Sejak kecil kami tumbuh bersama. Ulang tahun di hari yang sama. Mengenal kesukaan dan hal yang dibenci satu sama lain. Hubungan tidak sedarah yang seperti sedarah.
Aku tidak berpikir memiliki perasaan khusus saat bersamanya. Tapi sebuah kejadian ya...
Selamat malam minggu semuanya. Kembali lagi kita dengan pasangan muda yang lagi gonjang-ganjing ini. Aku tahu part belakangan sangat menguras emosi. I know! Tapi memang sudah saatnya ya gaes. Kalian jangan kaget sampai problem ini mencapai penyelesaian. Sama-sama aja kita peluk jauh dan saling menenangkan perasaan TT
Song: Fromm - In Your Light
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Hope you like that! Happy Reading!
.
.
.
Senja tergelincir dan langit mulai kehilangan warna, tergulung gelombang laut yang semakin tinggi. So Eun duduk diam di balkon kamar, memeluk lutut. Angin malam yang menampar wajah tak dihiraukan, pun suara ombak yang menghantam bebatuan di kejauhan. Meski pekat membatasi pandangan, tapi So Eun seolah sudah hafal pemandangan di sana karena terlampau sering menghabiskan waktu di tempat serupa hanya untuk merenung.
Hingga Hana datang, menyampirkan selimut ke pundaknya dengan lembut, memecah lamunan. Hana bergabung di kursi lain, membawa piring berisi potongan apel untuk So Eun.
"Apa yang kau pikirkan sampai tidak mendengar panggilan Eomma, hm?" Matanya menatap penuh sayang.
So Eun menggeleng lesu. "Kurasa angin menyamarkan suara Eomma." Dalihnya.
Hana tidak tertipu. Mimik wajahnya mengakui hal lain.
"Ini tidak akan membuatmu mual. Makanlah." Hana menggeser piring berisi apel tersebut ke dekat putrinya.
So Eun mengambil satu potong, mengunyah perlahan, lebih untuk menenangkan hati ibunya alih-alih dengan tujuan mengisi perut.
Hana melirik ke sudut balkon, di mana kanvas dan cat lukis berserakan. "Bibi Han bilang kau sering begadang untuk melukis."
Ini tidak seperti yang dijanjikan putrinya sebelum mereka setuju membiarkan So Eun tinggal sendiri.
So Eun tersenyum miris. "Aku hanya ingin mengalihkan pikiranku sebentar."
"Kau memikirkan Kyuhyun, bukan?" Tembak Hana. So Eun tercekat. Meski ingin mengelak, ia tidak bisa. "Kau bisa bertanya pada Eomma jika itu yang ingin kau ketahui."
Sigh! Sudah ia lakukan jika hidupnya tak serumit ini.
"Mencari tahu tentangnya hanya akan membuatku semakin merindukannya..." Mulutnya bertentangan dengan kehendak hati. So Eun merasa lidahnya kelu usai berkata demikian.
"Dia sudah keluar dari rumah sakit." Hana memberi tahu. Gerah melihat putrinya terus menyakiti diri. Toh, dokter bilang bahwa So Eun harus mengurangi beban pikiran, kan? Seperti inilah cara yang benar.