mampu. Dan akan terus belajar untuk menjadi imam yang lebih baik, bersamanya.”

Qeela menunduk, air matanya jatuh pelan tanpa suara. Lia yang duduk di sampingnya dengan cepat menggenggam tangannya, memberi kekuatan diam-diam.

lalu umi  zidan memasangkan cincin pada  Qeela dan mencium putrinya , Qeela sayang  ,umi sangat bangga .
Sebelum sampai pada fase ini—sebelum Zidan datang dengan niat meminang dan menjadikan semuanya nyata—ada perjalanan panjang yang tak semua orang tahu.

Ada fase sepi yang dilewati dengan air mata. Ada malam-malam dingin yang hanya dihangatkan oleh harapan. Ada rindu yang belum tahu akan siapa, tapi tetap dilayangkan dalam doa.

Zidan dan Qeela tak langsung saling menggenggam. Mereka bukan pasangan yang jatuh cinta dalam waktu singkat. Mereka adalah dua hati yang sama-sama terluka, tapi memilih pulih dengan cara paling mulia: berdoa.

Zidan pernah berdoa seperti ini:

"Ya Allah… jika aku terlalu jauh untuk dipertemukan, dekatkan aku dengan seseorang yang Engkau jaga. Seseorang yang tidak hanya cantik imannya, tapi juga mau tumbuh bersamaku, meski jalan yang kami tempuh tak selalu mudah."

Dan di tempat lain, di waktu yang mungkin berdekatan, Qeela pun menengadah dengan kalimat yang tak jauh berbeda:

"Jika dia benar adanya, dan bukan sekadar persinggahan, maka kuatkan aku untuk sabar sampai waktu yang Engkau pilih. Biarkan dia datang… bukan hanya sebagai jawaban, tapi sebagai teman untuk sama-sama mencari ridha-Mu."

Mereka saling tidak tahu. Tapi doa-doa mereka—ternyata—saling menemukan. Saling mengetuk langit, saling memanggil dengan bahasa langit yang tak pernah gagal menemukan alamatnya.

Hari ini adalah jawaban dari semua itu.

Halo gays im combek bacaa , yaa cantikk 😍 Qeela udah lamaran aja besok besok halal  ya Qel🤣

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Dec 04, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Cool Boy Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang