Bagian 38 : Desir

3K 248 46
                                        

CW : MATURE !!!!


Langit di ufuk barat perlahan berubah warna, melukis kanvas alam dengan gradasi jingga, merah jambu, dan ungu keemasan. Cahaya matahari yang mulai tenggelam memantul di permukaan laut, menciptakan kilauan seperti taburan permata. Di depan pemandangan yang begitu menakjubkan, berdirilah sebuah villa mewah di tepi tebing pendek. Bangunan itu berhadapan langsung dengan pantai pribadi yang pasirnya selembut tepung, sementara barisan pohon kelapa bergoyang pelan diterpa angin sore. 

Di tepi infinity pool yang seolah menyatu dengan lautan, Jeongwoo duduk santai di atas kursi malas. Sebuah laptop terbuka di pangkuannya, layar memantulkan cahaya redup senja. Jemarinya bergerak lincah di atas keyboard, sesekali keningnya berkerut serius. Ia seperti berada di tengah dua dunia——keindahan liburan yang seharusnya dinikmati, dan tuntutan pekerjaan yang masih menggenggamnya erat. 

Sementara itu, Doyoung mengapung di tengah kolam dengan sebuah pelampung berbentuk donat berkrim merah muda yang kontras dengan air biru. Ia melayangkan tatapan kesal ke arah Jeongwoo yang sama sekali tak berpaling dari layar laptopnya. 

"Lo ngapain sih? Sibuk banget?" Doyoung akhirnya bersuara, suaranya setengah mengeluh, setengah menuntut perhatian. 

Jeongwoo melirik sekilas ke arahnya sebelum kembali fokus pada layar. "Kerja," jawabnya singkat. 

Doyoung mendesah panjang, menggoyangkan kakinya di air untuk menciptakan riak kecil. "Lo serius? Kita jauh-jauh ke sini, dan lo malah kerja?" Nada suaranya penuh kekecewaan. 

Jeongwoo tidak menjawab. Ia hanya mendesah ringan, seperti sudah menduga hal ini akan terjadi. 

Doyoung memutar matanya, lalu memalingkan wajah ke arah laut. "Yaudah, urusin aja kerjaan lo itu. Gue emang bukan prioritas, kan? Lo nikahin gue biar punya pasangan aja, kayak orang-orang kan? Gue udah tau niat busuk lo," gumamnya, sengaja mengatakannya cukup keras agar Jeongwoo bisa mendengarnya. 

Jeongwoo akhirnya berhenti mengetik. Ia mengangkat kepalanya, menatap Doyoung dengan ekspresi datar. "Jangan ngeluh, saya kerja juga buat kamu. Kamu mau hidup susah?" Nada sarkastiknya begitu jelas. 

Doyoung berdecak, membalikkan tubuhnya hingga membelakangi Jeongwoo. "Lo pikir gue nikahin lo karena uang lo doang?" ia tertawa kecil, tapi terdengar getir. "Cerai aja kalau gitu——" 

"Doyoung!"

Suara Jeongwoo menggelegar, jauh lebih keras dari deburan ombak. 

Doyoung langsung menegang. Perlahan, ia membalikkan tubuhnya kembali dan mendapati Jeongwoo menatapnya dengan ekspresi tajam. Rahangnya mengeras, sorot matanya berkilat marah. 

"Saya nggak suka omongan kamu," ujar Jeongwoo tegas. 

Doyoung mengerjapkan mata, sedikit kaget dengan reaksi Jeongwoo. Tapi bukannya mengalah, ia justru menyahut dengan nada keras. "Gue juga nggak suka sama lo!" 

Keheningan jatuh di antara mereka. Angin pantai bertiup lebih kencang, membawa aroma garam dan kelembaban laut. 

Jeongwoo mengembuskan napas panjang, lalu menutup laptopnya dengan kasar. Bunyi klik terdengar nyaring, seolah menandakan akhir dari kesabarannya. Dengan gerakan tergesa, ia meletakkan laptop itu sembarangan di meja samping, lalu bangkit berdiri. 

Doyoung menelan ludah. Ada sesuatu dalam ekspresi Jeongwoo yang membuatnya merasa seperti kelinci yang baru saja terkunci dalam tatapan serigala. 

Tanpa sepatah kata, Jeongwoo berjalan ke arah kolam renang. Ia melangkah masuk tanpa ragu, air langsung merendam celana panjangnya hingga ke pinggang. Kemeja putihnya basah dan menempel di tubuhnya, menonjolkan garis-garis otot yang selama ini tak pernah ia pamerkan. 

FEIGN || JEONGBBY [✓]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang